Judul : Wahsyi Si Pembunuh Hamzah
Penulis : Najib Kailani
Penerbit : PT Syaamil Cipta Media
Tahun Terbit : 2004
Cetakan ke : 1
Ketebalan Buku : 443 halaman
Dimensi Buku : 18 cm x 11 cm x 2 cm
Nomor ISBN : 979-3729-00-1
Harga Buku :

“Kemerdekaan itu harus direbut karena dia tak akan diberikan oleh siapa pun. Kemerdekaan hanya dapat ditebus dengan tetesan darah, darah siapa saja, darah orang-orang baik atau darah para penjahat.”

Itulah ungkapan Wahsyi bin Harb, seorang budak berkulit hitam yang mencari kemerdekaan. Dengan kelihaiannya menggunakan tombak, ia bunuh Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Uhud untuk menebus kemerdekaan dan kebebasan yang dia dambakan.

Sosok Wahsyi bin Harb, seperti siluet seorang lelaki dengan tombaknya yang digambarkan di sampul buku ini, merupakan seorang pemuda Arab yang menjadi budak Jubair bin Mu’thim, salah seorang petinggi Kaum Quraisy. Wahsyi sangat ingin menggapai kemerdekaan, sangat ingin berdiri dengan kedua kakinya sendiri, sehingga ia rela melakukan apapun untuk lepas dari belenggu perbudakan dan meraih kebebasan seutuhnya.

Ketika datang tawaran itu–sebuah kemerdekaan yang ditebus melalui sebuah pembunuhan, maka Wahsyi tidak menyia-nyiakannya. Jiwanya sudah terlalu merindu aura kebebasan, maka tanpa ragu ia hunjamkan tombak kesayangannya tersebut ke dada Hamzah, paman Rasulullah saw yang tercinta.

Namun, apakah Wahsyi dapat mencapai harapannya setelah dia berhasil membunuh paman Rasulullah tersebut? Akankah dia mendapatkan kebebasan hakiki, seperti apa yang telah ia dambakan sepanjang hidupnya? Apakah kebahagiaan itu dapat ia raih?

Melalui jalan yang berliku-liku dan pergolakan batin, dengan lihai Najib Kailani membawa pembaca menyelami seluk-beluk pemikiran dan kehidupan Wahsyi bin Harb dalam perjuangannya mencari kebebasan, kebahagiaan, dan ketentraman yang sesungguhnya.

“Telah kutebus kemerdekaanku dengan membunuh Paman Muhammad, namun mengapa aku masih merasa sebagai seorang budak? Di manakah kebebasan hakiki itu?”

Membaca epik ini, benar-benar menyelami kisi hati seorang Wahsyi. Menyelami kegetirannya, kepahitannya, dan keputusasaannya dalam menangkap kebebasan yang sesungguhnya. Ketika ia terluntang-lantung karena akalnya menolak untuk bekerja sama dengan batinnya yang telah cenderung dalam kebenaran, namun ia takut untuk mengakui cahaya Ilahi yang telah merasuk. Ketika ia berhasil berjumpa dengan Rasulullah setelah melalui pelarian-pelarian panjang yang melelahkan, ketika batinnya ingin memeluk beliau, memohon maaf yang sejadi-jadinya atas kesalahan yang ia lakukan, ketika ia terhempas oleh kalimat-kalimat yang diucapkan oleh kekasih Allah tersebut…

…Ketika ia tidak juga menyerah, hingga akhirnya ia menemukan muara dari pencariannya: sebuah kebebasan yang hakiki…

Gaya bahasa penulis yang cenderung nyastra, dan sekalipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, namun melalui epik ini, penulis sukses menggambarkan kisi-kisi hati sang pembunuh Hamzah tersebut, menggambarkan kesusahan, kepahitan, dan kegetiran Wahsyi dalam upayanya menuju kebebasan. Temukan kisah sejati mengenai Wahsyi bin Harb, seorang budak yang mencari kemerdekaan hakiki ini dalam epik ‘Wahsyi, Si Pembunuh Hamzah’ karya sang Sastrawan Pergerakan dari Mesir, Najib Kailani.