Betapa Allah masih rela memberikan kasihNya kepadaku…
Padahal tlah terlalu banyak perintahNya yang kuabaikan

Betapa Allah masih memberikan karuniaNya kepadaku…
Padahal tlah terlalu tak terhitung dosa dan kesalahan yang aku lakukan

Betapa Allah masih mau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku…
Padahal tlah terlalu sering kulupakan Dia dalam keseharianku

Betapa Allah masih menutupi semua kekurangan dan kesalahanku…
Padahal tlah terlalu sering kulanggar apa yang Kau gariskan tanpa merasa malu padaMu

Betapa Allah sayang padaku…
Dan betapa tidak tahu malunya aku, dengan semua yang telah kulakukan

Betapa Allah sayang padaku…
Dan betapa bodohnya aku, tidak menyadari fakta itu

Betapa Allah sayang padaku…
Dan karena itulah aku harus berusaha untuk membalasNya,
Menyampaikan rasa syukurku yang tak terhingga,
Dengan berusaha untuk menjalankan apa yang telah Ia gariskan kepadaku,
Dengan berusaha untuk memenuhi perintah dan menjauhi laranganNya,
Dengan berusaha…
Mengabdi dengan pengabdian yang seutuhnya.

————————————-

Sudah membacakah kata-kata di atas? Kali ini, aku ingin menyampaikan sebuah perenungan. Baik untukku, untukmu, untuknya, dan untuk kita semua.

Ya, betapa Allah sangat menyayangi kita…

Namun, betapa ironisnya, ketika kita benar-benar tidak menyadariNya…

Masih inget dengan emotionless periode yang kutulis di post-ku yang sebelumnya? Yah, yang namanya manusia, pasti emang ada masanya di saat kadar-kadar keimanan itu meningkat, atau menurun.

Yang ironis, seringnya, sewaktu kadar keimanan kita semakin rendah, kita bener2 menyalahkan dunia atas apa yang kita rasain. Bahkan, pada stadium yang sangat parah, kita bisa jadi menyalahkan Allah, karena menganggapNya sangat tidak adil.

Namun pernahkah kamu sadari, kalau Ia selalu ada? Ia tidak pernah menolakmu, Ia tidak pernah megecewakanmu, dan berapakalipun kau pergi dariNya, tanganNya akan selalu terbuka lebar saat kau datang lagi ke dalam pelukanNya…

waaldhdhuhaa
[93:1] Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
waallayli idzaa sajaa
[93:2] dan demi malam apabila telah sunyi,
maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa
[93:3] Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada  (pula) benci kepadamu,
walal-aakhiratu khayrun laka mina al-uulaa
[93:4] dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu  dari permulaan.
walasawfa yu’thiika rabbuka fatardaa
[93:5] Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan  karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.
alam yajidka yatiiman faaawaa
[93:6] Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang  yatim, lalu Dia melindungimu.
wawajadaka daallan fahadaa
[93:7] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang  bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
wawajadaka ‘aa-ilan fa-aghnaa
[93:8] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang  kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

(QS Ad-Dhuha/93:1-8)  sumber: http://www.dudung.net

Indah, ya? Itulah janji Allah, dan janji Allah itu pasti…
Karena itu, mengapa kita masih berpaling?

Ada sebuah nasyid dari Raihan, sebenarnya udah nggak asing lagi, tapi nasyid ini bener2 bikin aku yang sedang dalam emotionless periode nangis waktu mendengarnya…

Mengemis Kasih (Raihan)

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah
Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah

Semalam sudah sampai ke penghujungnya
Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa yang mengiris hati

Tuhan, dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmatMu mengalir luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmatMu di bumi

Tuhan, walau taubat sering ku mungkir
Tapi pengampunanMu tak pernah bertepi
Bila selangkah ku rapat padaMu
Seribu langkah Kau rapat padaku…

……………………………..

Betapa Allah Sayang Padaku…