Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Ah, hari sudah semakin larut, dan rasanya mataku pun semakin berat. Tapi… kabar bahwa gerhana akan terjadi dua setengah jam lagi cukup membuatku bersemangat untuk tetap terjaga.

Aku menatap layar laptopku… lalu beralih pada tumpukan kertas slide di sebelah kananku. Tak kuasa menahan kuapan.

Meneguk Coolin-ku yang mulai mendingin, akhirnya aku mengambil slide terdekat dan mulai membaca. Yunani… Kuil… Amphi… theatre…

Dan tanpa kusadari, kedua mataku mulai mengatup.

Tenggelam dalam gelap…

 .

 —

 …langit biru, awan putih

 Terbentang indah… lukisan Yang Kuasa…

 Ku melayang, di udara

 Terbang dengan balon udaraku…

 

 .

Aku tersentak bangun, berjengit saat merasakan sinar matahari menerpaku. Setelah sejenak mengerjap-ngerjapkan mata, pandanganku pun mulai terbiasa. Berganti dengan kebingungan yang nyata.

Ini… di mana?

Sebuah situasi yang asing! Aku terbaring di atas lantai batu besar, di tengah sebuah ruangan yang penuh dengan tiang-tiang tinggi berulir. Tak pernah kulihat bangunan ini sebelumnya..

Perlahan aku bangkit dan mulai mengedarkan pandangan ke sekitar. Bangunan ini berbentuk persegi panjang, dan materialnya dari batu-batu besar yang terpahat dengan apik. Ketika berjalan ke arah luar, kusadari bangunan ini dikelilingi oleh tiang-tiang tinggi yang cukup rapat… Secara keseluruhan, bangunan ini tinggi sekali! Aku berasa mengerdil.

Ketika tiba di depannya, barulah aku ternganga. Ternyata… di depanku berdiri dengan megah sebuah kuil yang konon hanya bisa kulihat dalam foto… yang konon memakan waktu puluhan tahun pembangunannya, dan merupakan lambang kemegahan pada zamannya…

Kuil Parthenon!

Aku terperanjat, lalu berdecak kagum. Sepertinya entah bagaimana Sang Waktu telah memutarbalikkan jam pasirnya sehingga aku kembali ke zaman 3000 SM, ketika awal masa Arsitektur Klasik di Yunani

Indahnya… lihatlah betapa jelasnya kolom dan entablature berorde Dorik tersebut! Tanpa base, berdiri dengan megah… dan ternyata memang benar! Sebagian kolomnya pun berorde Ionik… sangat jelas bentuk shell pada capital kolomnya, dengan entablature yang berhias gaya dentils

Belum puas mataku menjelajah, kurasakan sebuah tepukan di pundak.

“Hey, Nak,” sapa sebuah suara berat membuatku menoleh, dan mataku bertumbukan dengan raut wajah ramah seorang lelaki tua. Kutaksir, usianya sekitar 50 tahun-an. “Kamu pasti peserta tur, kan? Rombongan sudah hendak berangkat, ayo cepat!” ujarnya.

Masih agak bingung, aku mengikuti langkah Pak Tua itu kembali ke rombongan, dan kendaraan kami pun mulai melaju. Merapikan jilbabku yang tertiup angin, mataku tak bisa lepas dari pemandangan-pemandangan yang sangat menakjubkan.

Kuil Apollo… lihatlah motif daun achantus pada capital kolom-nya, cantik sekali… dan Amphitheatre yang megah di lereng bukit…

Tiba-tiba, angin kencang berhembus. Seluruh peserta tur merapatkan pakaiannya. Aku memejamkan mata, merasakan angin menampar pipiku, dan seolah aku tersedot putaran waktu…

 —

 .

Kembali aku mengerjapkan mata. Sekarang aku di mana, ya? Menoleh ke kanan dan kiri, aku menyadari sekitarku bukan lagi peserta tur, melainkan aku tengah duduk di seberang sebuah gedung besar yang seperti Kuil Yunani… namun terlihat bulatan kubah di tengahnya.

Apakah… otakku dengan cepat berusaha memutarbalikkan teori. Benar! Ini adalah Kuil Pantheon! Bagaimana mungkin aku tidak mengenali ciri arsitektur Yunani yang dipadu dengan dome itu? Cantiknya…

Tanpa kusadari, aku melangkah mundur-mundur untuk melihat lebih jelas hingga terasa menabrak seseorang. Aku langsung berbalik dengan tergesa dan menyerukan maaf. Sebuah tawa merdu membuatku menegakkan kepala, dan mataku beradu pandangan dengan mata cokelat seorang gadis berambut ombak.

“Tidak apa-apa, aku juga nggak merhatiin kalau kamu ada di situ, maaf yaa…” ujarnya sambil tersenyum manis.

Mau tidak mau, aku ikut melengkungkan bibir.

“Eh, ini di Roma, ya?” ucapku kemudian. Gadis itu menganggukkan kepalanya, terlihat agak sedikit bingung.

“Memang kamu bukan berasal dari sini, ya?” tanyanya balik. “Hm… pantas rasanya aku tidak pernah melihatmu…”

Aku mengedikkan kepala. “Yah, aku terlempar dalam kuasa-NYA mengendalikan waktu hingga sampai di sini… Aku berasal dari sebuah negeri yang jauuh sekali…” ucapku menggantung. Lagi-lagi ia tertawa renyah mendengar jawabanku.

“Baiklah… kami biasa menerima tamu, kok,” senyumnya memperlihatkan sederetan gigi putih yang tertata rapi. “Selamat datang di Roma, semoga betah ya…” sambungnya sejurus kemudian. Kulihat, kedua tangannya mengapit lembar-lembar seperti perkamen dalam film Harry Potter, dan perkamen tersebut tergurat sketsa-sketsa dari tinta hitam.

“Kamu senang menggambar?” tanyaku. Ia memeluk tumpukan perkamennya yang mengangguk malu. Rambut ikalnya turut bergerak seiring kepalanya yang mengangguk-angguk. “Boleh nggak aku lihat?” lanjutku memberanikan diri.

Gadis itu –yang kemudian kusadari aku lupa menanyakan namanya—, mengangguk dan mengajakku duduk. Ia menunjukkan sketsa sebuah gedung megah yang segera kukenali. “Ini.. Basilika? Mmm… gedung  pengadilan, ya?” tanyaku. Ia mengangguk. “Di kanan kiri-nya ada ceruk gitu buat tempat duduknya pejabat pengadilan…” lanjutku.

“Wah, kamu tahu banyak, ya?” ujarnya heran. Aku memberikannya sebuah cengiran pasrah. Apa boleh buat, rasanya dari kemarin mainannya beginian melulu dah…

Kemudian ia beranjak ke sketsa selanjutnya. “Yang ini Thermae,” ucapnya menerangkan. “Thermae ini mewah banget loh… merupakan tempat pemandian umum air panas. Yang aku gambar ini Therme Caracolla, bentuknya simetris. Cantik banget, ya?” lanjutnya sambil tersenyum. Aku mengangguk-angguk.

Kemudian ia beranjak ke sketsa yang paling besar, membuka lipatan perkamennya. Aku terkagum-kagum melihat goresan tinta yang menarik struktur sebuah konstruksi pelengkung yang sangat besar dan megah. Terlihat detil trap-trap kursi penonton…

Amphitheatre…” celetukku, menahan napas kagum. Gadis di sebelahku menoleh dan tersenyum. Semburat merah kembali muncul di pipinya.

“Mm… lusa nanti… aku akan menari di sana…” ucapnya malu-malu. “Maukah…”

…namun belum sempat kudengar lanjutannya, WHUSSSSH! Kembali angin berhembus kencang. Gadis itu menjerit kecil saat rambutnya, pakaiannya, dan kertasnya berkibar-kibar. Ia mengarahkan kedua tangannya menutupi wajahnya untuk menghindari debu yang beterbangan.

Sekali lagi, aku merasa tertarik pusaran waktu…

.

Seiring pusaran angin yang mereda, kusadari kembali sekelilingku berganti.  Kali ini, baru menoleh ke atas pun, aku berdecak kagum akan ketinggian atap bangunan tempatku berada, sangat… sangat tinggi dan dilengkapi oleh flying buttress, kolom-kolom melayang… nave arcade, nave tifarium, dan nave clerestory yang indah bukan buatan…

Selamat datang… bisikku pada diriku sendiri. Di Arsitektur Gothic, puncak dari kemegahan Arsitektur Klasik.

Perlahan aku berdiri dan mulai melangkah. Kapel tempatku ‘terdampar’ itu kosong… sehingga derap kakiku memantul-mantul hingga naik ke atap yang tinggi. Tanpa sadar aku begidik sendiri. Beginilah Gothic, lambang kemewahan dan keindahan…

Bulu romaku berdiri. Aku tidak suka di sini. Indah, agung, memang. Tapi… dingin…

Kupercepat langkahku, dan gema derapnya pun semakin cepat. Sebelum aku tiba di pintu, akhirnya kuputuskan untuk berbalik, dan aku melihatnya.

Jendela mawar. Berdiri dengan sangat anggun dalam mosaik warna memabukkan di ujung dinding sana… dan dibawahnya terdapat tulisan berukir. Kapel Reims.

Rasanya tak bisa lepas pandanganku dari keindahan jendela mawar itu, namun suara gema langkah kaki lain mengejutkanku. Ada orang lain!

Aku segera berbalik dan membuka pintu keluar…

.

…dan pemandangan di luar mengejutkanku.

Di depanku terbentang tanah yang luas… dengan rumput kehijauan yang terpangkas rapi dan sebidang jalan yang membaginya menjadi dua sama rata. Dari kejauhan, kulihat sebuah bangunan besar berwarna cokelat, dengan banyak jendela-jendela dan tekstur berbeda di setiap lantainya.

Mungkinkah… Palazzo Pitti, Florence? Tanyaku pada diriku sendiri.

Saat berbalik, aku melihat bahwa Kapel Reims sudah menghilang, berganti pandangan luas tak terbatas ke lahan hijau di belakang. Sebuah pemahaman langsung merasuk di otakku.

Ya, Renaissance. Kelahiran kembali… pencerahan setelah sekian lama, akhirnya tidak lagi hidup dalam keterpasungan sebuah benteng…

Kutajamkan pandangan, dan kulihat jelas. Ciri horizontal itu… alur-alur yang berderet melebar itu… dan kesimetrisan yang sederhana itu… Hatiku langsung menghangat pada suasananya, tidak dingin beku gemetaran seperti saat sebelumnya.

Aku ingin ke sana! Tekadku dalam hati. Maka aku mulai berlari melintasi jalan panjang, namun bangunan itu tidak kunjung mendekat juga. Luas sekali…. Napasku mulai tersengal, namun aku menolak berhenti.

Aku terus mengayunkan langkah tanpa menyadari sebongkah batu berada di jalurku. Dan diiringi sebuah bunyi yang keras, aku terantuk dan terjerembab…

 —

.

Aku terbangun kaget. Di depanku masih layar laptopku, kini menghitam namun berkedip-kedip pertanda ia masih menyala. Dan di tangan kananku masih tergenggam slide, terbuka acak-acakan dan telah sampai pada gambar hitam-putih dari masa Renaissance: Palazzo Pitti di Kota Florence.

Pukul 03.45. Di luar sana, rembulan malu-malu tertutup semburat merah, ia tengah sepenuhnya bersembunyi dalam umbra matahari.

Menghela napas, aku berusaha mengingat-ingat mimpiku barusan.

Tersenyum sendiri.

Lalu kembali meraih slide-ku ketika menyadari…

.

.

Aku masih harus belajar.

.

.

.

Oh sungguh senangnya lintasi bumi

Oh indahnya dunia…

.

.

.

.

((ditulis dalam rangka mencari cara menarik mengulang bab 1 PSA. Maaf kalau aneh, dan kalau ada informasi yang salah, mohon dibenerin yaa… pure mengaduk-aduk isi slide dengan imajinasi pribadi :p. Pengennya sih buat untuk semua bab… tapi capek, euy. Jadi yang ini aja yaa.

oh, dan lagu ‘Balon Udaraku’ itu punyanya Sherina.

Happy UAS, tetap jujur, dan semoga sukses :))