Phew, sudah lama sejak terkahir kali posting di sini… demo, I’m not dead yet, hey, alhamdulillah aku masih diberiNya kesempatan hidup…

Tapi kenapa aku selalu tidak (men)sempat(kan) (baca: menyempatkan) diri untuk menulis di sini? Padahal jujur saja, aku termasuk orang yang senang menulis. Apalagi mengetik. Apalagi semenjak dibelikan laptop sendiri oleh orangtuaku, aku sama sekali tidak keberatan untuk membawanya ke mana-mana, dan membukanya, dan menyalakannya, dan menggunakannya kapanpun dan dimanapun aku bisa. Di rumah pun, sepertinya waktuku lebih berputar-putar di hadapan Forsa putihku ini… Baik untuk ngerjain tugas, ngeberesin data, dengerin lagu, nyatet (baca: ngetik) hasil rapat, memaksa mencari wireless buat ngenet, bahkan sampai main game.

Aku salah satu pendukung paradigma bahwa menulis itu mudah. Tapi… well, entah kenapa, special untuk jurnal hidup seperti ini… menulis itu rasanya susah. Hehe. Padahal aku termasuk orang yang ekstrovert, tapi entah kenapa kok rasanya takut ya, membiarkan apa yang berlari-lari di otakku ini terbaca atau diketahui oleh orang lain?

Manusia memang makhluk yang aneh…

Berbicara mengenai manusia sebagai makhluk yang aneh, aku jadi teringat, alhamdulillah selama 16-lebih-beberapa-bulan hidupku ini, Dia sudah mempertemukanku dengan berbagai macam tipe-tipe manusia. Yah, padahal lingkunganku nggak jauh-jauh banget, hanya berkutat sekitar sekolah, rumah, tempat les, dan internet. Tapi Dia sudah dengan sangat murah hatinya mempertemukanku dengan berbagai macam kepingan-kepingan kepribadian yang membuat hidupku lebih bermakna…

Keberadaan manusia sebagai makhluk yang aneh itu sesungguhnya sangat patut untuk disyukuri. Tidakkah akan menjadi membosankan jika kita selalu dihadapkan dengan hal yang sama? Karena itu, adanya sebuah keseragaman yang terkadang sangat mengejutkan, sebenarnya adalah sebuah anugerah yang sangat besar dariNya…

Berada pada usia-usia remaja menjelang dewasa [eh, bener nggak sih, hehe^^] seperti ini, aku menyadari bahwa lingkunganku adalah lingkungan yang sedang mencari jati diri. Tiap hari, aku berputar-putar diantara pertanyaan-pertanyaan tak terjawab [dan sebenarnya tidak perlu dijawab?] mengenai kehidupan dan segala perihal mengenainya ini…

Bahkan diriku pun masih bertanya-tanya.

Hei, alangkah memusingkannya. Pertanyaan-pertanyaan yang mendera tiada habisnya, tapi jawabannya masih entah ada di mana… Kadang semua itu membuatku lelah. Memikirkan orang lain dan segala permasalahan hidup mereka itu membuatku lelah. Bersikap seperti yang orang lain harapkan itu lelah…

Kadangkala ingin berhenti. Tapi… apa nikmatnya hidup? Jadi teringat kata-kata seorang teman, “Because problems make or life colorful like a rainbow…” [err… kata-kata aslinya bukan gini ding, lupa… tapi maknanya sama lah…]

Bener banget! Masalahlah yang membuat hidup kita nggak plain, yang membuat hidup kita cerah dan berwarna-warni seperti pelangi… Tapi, kalau masalahnya nggak selesai-selesai, akan indahkah warna pelangi itu? =9

Jadi… untuk semuanya… Syukurilah. Syukurilah Dia masih mau memberimu cobaan, karena berarti Dia percaya bahwa kamu adalah yang terpilih, karena Dia percaya bahwa kamu kuat…

So, angkat kepalamu, tataplah dunia, dan tersenyumlah! It’s alright, to cry, it’s alright to feel sad, tapi percayalah bahwa setelah hujan pasti ada pelangi yang indah… ^_^

“Never frown when you are sad, because you’ll never know who might fell in love with your smile…” –> Quotes yang bagus ya. ^^

Jujur, aku jadi bingung sebenarnya entry ini tentang apa. Tapi nggak apa-apa… senang-senang saja… *nggak jelas deh

Oke, buat semuanya… tetep semangat!

Satu hal yang aku percaya… Berkata-kata bagus itu emang gampang, dan mewujudkannya itu emang susah. Susah banget. Tapi… Allah menilai proses. Dan kalau kita mau berusaha, kita pasti bisa!

Ganbatte untuk semuanya! ^_^