Aku ingin menulis. Kuambil keyboard, kutarik napas, dan kutuangkan kata-kata. Tanpa rencana. Semuanya mengalir begitu saja…

menjadi…

Sebuah Cerita…
—————————————————

Jalan itu gelap.

Ya, sangat gelap. Hanya ada sebatang lilin kecil di sana, berusaha menerangi semampunya dengan liukan api lemah. Hanya dibutuhkan sebuah tiupan kecil untuk membuatnya padam.

Aku mengarungi jalan itu, sendiri. Pkiranku masih berpacu bersama dengan kenangan-kenangan yang tiba-tiba menari dalam benakku. Mataku memicing, berusaha mengenali situasi di hadapanku. Sementara itu benakku mengeluh.

Gelap.

Dingin.

Suram.

Aku benci. Aku benci situasi seperti ini. Aku benci menyadari bahwa aku benar-benar tidak tahu mengapa aku bisa berada di jalan itu, dan apa yang harus aku lakukan di sana.

Seolah menyadari pikiranku yang mengeruh, nyala lilin yang berada di sana pun mulai semakin meredup. Liukan api biru itu semakin lemah, hingga akhirnya ia lenyap tak bersisa.

Hanya menyisakan sekepul asap.

Dan gelap.

Aku terduduk. Aku benar-benar hilang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya termangu dalam sunyi. Sendiri.

Tidak ada suara apapun, hingga detak jantungku pun mulai terdengar seperti detak kematian yang semakin mendekat… seolah mengejekku. Mengejek kelemahanku. Mengejek ketidakberdayaanku.

Aku merintih. Dingin… dingin mulai merasuki sekujur tubuhku. Dingin mulai menyusup, menggeletarkan semua sendi-sendi tulangku tanpa ampun, tanpa henti.

Gelap… kegelapan itu mulai menyeruak dalam pikiranku. Dalam pandanganku. Dingin dan gelap telah bermutasi menjadi rasa yang benar-benar membuatku buntu.

Sekujur tubuhku kaku. Aku mulai menjerit, menggunakan sisa-sisa udara yang ada di paru-paruku dengan gegabah untuk membuat sebuah lolongan panjang.

Tolong… tolong… siapa saja… keluarkan aku dari sini! Tolong! TOLONG!

Namun apa daya, teriakanku hanya bergema di telingaku, menderakan sakit yang menyiksa. Sementara kurasa napas yang mulai menyesak…

Semuanya menghilang. Semuanya tidak peduli. Aku sendiri.

Ke mapa teman-temanku? Ke mana keluargaku? Ke mana guru-guruku? Ke mana semua orang? Ke mana kakak-kakakku? Ke mana adik-adikku?

Gigilku semakin nyata; paru-paruku mulai menjerit-jerit meminta udara. Kucoba bernapas, namun gagap yang kudapat.

Tenagaku mulai habis. Sia-sia kucoba.

Aku tertunduk. Pening mulai merasuk.

Tak tahan, kututup mataku rapat-rapat. Kedua tanganku terkulai di sisi tubuhku, tak berdaya. Tulang-tulangnya serasa diloloskan satu demi satu.

Kesadaranku semakin menipis…

—————————————————

Kisah ini belum berakhir…

Akan kulanjutkan kapan-kapan, oke?

Jangan bertanya mengapa aku menulisnya. Semuanya terjadi begitu saja, sungguh! Aku bahkan tidak tahu apa maksudnya. Aku hanya membiarkan kesepuluh jemariku menari di atas keyboard, dan pikiranku mengembara.

Entah kenapa?