Copas dari note seorang teman di facebook. Sangat.. em.. membuat berpikir ulang.

Bertahun-tahun lamanya, seorang hamba meminta kepada Tuhan seorang pasangan. Seseorang yang mampu menjadi pendamping untuk menjalani fase-fase lanjut dari perjalanan hidupnya. Ia tak hanya meminta seorang pasangan, bahkan ia mendeskripsikan pula seperti apa pasangan yang ia inginkan itu.

Pasangan itu haruslah seorang yang baik, lemah lembut, pemaaf, penuh damai, baik hati, pengertian, menyenangkan, hangat, cerdas, humoris, dan dapat dipercaya.

Suatu malam di dalam do’a, ia merasa seolah-olah mendengar Tuhan sedang berbicara di hatinya. “Wahai hambu-Ku yang sedang berdoa, Aku tidak dapat memberikan apa yang kau inginkan.”

Dengan sedikit kecewa karena tidak ditanggapi permintaanya, ia pun bertanya, “Kenapa, Ya Tuhan-ku?”

Tuhan menanggapi, “Karena Aku adalah Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Benar, maka semua yang Aku lakukan adalah adil dan benar.”

Ia bertanya lagi, “Wahai Tuhan-ku, aku tidak bisa mengerti mengapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku minta dari-Mu….”

Tuhan pun menjawab, “Akan Aku jelaskan …..”

“Adalah tidak adil dan tidak benar bagi-Ku untuk mengabulkan permintaanmu karena Aku tidak dapat memberikanmu sesuatu yang bukan dirimu sendiri.”

“Adalah tidak adil dan tidak benar bagi-Ku mendatangkan seseorang yang penuh cinta, sedangkan hatimu masih sering dipenuhi oleh kebencian.”

“Adalah tidak adil dan tidak benar bagi-Ku mempertemukanmu dengan seseorang yang sensitif sementara engkau sendiri masih tidak peduli terhadap sesama.”

“Adalah tidak adil dan tidak benar bagi-Ku memberikanmu seorang jodoh yang baik hati, sedangkan engkau sendiri masih bersikap kejam.”

“Adalah tidak adil dan tidak benar bagi-Ku mengikat hatimu dengan seseorang yang pemaaf sementara engkau sendiri masih sering menyimpan dendam.”

“Adalah tidak adil dan tidak benar bagi-Ku meridhai hubunganmu dengan seseorang yang jujur, sedangkan engkau sendiri masih dipenuhi tipu muslihat.”

Tuhan pun berkata lagi padanya, “Daripada menghabiskan waktu untuk mencari seseorang yang engkau inginkan ke segala penjuru serta berhaap Aku memberikannya, lebih baik manfaatkanlah waktu yang tersisa ini untuk membuat dirimu sendiri menjadi seperti yang engkau cari. Aku tidak akan dapat memberikan kepadamu sesuatu yang bukan dirimu sendiri. Biarkan hati, jiwa, dan rohanimu yang membentuk dirimu sendiri agar segala sesuatunya sesuai dengan keinginanmu.”

Di akhir do’anya, Tuhan menjelaskan, “Apabila suatu saat nanti engkau mampu menyatukan perhatian, rasa sayang, rasa maaf, rasa kasih, kepekaan dan tanggung jawab yang membentuk satu kesatuan, maka engkau akan mendapatkan seseorang yang engkau inginkan yang memang Aku sediakan untukmu. Engkau pun akan mampu berkata seperti berkatanya Adam saat Hawa Ku-ciptakan untuk menemaninya, “Ia adalah tulang dari tulang rusukku dan daging dari daging tubuhku.”

“Engkau akan melihat pribadimu di dalam dirinya, pribadinya di dalam dirimu. Kalian berduapun akan menjadi satu rangkaian dalam jalinan yang Ku-ridhai saat bersama-sama berlayar menuju pelabuhan pelabuhan abadi.”

————————–

——————————————————————————

Ya, begitulah, silakan semua orang untuk bermimpi, tapi yang membedakan mimpi dengan visioner adalah usaha menuju mimpi itu sendiri.

>.< aw.
benar sekali…
daripada berharap, lebih baik berusaha memperbaiki diri sendiri, kan?
sama-sama introspeksi ya…