.

.

.

tentang gadis dan pena hatinya

: pada suatu masa.

.

.

ia melangkah ke dalam ruang hatinya, terdiam sejenak, lalu beranjak

ke sudut

memungut sebuah pena.

berdebu.

mengusapnya perlahan.

.

.

hai, pena. ucapnya.

lama nian kau tak menari di lembar-lembarku, padahal ceritaku sudah terlalu banyak untuk menunggu.

.

.

si pena cuma tersenyum lemah

terbatuk-batuk, karena debu yang membalut.

.

.

apa kabarmu, gadis?

tanya pena.

.

.

gadis mengedikkan kepala

entahlah.

semuanya terlalu campuraduk dan tidakbisa kumengerti. aku bingung harus memilah semua goresan warna yang hendak disapu,

mana yang kuizinkan terlukis di dinding kanvas hatiku ini?

kau lihat

ia begitu abstrak sekarang. ada merah di sini, sejumput kuning di situ, sepercik biru di ujung, setetes hijau..

.

.

ah, ucap pena

begitu.

.

lantas, apa maumu sekarang?

.

.

sang gadis terdiam sejenak.

.

menggunakanmu.

biar aku bisa pilih warnaku

.

.

pena tersenyum mengerti.

silakan kalau begitu

tintaku akan selalu ada untuk kau gunakan,

tapi gunakanlah untuk kebaikan!

.

dan jangan lupa,

berceritalah pada Tuhanmu,

luahkan semua rasamu,

.

karena DIA lah sang MahaTahu.

.

.

.

sang gadis mengusap pena dengan penuh kasih sayang

lalu meraih selembar kertas

.

dan mulai menulis lagi

.

.

.

.

.

‘ya, pena. aku takkan lupa.

semoga aku tidak pernah lupa.’