mengenang sebuah ‘nafiri’, ‘terompet’ yang mengabarkan suatu berita besar tentang pembinaan akhlak :)

… oke, saya tahu ini hampir h-2 jam UAS Tanaman dalam Lanskap dan saya belum belajar materi praktikum.

tapi, semenjak terjaga dari pukul setengah dua pagi tadi, sudah ada rindu yang menggelitik…

karena membaca:

Izma Naya Yuy.. Proposal ada yang bisa dibantu? #hhe #keluar jalur

Nurul Fajri Widyasari ‎@teh ndu: udah di print teh, teteh mau liat?

Linea Alfa Arina Eh ikutan oot. Alhamdulillah, udh di print? Asik ciecie^^

Linea Alfa Arina Bsk bawaaaaaa

Nurul Fajri Widyasari ah iya! untung diingetin bawa, wkwkwk. Ciecie apaan eneng? lu biasa jadi sekertaris ge weeee -____-

trus pas buka-buka fb lagi, menemukan…

Baru saja 3 tahun yang lalu saya merasakan manisnya kenangan menjadi Koordinator Acara An-Naba SMAN 1 Bogor, dan sekarang diminta menjadi salah satu pengisi acaranya (sekarang namanya OASE), persis seperti yang saya bayangkan 3 tahun yang lalu. Alhamdulillah. InsyaAllah akan saya berikan yang terbaik, untuk 22 Januari nanti. :) Jadi kangen sama tim super waktu itu, Cc: Niken Rarasati, Rido Ramadan, Taufik Mulya, Fitria Diah Suharjo, Firdha Hanifah. :’)
.
.
dan tibatiba… kangen. sungguh.
akan semua kesibukan kebaikan menyenangkan di tahun 2008, dengan label:
cc. Fahman HaqqiAN-NABA 2008: Karena Diriku Muslim Berharga
desain logo: Fahman Haqqi

.

.

ya, tentang banyak…

.

.

tentang tiga surat mandat bertandatangan Ketum dan Sekretaris 1 DKM 0708, yang –randomly– dipilih satu sehingga terpilihlah sang Kabid 3 OSIS Zeppelin sebagai Ketua Panitia, dan Ketua 2 KIR Semut sebagai Wakil Ketuanya…

tentang salah ngomong “Iya, Zka, dibantuin kok…” yang berujung dengan tidak bisa menolak ketika diamanahi jadi Sekretaris 1—dan beberapa saat kemudian menyadari kalau Bendahara 1-nya ‘terjebak’ dalam kasus yang kurang-lebih-sama-juga…

tentang Sekretaris 2—yang lagilagi—ikhwan, tapi alhamdulillahnya—lagilagi juga—dapat diandalkan :)

tentang koor acara yang ‘spesial’ dipilih bersama BPH…, dan anggota-anggotaya yang special request sang koor acara dan askoornya…

tentang syuro pertama BPH, jujur-jujuran mau bilang ke orang tua atau nggak tentang amanah yang harus dipegang sekarang…

tentang surat mandat dan undangan rabes pertama yang semua tandatangannya asli—pegel luarbiasa, haha…

tentang ‘dinasihati’ sama bapak koor acara di syuro koordinasi pertama acara-bph…

tentang terkejutnya karena tempat dan konsumsi berat yang dananya melebihi 50juta…

tentang dinasihati guru KTK karena cabut pelajaran beliau demidemi nangkring di TU ngeprint surat—yang entah kenapa nggak bener-bener, heu…

tentang jualan coklat bersama dengan tim danus…

tentang survey yang sampai malam, dengan setumpuk print-out peraturan yang harus dicap—dan mau nggak mau harus dibawa pulang karena cap cuma ada satu…

tentang syuro unik timsuper acara, di mana koornya duduk di koridor dan anggotanya hilirmudik laporan perkembangan jobdesk macemmacem disela-sela semua kesibukan mereka…

tentang paniknya mencari PJ, tentang surat khusus untuk pelatihan PJ akhwat, tentang airmata sang co-PJ yang tetap tidak menyerah melaksanakan tugasnya…

tentang logo yang unyu, baju panitia yang unyu juga walau dengerdenger sablonnya jadi mahal karena warnanya ada sembilan…

tentang buku panduan ter-oke yang pernah saya lihat, kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya…

tentang konsep outbond dengan permainan tank-manusia, tentang salah satu anggota timsuper acara yang punya usul: “Gimana kalau itu buat jalan antarpos aja?” –well, usul yang cukup tidak mungkin, sebenarnya…

tentang bertumpuktumpuk berkas, surat salah ketik, fotokopi proposal, dan berbagai lainnya yang memenuhi salahsatu sudut kamar…

tentang rundown A, AC, dan sebagainya…

tentang pembicara-pembicara…

tentang diskusi-diskusi kecil yang penuh makna…

tentang try-out SIMAK UI di hari ketiga acara, yang benar-benar mereduksi panitia…

tentang meng-gebruk-kan semua kerjaan ke Sekretaris 2 beberapa hari sebelum hari-H karena harus persiapan orientasi Jenesys…

tentang harus meninggalkan acara—dengan tidak rela—karena harus datang orientasi….

.

.

ya, ingatan saya mengenainya tidak lengkap, memang, karena pada hari-h-nya saya harus ikut orientasi persiapan JENESYS ke Jepang, selama dua minggu setelahnya.

.

.

tentang pikiran yang melayang-layang ke tempat lain selama orientasi…

tentang baju panitia yang karena tidak bisa dipakai bareng-bareng panitia yang lain, jadi dipakai pertama saat pergi ke DisneySea, Jepang :)…

tentang ketika akhirnya mendapat koneksi internet, membuka Yahoo!Messenger, disapa seorang teman, dan langsung bertanya, “Gimana AN-NABA-nya kemarin?”

tentang dana yang membuat pusing sampai akhir…

.

.

tentang kabar-kabar baik yang datang kemudian…

.

.

dan yang terpenting:

keyakinan bahwa suatu kebaikan yang diusahakan, akan menjadi pembuka pintu bagi kebaikan-kebaikan yang lain :)

.

.

terima kasih banyak, untuk salahsatu kenangan yang tetap membuat saya yakin untuk berdiri dan menjalani banyak hal sampai sekarang :)

.

.

.

.

nb.

1. sampai sekarang, kaus panitia AN-NABA 2008 tetep salahsatu baju favorit untuk dipakai :)

2. Mohon doa untuk OASE 2012 yaa ^^ dan bagi panitianya, HAMASAH! luruskan niat agar semua usaha kebaikannya dibalas oleh ALLAH dengan berlipatganda…

Mengemis Kasih

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati

Kepada manusia yang alpa jua buta

Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah

Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah

.

Semalam sudah sampai ke penghujungnya

Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu

Tak ingin lagi kuulangi kembali

Gerak dosa yang mengiris hati

.

Tuhan, dosaku menggunung tinggi

Tapi rahmat-Mu melangit luas

Harga selautan syukurku

Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi

.

Tuhan, walau taubat sering ku mungkin

Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi…

.

Bila selangkah ku rapat pada-Mu,

Seribu langkah Kau rapat padaku…

.

.

.

.

berkaca-kaca.

.

.

.

Rabb :’(

Generasi Rabbani, dalam Lantunan Syukur Pada-NYA

dalam rangka PEGAS 2011

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim/14:7)

Sepenggal ayat di atas tidaklah asing, bahkan jika seseorang mengingat pelajaran Agama Islam yang didapatnya semenjak duduk di bangku sekolah dasar, mungkin ayat ini—minimal artinya—telah ia hapal di luar kepala. Jika dihubungkan, maka seharusnya seiring hapal, konteks ayat ini pun telah diingat di luar kepala.

Mengenai apa?

Jawabannya adalah syukur. Ya, Allah SWT telah dengan jelas menegaskan dalam surat Ibrahim ayat 7 bahwa jika kita bersyukur, maka nikmat akan ditambahkan, dan jika kita ingkar, maka azab Allah SWT sangatlah pedih. Surat Ibrahim ayat 7 hanyalah satu dari keseluruhan kutipan mengenai syukur yang bertebaran di sepanjang Al-Qur’an. Bersama dengan kata syukur, bisanya terangkai kata ‘nikmat’, menandakan sebuah hal yang harus kita syukuri.

Secara terminologi, syukur berasal dari bahasa Arab, ‘syukron’ dengan arti terima kasih. Beberapa ulama lain berpendapat bahwa syukur berasal dari kata ‘syukara’ yang berarti membuka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, syukur memiliki dua makna, yaitu berterima kasih kepada Allah SWT, dan merasa lega atau senang. Adapun benang merah dari keseluruhan pengertian tersebut adalah bahwa syukur mengungkapkan atau membuka sebuah ucapan atau perasaan terima kasih atas kemudahan atau nikmat yang telah diberikan.

Kepada siapa harus bersyukur? Jawabannya tentulah jelas, insya Allah telah sama-sama terpahamkan bahwa tak ada yang lebih hebat dari Allah SWT dan segala KeMahaKuasaannya. Maka, tidaklah sepatutnya ada pihak yang lebih layak dihaturkan terima kasih daripada Sang Khaliq. Sebab jika Ia tidak berkehendak, maka bukan hanya tidak berjalan dengan baik, bahkan keseluruhan diri dan hidup kita pun tidak akan pernah ada. ‘Kun fayakun!’ Jadi, maka jadilah! Bukankah selama ini kita hidup dan berjalan sesuai dengan titah dan kehendak-Nya?

Metode untuk bersyukur pun tak terhingga banyaknya. Yang paling ringan adalah mengucapkan alhamdulillahirabbil’alamin atas semua nikmat dan kemudahan yang telah Allah SWT berikan dalam hidup kita. Selanjutnya, yang tidak boleh terlupa, tentunya dengan mengiringi ucapan syukur itu dengan perbuatan yang selaras. Mudah untuk dikatakan namun dapat menjadi sulit untuk dilakukan: melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Atau bahasa lebih ringkasnya adalah menjalani hidup sesuai dengan tuntunan-Nya.

Adalah sebuah fakta yang diakui bersama bahwa remaja, pemuda, keseluruhan generasi muda, adalah iron stock yang akan menentukan masa depan dunia. Kelakuan dan pandangan remaja dan pemuda saat ini akan mencerminkan bagaimana mentalnya kelak, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi saat mereka akan menjadi ‘pengendali’ dunia. Berhasil atau tidaknya dunia melalui krisis yang menimpanya kelak akan bergantung pada seteguh apa remaja dan pemuda saat ini dalam menjalankan kesehariannya.

Jika kita melebarkan sudut pandang dan melihat kenyataan pada ummat Islam saat ini, mungkin kita akan melihat sesuatu yang cukup miris. Mengapa? Karena fakta yang cukup umum terlihat adalah semakin banyaknya generasi muda yang jauh dari Islam. Generasi muda Islam mulai terlihat seperti sabda Rasulullah saw, yaitu seperti buih di lautan. Mereka banyak, namun mudah untuk dikalahkan, apalagi dihilangkan.

Apa yang menjadi penyebab hal tersebut? Jawabannya tak lain karena generasi muda saat ini cenderung memiliki keterkaitan batin yang kurang dengan dien-nya, dengan Sang Pencipta. Jangankan untuk selalu mengucapkan terima kasih pada Sang Khaliq atas segala kemurahannya, bahkan mereka belum mampu untuk mendayagunakan semua nikmat yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntutan Islam. Hal inilah yang menyebabkan generasi muda Islam lemah, dan menjadi sasaran ghowzul fikr oleh pihak-pihak yang senantiasa memusuhi dan ingin menghancurkan Islam.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kita tidak seharusnya menilai sebuah komunitas dengan memukul rata, karena di balik keboborokan akhlaq remaja dan pemuda saat ini, masih dapat ditemukan mereka yang berusaha teguh dalam menjalankan keyakinannya. Mereka yang memiliki ikatan kuat dengan Rabb-nya. Mereka yang merupakan secercah cahaya yang akan menerangi masa depan kelak, sang Generasi Rabbani.

Generasi Rabbani ini, seperti yang dikutip dalam Surat Al-Maidah ayat 54, merupakan kaum yang dicintai dan mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, keras terhadap orang kafir, berjihad di jalan Allah, tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Poin penting pertama yang dapati digarisbawahi adalah bahwa Generasi Rabbani ini dicintai oleh Allah, dan mereka pun mencintai-Nya.

Bagaimanakah menjadikan rasa cinta dalam kedua pihak (antara Sang Khaliq dan makhluk-Nya) ini menjadi sama kuat dan bergelora?

Jawabannya dapat kita kembalikan pada definisi bagaimana seharusnya manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah. Lebih dekat lagi, beribadah adalah kebutuhan sang makhluk, karena melalui ibadahnya lah ia dapat mengomunikasikan sebuah terima kasih yang tak berhingga pada Sang Khaliq. Maka dapat disimpulkan, Generasi Rabbani adalah mereka yang pandai bersyukur.

Syukur, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bermakna mengungkapkan rasa terima kasih tak berhingga pada sang Ilah, pada Allah. Lautan syukur, lantunan terima kasih inilah yang digelorakan oleh sang Generasi Rabbani dalam setiap detik kehidupannya, melalui setiap tarikan napasnya, dan mengejawantah dalam seluruh kesehariannya. Syukur itu terlihat dari bagaimana ia bersifat, bagaimana ia berkata, bagaimana ia berbuat. Syukur adalah landasan kontribusinya, menggerakkan hari-harinya. Maka ia tak lagi memandang sebuah amalan sebagai sesuatu yang remeh temeh, tidak lagi memahami kehidupan sebagai hanya sejumput nikmat yang sudah sepatutnya ia terima.

Maka seorang Generasi Rabbani, akan menjalani keseluruhan hidupnya dalam ketaatan tak berbilang hanya kepada-Nya, sebagai wujud rasa terima kasih tak berhingga atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

.

Generasi Rabbani, dalam lantunan syukur kepada-Nya. Dunia Islam tengah menanti kebangkitannya… dan dapatkah kita menjadi bagian darinya?