Tanggal 1 Agustus kemarin adalah hari bersejarah untuk aa-tetehku di angkatan BajigurPlinPlan dan mereka semua yang seangkatan… yah, intinya buat angkatan 2008, deh. Mengapa? Tanggal 1 Agustus kemarin adalah pengumuman hasil SNMPTN (senampetani? er… Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, bukan?), dan melihat hasilnya, sepertinya cukup banyak aa-tetehku yang mendapatkan bangku di PTN yang diinginkan, menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu masuk melalui jalur PMDK atau ujian saringan atau apapun itu…

Yang lucu, aku diberitahu beberapa kakak kelasku kalau diantara daftar nama yang lulus SNMPTN itu tertulis ‘Miftahul Jannah’. Lha? Memangnya aku sudah ikut SNMPTN? Belum kok, belum, kan tahun ini aku baru naik ke kelas XII, jadi pastilah yang tertulis itu adalah seorang Miftahul Jannah yang lain. Hehe, untuk seorang ukhti yang bernama sama di sana, congratulation, ya… semoga kelulusan ini benar-benar jalan yang terbaik yang diberikan Allah untukmu =)

Bicara tentang jurusan untuk kuliah… belakangan ini topik itu juga yang sering dibahas oleh angkatanku. Yah, sekarang kami sudah kelas XII, kendati baru setengah bulan masa KBM aktif, tapi kemarin wakasek kesiswaan kami sudah memberikan selembar kertas berisi formulir Ujian Nasional. Yup, benar. Dengan resminya menjadi kelas XII, berarti Ujian Nasional dan semua hal yang menyusul selanjutnya itu sudah di depan mata…

Ketika melihat aa-tetehku yang dulu sama-sama berseragam putih abu-abu, kini mereka sudah terlihat berbeda. Udah tampang anak kuliahan, ya? Wajah mereka berseri, tubuh mereka tegap, dan mereka terlihat siap untuk melangkah lagi menuju babak selanjutnya dalam sebentuk pencapaian cita-cita.

Cita-cita…

Kata yang belakangan ini terngiang-ngiang. Well, tidak bisa dipungkiri bahwa sudah rentang waktu untuk meninggalkan SMA mulai menyempit. Mungkin memang benar sekarang masih bulan Agustus, tapi dengan segala kesibukan ini, waktu akan seolah berlari. Sementara, hendak ke manakah aku nanti?

Ketika melihat mereka yang sudah mantap mengejar cita-citanya, jujur ada sebentuk iri di dada, karena aku sendiri masih belum yakin akan menapaki jalan ke mana. Tidak mungkin berkata ‘biar waktu yang menjawab’, karena pada hakikatnya cita-cita itu tergantung pada usaha. Jika aku tidak berusaha, maka pantaskah aku bercita-cita?

Hmm….

Kepada mereka yang bercita-cita, tunggu aku bergabung dengan kalian ya…