“Mendayu suara meniti angkasa
Alunan takbir mengulit pagi
Insan tersenyum tanda gembira
Lebaran mulia menjelma lagi, hari ini…

Di hari lebaran mulia ini
Jangan pula membuat dosa
Begitulah hakikatnya hari raya
Bergembira tanpa melupakanNya, ALLAH yang Esa…

Indah suasana dalam senyuman
Seluruh alam turut raikan
Mengucapkan syukur pada Tuhan atas nikmat yang datang
LimpahanNya…

Ikhlaskan hati, mohon kemaafan,
Leburlah dosa di tapak tangan
Lupakan segala silap dan salah…
Insan bersatu membina ummat…”


—lupa judulnya, [ada yang tahu?] voc. raihan dkk,,

————–

Rabbi?
Satu lagi RamadhanMu telah pergi…
dan satu lagi SyawalMu datang menanti…
Hari Kemenangan itu,
saat ia disambut dengan sukacita,
saat asmaMu membubung tinggi mengudara
di dunia…

Tapi Rabbi,
ada getar di sini…
ada ketakutan,
takut, aku menjadi orang yang merugi

((–atau memang sudah termasuk begitu?–))

Aku tidak ingin berburuk sangka padaMu…
namun aku tidak cukup punya keyakinan akan amalanku…
Sekalipun di Bulan Sucimu, namun kurasa
Shalatku masih tak siaga
Tilawahku masih seadanya
Amalan sunnahku masih nyaris tiada

… Lantas Rabbi,
pantaskah aku mengharap,
ampunanMu?

Bukannya kuragukan MahaPengasih dan MahaPenyayangMu..
namun aku merasa terlalu tidak berharga
tidak pantas rasanya memohon padaMu…

tapi Rabbi,
jika tidak padaMu,
ke mana harus kularikan dukaku?

….
Ya Allah,
tolong maafkan aku,
jika tak pantas dengan egoisku ini aku meminta,
tapi sungguh aku membutuhkanMu…

Faghfirlii, Rabbi…

Ya Allah,
maafkan, ampuni, jika aku lancang mengharap..
Namun aku ingin, Ya Allah, ingin bertemu RamadhanMu lagi…
agar bisa lebih belajar memperbaiki diri
lagi,
lagi,
dan lagi…

————————-

Eid Mubarak,
taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum,
minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin

gomenasai for all mistakes…

————————

ya Allah… mohon izinkan jumpa RamadhanMu lagi…