Lari Dari Realita
.
by Sherina
.
.
Kau amati dirimu dari cermin
“Ya hari ini ku sempurna.”
bertemu manusia-manusia
yang kau pikir juga sempurna
.
kau takkan pernah tahu nasib manusia sekitarmu
karena kau s’lama ini hanya melihat jiwamu
hidup sempurnamu selalu berdiri yakin
di barisan terdepan pikiranmu
.
Kau terus berlari dari realita
mendorong orang tak bersalah
Kau takkan bisa merubah apapun
Karena tak ada hidup sempurna
.
kau tidak pernah menyadari
dunia dan keterbatasannya
Kau teruskan menyebarkan anganmu
Kau pikir s’lalu sempurna
.
kau takkan pernah tahu nasib manusia sekitarmu
karena kau s’lama ini hanya melihat jiwamu
hidup sempurnamu selalu berdiri yakin
di barisan terdepan pikiranmu
.
.

agak tergelitik ketika mendengar teks lagu di atas…
entahlah, saya sedang bingung. merasa tersindir. hm…

teman, apa kabar?

maafkan, mohon maafkan, karena saya merasa saya tidak ada untuk kalian. saya merasa saya hanya sibuk dengan diri saya sendiri… tapi pada saat yang sama saya memaksa kalian untuk selalu baik-baik saja.

*jadi bingung saya ini lagi nulis apa*

hmm…
kewajiban setiap muslim ya, untuk menjaga ukhuwah?
untuk saling tolong menolong dalam kebaikan, untuk saling mengingatkan…

… maaf.
maaf saya belum bisa jadi saudara yang baik. maaf, hingga saat ini mungkin kepedulian saya hanya sebatas kata-kata saja tanpa tindakan yang nyata…
maaf untuk tidak mengecek,
maaf untuk lebih memilih tidak mau tahu apa-apa…

saya bingung. saya bingung.

Faghfirlii… Rabbi… begitu banyak yang terlewatkan. saya takut saya sudah melonggarkan ikatan itu sehingga sekarang mereka terburai. dan meninggalkan saya sendiri yang berusaha memunguti serpihan-sepihan itu sambil mengutuki diri sendiri–karena tidak bisa menjaga. karena sudah melepasnya. karena sudah terlampau percaya sampai jadi menutup mata.

dan sekarang… saya berada pada satu titik di mana saya masygul. saya tidak tahu saya harus bagaimana. saya ingin menyapa kalian, mengetahui, tapi ada satu tembok rasa bersalah yang menghalangi. saya takut ketika sadar mungkin tanpa sadar saya pergi terlalu lama–atau bahkan tidak pernah ada? tidak pernah ada kecuali sesumbar saja.

Astaghfirullah.

sayang, tolong beritahu saya, sekiranya apa yang bisa saya lakukan?
karena saat saya bertanya pun, kamu enggan menjawabnya.
entah keengganan itu karena dirimu, entah asing apa yang sudah merasuk, entah faktor x lainnya, tapi saya jadi merasa berjarak.

sampai sekarang saya masih berharap, mungkin hanya saya saja yang berpikir terlalu jauh. mungkin ini semua hanya paranoia diri saya sendiri.
.
entahlah.

.
tolong jangan tinggalkan saya sendiri dengan semua ketidakmengertian ini. mungkin saya cuma berlebihan–ya saya harap. saya sangat harap–, tapi tolong setidaknya jawab. simpel saja.
.
.
sekalipun kamu tidak baik-baik saja.. tolong katakan.. tolong beri saya ruang untuk peduli lagi…
.
.

((maaf kalau tidak dimengerti, hanya sedang me-rambling karena lagi pusing memikirkan banyak hal.. duh…))

tapi aku benar-benar menunggu jawaban…