Adalah manusia, makhluk Allah yang paling sempurna, karena memiliki akal yang bisa mencerna, maka ia memiliki sebuah rasa egois dalam dirinya. Benarkah fakta bahwa sejatinya setiap manusia itu egois?

Yang pasti, semakin hari, aku semakin menyadari bahwa barangkali aku adalah salah satu manusia yang paling egois yang pernah ada. Seringkali aku merasa iri, seringkali aku merasa sakit hati dan seringkali aku merasa diabaikan oleh lingkunganku hanya karena suatu hal kecil. Seringkali aku merasa tidak tulus dalam memberikan bantuan, seringkali aku merasa ada bisikan-bisikan dalam hatiku; sebuah bisikan untuk memaksa mengikat sebuah kontrak balas budi.

Duhai, alangkah susahnya ikhlas itu…

Mungkin memang sifat dasar manusia untuk egois. Maka seringkali aku berharap banyak saat aku memberikan sesuatu. Pamrih. Sangat. Dan sifat pamrih itulah yang membuat diriku terlalu tinggi berharap, sampai-sampai mengkhayalkan sebuah kenyataan.

Alangkah hinanya, bahkan diriku sampai iri tatkala menyadari ada seseorang yang lebih… kendati ia adalah sosok yang sangat dekat, sosok tempat berbagi, namun rasa itu tetap ada. Egoisme untuk selalu jadi yang terbaik, berbuah keirian ketika menyadari bahwa ia lebih baik. Meskipun iri itu berusaha keras kutekan ke sudut hati yang terdalam, namun ada saat di mana iri itu membuncah tak terkendalikan…

Dan seolah setelah itu aku tidak bisa berpikir jernih. Dadaku sakit oleh sebuah rasa yang diriku sendiri sangat benci.

Allah… kadang iri itu begitu menghunjam. Egois itu begitu meraja. Maka senyum tak lagi tulus, maka interaksi tak lagi lurus.

Kadang berharap terlalu tinggi, hanya untuk jatuh terlalu sakit. Ingin menutup mata, tapi toh tidak mungkin lari.

Manusiawikah? Atau egois itu sudah terlalu berkuasa?

Tapi yang pasti, ada satu rasa lagi, anugerah dariNya, suatu rasa yang sangat kusyukuri… suatu rasa yang selama ini selalu berhasil menekan egois dan iriku sampai ke titik terendah dan memaksanya untuk tidak muncul ke permukaan…

Rasa itu adalah… cinta.

Aku mencintai sahabat-sahabatku… Mungkin memang benar bahwa mereka memiliki sesuatu yang lebih. Mungkin memang benar bahwa cahaya mereka lebih terang. Mungkin memang benar aku merasakan segetar iri pada mereka yang sudah begitu hebat. Pada mereka yang berada di bawah lampu sorot…

Namun aku menyadari bahwa aku juga teramat menyayangi mereka… Maka rasa sayang itulah yang menyiram semua api keirian itu sehingga ia padam tak berbekas… dan rasa sayang itulah yang meniupkan angin lembut yang membenahi lagi keping-keping jiwaku yang terlepas…

Aku tidak menyangkal, aku sangat egois.

Dan aku tidak menyangkal, bahwa sangat mudah bagiku untuk merasa sayang.

Maka… biarkanlah rasa sayang itu mendominasi, biarkanlah ia membentuk sebuah ikatan yang takkan terputus… Biarkan ia mencucibersih semua iri, dengki, dan keburukan lainnya…

Terima kasih, ya Allah…

Terima kasih, sahabat-sahabatku, keluargaku, semuanya… Tahukah kalian? Aku sangat bersyukur Allah memberiku sepotong hati dan sebongkah jiwa yang berisi perasaan sayang ini pada kalian semua…

Kutulis post ini dengan mata berkaca-kaca… namun dengan bibir yang tersenyum, dan dengan syukur tak terhingga…