mencoba memantulkan kembali semua cahaya yang diterima agar dapat menerangi dunia…

Tag Archives: salim a. fillah

Sepatu-sepatu berjajar.. sumber: kasahf.blogspot.com

seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

.

.

#reminder


ketika kubaca firman-Nya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu di risaukan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman

.

aku ingat pertemuan pertama kita
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat

.

ya, kubaca lagi firman-Nya, “Sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan
karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

.

aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua – duanya, mungkin kau saja
tentulah terlebih sering, imankulah yang compang – camping

.

kubaca firman persaudaraan
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan;
‘para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain…
kecuali orang – orang yang bertaqwa”

(Salim A. Fillah, dalam buku “Dalam Dekapan UKHUWAH”)

.

.

.

sore itu, saat melingkar…

–menarik napas panjang. khawatir. “Gimana ya, Teh…”

yang ditanya tersenyum, arif.

“…kalau semua cara tidak memungkinkan,

cuma satu harapan, senjata pamungkasnya..

.

.

doa.”

.

.

duhai Allah,

yang Maha Membolak-balik Hati…


Siapa yang meragukan kekuatan kata, apalagi jika ia bernada. Denting-denting kalimat yang lembut, suatu ketika bisa meresonansi dawai-dawai penyakit hati. Dawai itu bergetar menyanyikan rayuan syahwat. Ya, kalau Anda seorang akhwat mungkin tak percaya. Tapi saya seorang laki-laki yang tahu persis bahwa telinga kami adalah pintu syahwat yang terbuka. Kalau tidak, mana mungkin ada klub-klub telepon mesum yang menjadi bisnis neraka itu!

“…Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (Al-Ahzab:32)

Interaksi tak terhindarkan antara kita, kalaupun perlu suatu komunikasi semoga ia adalah komunikasi yang ma’rif, sehat dari sisi manapun. Mungkin kita terbiasakan bersuara gemulai. Nah, mulai detik ini cobakan ketegasan suara. Datarkan nadanya, perbesar sedikit amplitudonya, dan perkecil frekuensinya.

Catatan lain, tentu kita harus meminimalkan ‘bonus’ komunikasi. Kalau yang diperlukan hanya kalimat “Pekan depan akan ada kunjungan silaturrahim dari Rohis SMU 13″, sebaiknya jangan ditambah menjadi, “Akhi, pada bilangan hari-hari yang menanti di depan kita, sebuah kebahagiaan akan terasa dengan hadirnya rekan-rekan tercinta Rohis SMU 13 dalam silaturrahim yang mengikat hati dan mempertautkan jiwa..”

Surat, e-mail, SMS apalagi telepon dan pembicaraan langsung yang struktur bahasanya seperti ini terlalu ‘bernada’ untuk didengar oleh hati. Saya tahu, sebagian dari kita termasuk orang yang luar biasa dalam memilih diksi dan menyusun kata. Tapi saya kira, ada tempat tersendiri untuk mengapresiasikannya…

Saya ingin, kita percaya kepada Allah yang sudah memberikan batas jelas dalam interaksi ini. ‘Bisikan’ kata-kata tambahan, meski dalam konteks da’wah kita katakan, perlu kehati-hatian ekstra. Mengapa? Karena Iblis sudah berpengalaman sejak zaman Adam dan Hawa. Ya, kehati-hatian itu adalah kesucian niat dalam keridhaan Allah.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka. Kecuali bisikan-bisikan dari orang yang memerintahkan shadaqah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak akan Kami berikan padanya pahala yang agung.” (An-Nisa:114)

–Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan,
Salim A. Fillah
————

Sampai di sini mungkin saya cukupkan kutipan ini. Ada hal yang perlu direnungi..

Ya, saya percaya pada kekuatan kata-kata. Dan hal itu membuat saya teringat.

Astaghfirullah…

Jujur, saya termasuk senang merangkai kata-kata, baik menjadi kalimat apalagi membentuknya menjadi sebuah puisi yang menyimpan makna tersembunyi. Saya rangkai dengan manis, lalu saya letakkan atau saya lontarkan dan saya biarkan orang lain menebak isinya. Dan hal itu berulangkali saya lakukan. Entah ‘dalam rangka’ memudahkan suatu konsolidasi untuk mencapai tujuan yang saya inginkan, ataupun sekedar memberikan ‘sesuatu’ yang lain.

Faghfirlii, Rabbi…

Saya takut mengingat; saya takut menghitung barangkali berapa banyak hal yang mungkin terlanggar dengan semua kata-kata itu…

Faghfirlii, Rabbi…

Melalui cuplikan pendek di atas saya merasa tertampar. Ada kalanya kesenangan bertingkah seperti pujangga–kesenangan merangkai kata dapat menyeret diri, atau bahkan orang-orang di sekitar kita pada suatu hal yang seharusnya dapat kita semua hindari.

Melalui entry ini… Saya ingin menyampaikan maaf jika selama ini ada tutur kata saya yang kurang berkenan, ataupun (na’udzubillahi min dzalik) menimbulkan efek seperti yang di atas.

Memang Allah-lah yang Maha Membolakbalik hati… tapi kita sendiri juga punya kewajiban untuk menjaga diri.

Yaa… sama-sama saling introspeksi, ya?


KATA DI JALAN CINTA

Satu kata cinta Bilal:
“Ahad!”

Dua kata cinta Sang Nabi:
“Selimuti aku…!”

Tiga kata cinta Ummu Sulaim:
“Islammu, itulah maharku!”

Empat kata cinta Abu Bakr:
“Ya Rasulallah, saya percaya…!”

Lima kata cinta ‘Umar:
“Ya Rasulallah, izinkan kupenggal lehernya!”

Selamat datang
di jalan cinta para pejuang.

– Jalan Cinta Para Pejuang,
Salim A. Fillah

[subhanallah....]



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,145 other followers