Seiring berjalannya waktu, tentunya ada banyak hal yang berubah dari diri seorang manusia. Seiring dengan bertambahnya usia dan berkurangnya waktu di dunia, tentunya ada manusia yang mengalami peningkatan; dan ada pula manusia yang mengalami penurunan.

Manusia itu makhluk yang dinamis, apakah kamu setuju? Setiap manusia, selama masa hidupnya, akan terus mengalami pengembangan… ataupun penyusutan. Semua itu tergantung pada bagaimana sang manusia mau menjalani kehidupannya.

Mengenai diriku sendiri…
Yah, sejujurnya aku tidak begitu tahu apakah aku sudah jauh berkembang, atau jauh menyusut, atau berkembang dan menyusut, dan sebagainya. Tapi yang penting, tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik itu harus selalu ada. Dan diusahakan. Sebab memang pada hakikatnya manusia hanya berhak dan berkewajiban untuk berusaha dan bertawakkal; Allah-lah yang berkuasa menentukan hasilnya.

Tapi satu hal yang lambat laun semakin kusadari; bahwa semakin ke sini aku semakin mudah menangis. Pada bulan-bulan belakangan ini, kusadari aku semakin mudah menitikkan air mata. Karena banyak hal, tentu. Aku menangis ketika aku merasa sedih. Ketika kesal. Ketika bingung. Ketika kecewa. Ketika marah. Ketika menyesal. Ketika terharu. Ketika melihat orang lain menangis.

Bahkan ketika menangis; aku sendiri bingung mengapa aku harus menangis.

Cengeng, ya?

Dan hal itu semakin menjadi-jadi; setelah beberapa bulan sebelumnya aku mengalami kondisi yang tanpa tangis, alias terlalu bingung sampai-sampai tidak bisa menangis.

Membandingkan dengan kondisi sebelumnya, tentunya aku sangat bersyukur karena Allah masih memberiku air mata…
Karena tidak bisa menangis itu adalah kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Ketika dadamu sangat sakit; ketika ingin menutup mata; ketika ingin berlari; keberadaan air mata bisa menjadi solusi untuk meluahkan semuanya.

Air mata adalah bahasa universal.

Mungkin kamu tidak setuju. Yah, tidak apa-apa.

Terkadang, aku sangat kesal pada diriku sendiri jika aku sudah mulai menangis. Karena menangis itu seperti simbol dari sebuah kekalahan. Egoku menahanku untuk tidak menitikkan air mata; namun dadaku yang sesak dan mataku yang memanas tidak bisa diajak kompromi.

Yah, semakin ke sini, aku semakin cengeng. Hal-hal sekecil apapun sepertinya bisa membuatku menangis…

Namun menangis dapat melembutkan hati. Karena Insya Allah, dalam setiap tetes air mata yang mengalir, ia menjernihkan hati dan pikiranku, serta mengandung tekad untuk berusaha menjadi lebih baik lagi…

Tapi tetap saja; terlalu banyak menangis sepertinya kurang baik. Mungkin aku harus berusaha untuk menemukan peluahan emosi yang lebih positif daripada sekedar menitikkan air mata. Dan tentunya terus berusaha memenej emosiku sendiri.

Manusia adalah makhluk yang dinamis. Selalu berubah. Insya Allah ke arah yang lebih baik.

Jadi… bantu aku ya, kawan? ^_^