“Seoanggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua, atau sebagiannya…”

–Ustadz Rahmat Abdullah

—————————-

Sang Murabbi: Mencari Spirit yang Hilang

—————————-

Akhirnya nonton film keren ini juga… heu, termasuk telat nggak sih? Sebenernya film ini udah ada di rumah seenggaknya dari bulan agustus, cuma baru sekarang aku sempet (baca:menyempatkan) diri buat nonton.

Dan ternyata…

Subhanallah banget filmnya… huhu…
Bener-bener dunia orang baik, ya? Saya senyum… senyum… dan senyum sepanjang nonton filmnya. Tenaang… banget. Takjub, banget. Kagum, banget. Dan nangis pas bagian terakhirnya, pas Ustadz Rahmatnya meninggal…

Eh, udah pada tahu belum, sebenernya Sang Murabbi itu film tentang apa?

Film yang diproduksi oleh Majelis Budaya Rakyat ini mengangkat sekelumit sejarah hidup seorang Pejuang Dakwah yang bergelar Syaikhut Tarbiyah, yaitu Ustadz Rahmat Abdullah (1953-2005). Dengan dibintangi oleh Sutan Rainaldy (sebagai Ustadz Rahmat), film ini dengan cantik mengangkat liku-liku perjalanan Sang Murabbi, Ustadz Rahmat, dalam tapak-tapaknya mengarungi media dakwah. Mulau dari awal, awal sekali ketika beliau masih muda, letika liqo-liqo pertamanya yang masih sembunyi-sembunyi, hingga masa PK, ketika seusai Pemilu beliau menjadi anggota DPR dan memikirkan negara, hingga akhir hayat beliau di tahun 2005.

Tidak terlalu panjang, film ini berdurasi kurang lebih 1 jam 30 menit-an. Namun film ini bermakna banget… Jujur awalnya saya berniat mencatat kata-kata bagus yang ada di film ini, tapi baru setengah jalan aja udah menyerah. Hehe, soalnya sepanjang film itu isinya kata-kata bagus semua…

Ada banyak hal yang bisa dipetik dari film ini… Banyak banget, malah. Huhu…
Membantu kita mencari kembali spirit dakwah yang mungkin saat ini tengah melemah…

Beberapa hal yang saya ingat, (banyak banget hal bagus yang bisa dilihat di film ini, jadinya ditulis sebagian saja, ya?)

1. “Memang iya, Nabi juga melakukan kesalahan. Karena itu beliau ditegur Allah di Surat ‘Abasa. Tapi beliau itu dipercaya oleh Allah, masak kita sebagai ummatnya malah tidak percaya?” (sebenernya nggak gini kata-katanya, cuma maknanya ya itulah)
2. Kepatuhan Ustadz Rahmat, beliau yang tidak jadi pergi ke Mesir karena sang Ibunda (dibintangi Aty Cancer) tidak mengizinkan. Catat! Ridha Allah itu ridha orang tua kita…
3. Dakwah beliau yang tidak hanya ke luar, beliau juga tidak melupakan keluarga sendiri… contoh pada Nawi, adik beliau (dibintangi Jerrio Jeffry)
4. Pergaulan beliau luas! Dan beliau juga ramah, peduli pada masyarakat..
5.. Pentingnya tabayun dalam segala hal. Ketika kelompok liqo beliau dituduh ‘sesat’, beliau tidak langsung marah-marah atau bagaimana, tetapi dengan tenang melakukan klarifikasi ke pihak yang bersangkutan, sehingga masalah bisa selesai tanpa jatuh korban..
6. Konsistensi beliau berdakwah, mulai dari ketika liqo saja masih harus sembunyi-sembunyi, hingga meluas dan beliau menjadi anggota DPR, namun beliau tetap langgeng dalam dakwahnya.
7. Kepatuhan dan prasangka baik dalam segala hal, bahkan dalam berumah tangga. Di sini saya kagum dengan sosok istri beliau (dibintangi Astrie Ivo), yang qanaah banget…
8. Pentingnya semangat dalam berdakwah! Dan pentingnya konsistensi dari liqo itu sendiri untuk mencharger keimanan kita… (inget tokoh Rahmat yang dibintangi sama Faris ‘J-Vo’ dan Mahfudz yang dibintangi personel Izzis (saya lupa namanya.. afwan..))
9. Pasti ada tantangan dalam berdakwah ini… dan kunci untuk menghadapinya kembali ke intinya…
10. heu… masih banyak banget deh pokoknya…

Buat yang belum nonton, yuk?
Insya Allah film ini bermakna banget deh,, nggak akan rugi nontonnya…
Sayang cuma bisa ngerating lima, nggak bisa lebih =D

“Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negeri kau sambangi
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu…”
(Izzatul Islam — Sang Murabbi)

——

SANG MURABBI: Mencari Spirit yang Hilang
Sutan Reinaldy . Astrie Ivo . Aty Cancer . Neno Warisman . Jerrio Jeffry . Benny Riswandi
sutradara Zul Ardhia . eksekutif produser M. Yulius
produser H. M. Ridwan & Mahfudz Abdurrahman
peroduksi Majelis Budaya Rakyat
2008

——