Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rabb semesta alam yang selalu memberikan nikmatNya kepada semua makhlukNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercirah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang beriman yang senantiasa menegakkan kalimatullah hingga akhir zaman. Amin.

Ibu,

Kutulis surat ini beserta dengan segenap kekagumanku kepadamu. Bersama segenap rasa sayang dan rasa bersalah yang tak bisa kuungkapkan. Bersama dengan segenap rasa yang tak terluahkan.

Ibu,

Sejujurnya lidahku selalu kelu kalau sudah berbicara menyangkut namamu. Entah mengapa? Tapi yang pasti aku tahu, rasa kelu itu bukan dikarenakan ketidakbanggaanku kepadamu, tidak. Engkau adalah sosok yang sangat aku kagumi.

Tapi mungkin kekeluan itu lebih dikarenakan kefrustasianku yang hingga kini tidak pernah bisa membalas jasa-jasamu. Lebih disebabkan rasa malu karena hingga kini aku belum bisa menjadi sosok yang berarti. Lebih disebabkan kesedihan karena hingga kini, aku belum pernah membuatmu bangga…

Ibu,

Kutulis surat ini dengan sebentuk rasa maaf yang menggumpal-gumpal di sudut hatiku. Rasa yang semakin bertambah tatkala aku menyadari bahwa aku melakukan kesalahan kepadamu, Ibu, berulang kali, berkali-kali, namun setiap saat masih kutemui binar cinta dalam kedua bola matamu. Namun setiap saat masih kutemukan sentuhan kasih sayang dari kedua belah tanganmu.

Bagaimana engkau bisa begitu sabar, Ibu?

Aku tahu, bukan hanya sekali aku membantah perkataanmu. Aku tahu, bukan hanya sekali aku meninggikan suaraku, refleks mengejek dan tidak mengindahkan nasihatmu. Aku tahu, bukan hanya sekali kulakukan perbuatan yang menyebabkan dirimu menghela napas berat, yang menyebabkan drimu–mungkin–bahkan sampai tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk ‘menertibkan’ diriku.

Terkadang semuanya terasa sangat tidak masuk akal. Jika aku berada di posisi engkau sekarang, Ibu, mungkin aku sudah terlalu bosan dengan segala tingkah laku anakku, mungkin aku sudah balas memaki-makinya, atau mungkin aku malah sudah meninggalkannya.

Tetapi hati sebening apa, Ibu, selapang apa danau kemaafkan yang engkau miliki?

Terkadang, aku sampai berdecak kagum sendiri. Subhanallah, betapa Maka Suci Engkau, ya Allah, betapa Maha Kuasanya Engkau, Allah, Rabb semesta alam yang telah menciptakan sesosok wanita yang begitu mulia, yang dengan hati putihnya yang senantiasa memaafkan, senantiasa memberikan rengkuhan penuh kehangatan…

Terima kasih atas kesabaranmu, Ibu…

Setiap hari aku tahu engkau sangat lelah. Jika aku, pulang sekolah dan sangat lelah, aku bisa tidak berpikir apa-apa, langsung berbaring dan tidur semalaman. Namun tidak dengan dirimu, Ibu. Aku tahu engkau jauh lebih lelah, namun tidak pernah kutemukan keegoisanmu. Justru dalam kondisi lelah itu engkau masih tetap melaksanakan pekerjaan rutinmu, engkau masih tetap mengurusi kami sekeluarga.

Ketika aku terbangun di malam hari, bukan hanya sekaloi kutemukan tubuh lelahmu masih terjaga. Bukan hanya sekali kutemukan di tengah kantukmu, engkau tetap berusaha untuk terjaga demi menyelesaikan amanah-amanah yang dibebankan kepadamu.

Ketika hari libur, saat aku bersantai di rumah, bukan hanya sekali kusadari bahwa engkau masih sibuk dengan paper-papermu, menyelesaikan amanahmu. Jika tidak, maka engkau akan menghabiskan waktumu, mencurahkan segenap perhatianmu kepada ayah dan kepada kami, anak-anakmu.

Ibu,

Kutulis sepucuk surat ini dengan rasa syukur yang tidak terhingga. Bersyukur kepadaNya, atas kehadiran seorang malaikat di muka bumi ini, seorang malaikat yang memiliki kasih sayang yang tidak terhingga, seorang malaikat, yang kusebut Ibu…

Dan juga beserta segenap rasa terima kasih yang tidak terhingga kepasamu; pelita hatiku. Atas kasih sayangmu, atas perhatianmu, atas pengorbananmu, atas jasa-jasamu, atas segalanya…

Sapai aku kehabisan kata, bagaimana aku dapat membalas jasamu, Ibu?

Ibu, idolaku…

Engkaulah sosok pertama yang kuteladani, dan hingga kini masih tetap menjadi sosok pertama yang sangat mempengaruhi kehidupanku. Melalui sentuhan kasihmu aku belajar. Melalui dirimu aku mengerti…

Tentu saja, sudah kewajaran jika seorang manusia memiliki idola. Dan tentu saja, sudah seharusnya setiap muslim dan muslimah mengidolakan junjungan kita, Rasulullah saw. Beliau adalah manusia paling mulia yang pernah ada di muka bumi. Kekasih Allah, pembawa risalahNya, yang dengan kelebutan kata-kata serta perilakunya mampu menundukkan seisi dunia…

Namun selain beliau yang sangat mulia, dengan bangga kuakui, engkaulah idolaku, Ibu…

Aku ingin mencontoh kesabaranmu. Aku ingin mencontoh keteguhanmu. Aku ingin menjadi sepertimu, bahkan lebih baik darimu…

Tolong bimbing aku, Ibu…

Dan terakhir, akan kututup sepucuk surat sederhana ini dengan sebentuk doa. Sebentuk doa yang dengan sepenuh hati kupanjatkan kepada Rabbu, sebentuk doa yang mungkin bisa kujadikan hadiah kepadamu, dalam upaya tak berujungku untuk membalas segala jasamu…

Hanya sederhana. Aku meminta kepadaMu, Ya Allah, untuk senantiasa menjaga Ibu. Senantiasa memberikan yang terbaik baginya. Senantiasa membalas segala kebaikan-kebaikannya. Senantiasa memberikan kebahagiaan baginya, di dunia kini dan di akhirat kelak. Melindunginya dari api neraka, dan menyiapkan tempat terindah baginya di surga…

Ya Allah, aku memang bukan pujangga. Bahkan merangkaikan kata doapun terkadang menjadi terlalu sulit untuk terlaksana. Namun Engkau Maha Mengetahui, Ya Allah. Engkau Maha Mengetahui segala rasa dan harapan yang mengkristal d hatiku.

Kabulkanlah doaku, Rabbi…

Dan kepada Ibunda,

Sepucuk surat ini sebenarnya belum mampu mewakili apa yang ingin kusampaikan. Namun aku berusaha… dan aku percaya engkau mengerti. Mohon maaf jika ada kata-kataku yang kurang berkenan. Mohon maaf jika selama ini aku selalu menyusahkan, mohon maaf atas segala kesalahanku…

Dan terima kasih atas segalanya, Ibunda. Semoga Allah senantiasa merahmatimu, dan semoga Allah membalas segala jasamu dengn berlipatganda…

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bogor, 22 Desember 2007
Dengan segenap cinta,

Putrimu.

—————————————-
haa… cape nulisnya. XD
—————————————-

HAPPY MOTHER’S DAY!!