Saya memiliki prinsip. Satu prinsip inti, dengan beberapa kesepakatan tentang apa-yang-boleh-dan-apa-yang-tidak-boleh-dilakukan yang menyertainya.

Salahsatunya sederhana, namun sudah berusaha saya terapkan semenjak beberapa tahun terakhir.

.

Tapi minggu lalu, tepatnya selasa lalu, saya membuat pengecualian atas dasar keburuburuan yang sebenarnya tidak sedemikian berdasar.  Masuk akal, tapi tidak melakukan pelonggaran pun sebenarnya tidak apa-apa.

Sederhana: tidak mau terlambat masuk kelas setelah selesai praktikum di Fakultas Peternakan dan harus ke Fakultas Pertanian saat itu juga.

Maka saya melakukan itu–pengecualian prinsip (apakah ini bahasa halus dari ‘pelanggaran prinsip’?) dan di tengah keterburuburuan,

PRAK.

HP saya jatuh. Tidak peduli, saya cuma mengambil HP saya dan melanjutkan perjalanan.

.

Singkat cerita: Saya tidak terlambat. Bahkan sebenarnya tanpa mengecualikan pun, tetap tidak terlambat.

Masalah baru tersadari saat membuka HP: 7/8 dari layarnya rusak. Total.

.

Sudah satu minggu berlalu dengan vonis dari tukang servis HP di Bara:

HP saya tidak bisa ditemukan LCD yang cocok untuk menggantinya.

.

.

Setiap Selasa saya akan selalu terburu waktu.

Tapi satu yang saya ingat, (dan tolong ingatkan saya) bahwa:

.

Saya tidak mau mengecualikan prinsip lagi, kecuali kondisi memang sangatamantidakmemungkinkansamasekali.