Di… mana?

Si sini gelap.

Sunyi.

Sepi.

Dingin…

Dinginnya menusuk sampai ke sumsum tulang.

Ke mana semua orang?

Mengapa aku sendiri?

Seorang gadis masuk, wajahnya terlihat kebingungan. Ia memandang sekelilingnya yang sunyi senyap.

Di… mana?

Kau tidak perlu tahu di mana.

K… kau siapa?

Kau tidak perlu tahu siapa.

Ke… ke mana yang lain?

Tidak ada. Kau sendiri.

A… apa?

Ya. Kau sendiri.

Ta… pi… aku tidak mau sendiri? Di mana semuanya? Di mana Papa? Di mana Mama? Di mana kakak dan adikku? Di mana teman-temanku?

Kau sendiri.

Tidaaaak! AKU TIDAK MAU SENDIRI! Kumohon… datanglah… siapa saja…

Tiba-tiba, muncul beberapa sosok orang yang ia kenal.

Ah, teman-temanku! Kalian datang untuk mengeluarkanku dari sini, bukan? Tolong! Tolong aku!

Namun teman-temannya tidak mendengar, mereka berjalan menjauh.

Tunggu! Kau mendengarku, bukan! Tolong aku!

Salah satu dari mereka menoleh, menatap gadis itu tanpa ekspresi.

Maaf, tapi kami tak bisa menolongmu sekarang.

Tapi… kenapa?

Kami bahkan kesulitan menolong diri kami sendiri…

Memangnya… ada apa?

Salah satu dari gadis-gadis itu mendekatinya, dan mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah gadis itu.

Cari tahulah sendiri.

Tapi… apa susahnya memberitahuku? Bukankah… kita teman?

Teman?

Ya… bukankah kita selalu bersama dalam kesenangan dan kesusahan?

Kau sudah menjerumuskan kami. Dengan segala bujuk rayumu. Kau membuat kami memakai obat-obat laknat itu. Kau membuat kami menjauh dari orangtua kami, menjauh dari cahaya kebenaran yang seharusnya menyinari kami. Dan kau masih berani menyebut dirimu sebagai teman?

Tapi…

Maaf. Kami tidak bisa.

Ta…

Selamat tinggal.

Jangan! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri…

Namun sosok-sosok itu menjauh. Sang gadis berusaha mengejar, namun ia terjatuh. Ia mulai menangis histeris.

JANGAN PERGI!!!! TOLONG…. tolong…

Saat itu, ia melihat sesosok pemuda yang disukainya.

Ah, kau datang! Tolong, keluarkan aku dari sini!

Namun pemuda itu hanya menatapnya kosong.

Aku tidak bisa.

APA? Kau tidak bisa? Setelah sekian banyak hal yang kulakukan untukmu, kau tidak bisa menolongku?

Aku tidak bisa.

Mengapa… bukankah kau sayang padaku? Mengapa kau tidak mau menolongku?

Ya, mungkin aku menyayangimu. Tapi, bahkan aku tidak bisa membantu diriku sendiri.

Membantu?

Ya, pengadilan akan datang sebentar lagi, dan aku terlalu sibuk untuk membantumu, karena dosakupun terlalu banyak…

Pe… ngadilan?

Dosaku terlalu banyak… karena semua yang sudah kulakukan denganmu. Dan sekarang aku harus menanggung semuanya. Aku tidak punya waktu untuk membantumu…

Do… sa…

Aku tidak peduli denganmu. Aku harus pergi.

Tidak! Jangan pergi! Tolong… setidaknya… diamlah denganku di sini… sebentar saja…

Si gadis berusaha menghalangi pemuda itu pergi, namun ia gagal. Ia menangis semakin frustasi, mengiba.

Tolong… jangan pergi… jangan…

Ia mengangkat kepala dan melihat wali kelasnya berdiri di depannya.

Bu! Ibu di sini untuk menolongku, bukan?

Ibu tidak bisa.

Ke… kenapa?

Ibu sudah menyerah. Ibu sudah berusaha memberitahumu, namun kau tidak pernah mendengarkan Ibu.

Bu, tolong… bantu aku keluar dari sini! Aku berjanji, aku akan menuruti Ibu!

Waktu sudah habis.

Wa…ktu?

Ibu harus pergi.

Wanita itu berjalan tanpa mempedulikan si gadis yang makin mengiba.

Ibu! JANGAN PERGI! Tolong… selamatkan aku…

Gadis itu tersungkur ke tanah, menangis tidak terkendali. Tiba-tiba, suara langkah membuat tangisannya terhenti.

Ka… kakak! Tolong…

Aku sudah berulangkali memberitahumu. Jangan pernah gunakan obat-obat itu. Jangan pernah menjalin hubungan dengan pemuda itu. Jangan pernah mau diajak pergi oleh teman-temanmu. Namun kau tidak pernah mendengarkanku.

Aku… aku tahu aku salah! Aku menyesal, kakak! Tolong… keluarkan aku…

Sekarang sudah terlambat. Aku tidak bisa menolongmu lagi.

Kenapa? Ka… kau kakakku, bukan? Bantu aku!

Waktu sudah habis. Semuanya sibuk dengan dirinya sendiri.

Setidaknya… beritahu aku apa yang terjadi…

Kau akan mengetahuinya sebentar lagi. Aku harus pergi.

Jangan… jangan pergi… tolong…

Gadis itu memukul-mukulkan kepalan tangannya ke tanah. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Tiba-tiba ia melihat kedua orangtuanya tegak di depannya.

Mama… Papa… tolong…

Kami tidak bisa.

Mengapa kalian juga tidak bisa? Apa yang terjadi? Mengapa semuanya begitu egois? Mengapa?!

Waktu sudah habis. Catatan sudah dihentikan. Sekaranglah saatnya menerima balasan atas apa yang sudah kau perbuat…

Balasan? Balasan apa? Atas perbuatan apa?!

Anakku, bukankah kami sudah berulangkali memberitahumu? Semua yang kau lakukan, akan ada balasannya. Namun kau tidak pernah mendengarkan…

Gadis itu melihat airmata mengalir di pipi ibunya.

Mama… apa maksudnya? Tolong… tolong aku… selamatkan aku… Papa…

Kami sudah berusaha memberitahumu saat di dunia, tapi kau tidak mau. Sekaranglah saatnya mempertanggungjawabkan semuanya…

Aku… aku tidak mengerti!

Kami tidak bisa membantumu lagi. Walaupun kau anak kami, tapi kami tetap tidak mampu.

Ke… napa?

Kami harus pergi.

Tidaaaak!! Mama, Papa, jangan pergi… aku takut… di sini gelap… dingin… aku tidak mau sendirian! Jangan… jangan pergi… tolong… to… long…

Gadis itu menangis, mengiba agar kedua orangtuanya tidak pergi. Ia menarik pakaian ibunya, mengharapkan wanita itu berbalik dan menyelamatkannya. Namun, mereka berdua pergi, meninggalkannya dalam kegelapan. Sendiri.

Dingin…

Tulangku membeku…

Tubuhku kaku…

Tolong,.. siapapun…

Tolong aku…

Kau sudah melihatnya, bukan? Tidak ada yang akan menolongmu. Kau sendiri.

Tidak… tidak… tidak mungkin…

Waktu sudah habis. Saatnya pengadilan.

Pengadilan… atas apa?

Atas semua yang sudah kaulakukan di dunia.

Se… mua?

Semuanya. Semua perbuatanmu. Tanpa kecuali.

Aku… semua yang telah kuperbuat…

Mendadak gadis itu teringat atas semua kesalahannya. Ia bergelung, memeluk lututnya.

Aku… takut… tolong… beri aku waktu lagi… aku berjanji, aku akan memperbaiki semuanya…

Terlambat. Waktu sudah habis.

TIDAK MUNGKIN! Tolong… Tu… han… berikan aku waktu… aku akan mengabdi padaMu… Tuhan…

Tuhan sudah memberimu cukup banyak waktu selama kau di dunia. Tapi kau tidak pernah menggunakannya dengan baik.

Aku… maaf! Aku salah! Beri aku waktu lagi… aku akan memperbaiki semuanya!

Terlambat.

Sudah terlambat…

Gadis itu menjerit, meronta, memohon agar ia diberikan waktu lagi. Namun, semuanya sudah terlambat.

Gadis itu terbangun, terengah-engah.

Udara…

Sesak…

Tolong aku… aku tidak bisa bernapas!

Aku…

Udara…

Sakit! Seluruh tubuhku sakit!

Tidak tahan… sakit… rasanya seluruh tubuhku dirajam dengan pedang…

Tolong…

Tolong…

Ia meronta-ronta.

Beginikah… rasanya…

Aku belum mau mati!

Masih banyak hal yang harus kulakukan!

Terlalu banyak kesalahanku…

Aku…

Belum ingin…

Mati…

Tuhan…

Di sela-sela napas terakhirnya, gadis itu berbisik…

Tuhan…

Kumohon…

Berikan aku waktu lagi…

“Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (Qs Al-Mu’minun/23:105-108)
—————————————————————-

Sebuah perenungan…
Siapkah kita untuk menghadapi hari itu?