Kuas

Aku selalu membawa kuasku
Ke mana pun aku pergi,
Kalau-kalau aku perlu menutupi
Agar tak terlihat diriku yang asli.
Aku sangat takut memperlihatkan diriku,
Takut dengan apa yang akan kau perbuat–takut
Kau akan tertawa atau mengejekku.
Aku takut kehilangan dirimu.

Aku ingin melepaskan semua lapisan catku
Menunjukkan diriku yang asli dan nyata,
Tapi aku ingin kau mencoba mengerti,
Aku perlu kau menerima apa yang kau lihat.
Jadi, kalau kau bersabar dan menutup mata,
Akan kutinggalkan semua lapisanku perlahan.
Tolonglah mengerti betapa sakitnya
Membiarkan diriku yang asli terlihat.

Sekarang semua lapisanku sudah terlepas.
Aku merasa telanjang dan kedinginan,
Dan kalau kau masih mencintaiku apa adanya,
Kau adalah temanku, semurni emas.

Tapi, aku perlu menyimpan kuasku,
Dan memegangnya dalam tanganku,
Aku ingin kuas itu siap kupakai
Kalau-kalau ada yang tak mengerti.
Jadi, lindungilah aku, kawan
Dan terima kasih atas ketulusan kasihmu,
Tapi, biarkanlah aku menyimpan kuasku
Sampai aku juga mencintai diriku.

–Chicken Soup for the Teenage Soul,
Betty B. Youngs.

.

.

.

.

untuk yang tertemukan.

yah… seperti itulah.

.

.

maaf, dan terima kasih atas pengertiannya.

…sejenak.

sebelum waktumu terasa terburu
sebelum lelahmu menutup mata
adakah langkahmu terisi ambisi
apakah kalbumu terasa sunyi

luangkanlah sejenak detik dalam hidupmu
berikanlah rindumu pada denting waktu
luangkanlah sejenak detik dalam sibukmu
dan lihatlah warna kemesraan dan cinta

sebelum hidupmu terhalang nafasmu
sesudah nafsumu tak terbelenggu
indahnya membisu tandai yang berlalu
bahasa tubuhmu mengartikan rindu

yang tlah semu.. yang tak semu..

sedang membutuhkan jeda. yang berkualitas.

agar tak hampa seperti robot jalani semuanya.

.

.

.

hmmm.

mengiba padamu,

Rabb…

Prinsip

Saya memiliki prinsip. Satu prinsip inti, dengan beberapa kesepakatan tentang apa-yang-boleh-dan-apa-yang-tidak-boleh-dilakukan yang menyertainya.

Salahsatunya sederhana, namun sudah berusaha saya terapkan semenjak beberapa tahun terakhir.

.

Tapi minggu lalu, tepatnya selasa lalu, saya membuat pengecualian atas dasar keburuburuan yang sebenarnya tidak sedemikian berdasar.  Masuk akal, tapi tidak melakukan pelonggaran pun sebenarnya tidak apa-apa.

Sederhana: tidak mau terlambat masuk kelas setelah selesai praktikum di Fakultas Peternakan dan harus ke Fakultas Pertanian saat itu juga.

Maka saya melakukan itu–pengecualian prinsip (apakah ini bahasa halus dari ‘pelanggaran prinsip’?) dan di tengah keterburuburuan,

PRAK.

HP saya jatuh. Tidak peduli, saya cuma mengambil HP saya dan melanjutkan perjalanan.

.

Singkat cerita: Saya tidak terlambat. Bahkan sebenarnya tanpa mengecualikan pun, tetap tidak terlambat.

Masalah baru tersadari saat membuka HP: 7/8 dari layarnya rusak. Total.

.

Sudah satu minggu berlalu dengan vonis dari tukang servis HP di Bara:

HP saya tidak bisa ditemukan LCD yang cocok untuk menggantinya.

.

.

Setiap Selasa saya akan selalu terburu waktu.

Tapi satu yang saya ingat, (dan tolong ingatkan saya) bahwa:

.

Saya tidak mau mengecualikan prinsip lagi, kecuali kondisi memang sangatamantidakmemungkinkansamasekali.