engkaukah itu, Sang Ujian?
tersenyum, seperti bidadari yang menunggu di balik sinar mentari pagi pada setiap hari yang baru
.
titik air matamu ketika kau diutus pada kami:
“..tapi, aku hanya utusan..”
katamu menangis ketika semua benci padamu dan campakkan cangkir dari tanganmu.
.
takdirmu perih.
senyummu pedih.
tapi engkau, Sang Kekasih yang Luka, tak hirau air matamu.
tanganmu tetap melambai, santun memanggil
.
“ayo, kemari.. minumlah! jangan ragu.
ini, kubawakan untukmu secangkir iman.
Dari Tuhan.”

.
.
.
–dari sebuah sumber