menuju akhir

…aku lihat RAMADHAN dari kejauhan.. lalu kusapa ia.

“Hendak ke mana?”

.

Dengan lembut ia berkata,

“Aku harus pergi.. mungkin jauh dan sangat lama. Tolong sampaikan pesanku untuk orang MUKMIN:

Syawal akan tiba sebentar lagi..

ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya,

peluklah ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan TAQWA,

bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang,

mintalah nasihat QURAN & SUNNAH di setiap permasalahan yang dihadapi.

Sampaikan pula salam & terimakasih untuknya karena menyambutku dengan sukacita…

Kelak akan kusambut di SURGA dari pintu AR-RAYYAN…”

.

.

.

gerimis…

ayo manfaatkan waktu yang tersisa!

Upside-Down Life

“Masih blogging ga, Jan?”

… cuma nyengir.

“Belum nih, udah lama gak nulis lagi.”

Ramadhan sudah mau memasuki fase terakhir. Tapi setiap hari pergipagipulangmalamwarawiri, lebih banyak mengerjakan urusan duniawi. Ah, tapi semoga semua ini juga bisa dihitung sebagai usaha ibadah, sebagai sebuah langkah kecil–yang walau terseok-seok–untuk membangun generasi.

Ramadhan sudah hari keduapuluh. rindu duduk lama untuk tilawah, tapi fakta sedihnya seringkali terlalu lelah begitu sampai rumah. Ah, yaumiyahku… pantas saja jadi labil begini…

.

.

menemukan tulisan ini di antara draft-draft blog yang tak jadi diposting. jadi tersentak, lalu menghitung mundur.

membatin.

.

ah… sudah mau Ramadhan lagi…

dan masih tetap warawiri. semoga dapat dinilai sebuah usaha tuk bangun generasi. dan masih tetap berlari dalam sebuah grafik peningkatan yang mungkin tak sepesat yang lain…

tapi kuharap terus ada. tak henti.

.

dan semoga Ramadhan tahun ini bisa lebih baik lagi...

[...mohon sampaikan umurku, Rabb...]

Ketika Ia Akan Pergi

Elegi Untuk Aa

Tertatih aku mengejar bulan
Mengais sisa – sisa Romadhon
Terjatuh.. terpuruk dikeheningan

Ramadhanku telah pergi
Syawal tlah menjelang
Tinggalkan arti tujuh puluh tingkatan
Amal ibadah bagi insan beriman

Duhai sahabat pilihan Alloh
Di sini, dipertigapuluh terakhir
Kita bertemu dalam renungan
Satu jiwa satu hati dan satu iman

Tuhan kukalakan tali ini
Rekatkan dalam dzikir padaMu
Biarkan rindu kian bersemayam
Karena kasih dan cintaMu

Duhai sahabat pilihan Alloh
Dihari ke tujuh ba’da Romadhon
Hati masih sedih ditinggalkan
Seluruh jiwa terasa sakit
Tiada kawan penghibur
Kecuali Alloh semata

Hanya satu tumpuhan harapan
Jumpa Romadhon dengan izin tuhan
Madrasah perjuangan dan kesabaran
Menuju Ar-royan yang dijanjikan

aah… maka saya tengah menghitung mundur.
karena ia akan pergi.. dan belum tentu saya akan dapat menemuinya lagi pada lain kali..
karena hanya DIA yang tahu hingga kapan saya masih dapat berdiri…

ada sesal…
sebab terasa berbeda tahun ini.
sibuk. sibuk terlampau sibuk jadi tak optimalkan diri.

entah, tapi saya cuma bisa harap…
di tengah perjalanan tertaih-tatih itu, apa yang saya lakukan,
masih diberi harga

sebab saya butuh itu semua…
sebab jika tidak karena cinta-NYA, siapalah saya? siapalah kita?

.
.
.
aah,
dia akan pergi…
dan berganti.

kemenangan, kah?
kuharap bisa jadi fitri.
kuharap lembar itu bisa memutih kembali…

ketika mentari terbenam nanti, maka takbir akan mulai dikumandangkan. maka resmilah berganti. maka tersungkur aku dalam sujud panjang.

… maka mohon maaf atas segala khilaf dan salah…

semoga apa yang telah kita usahakan diterima, semoga dapat berjumpa dengannya lagi di tahun depan…

…EID MUBARAK 1430 H…

Eid Mubarak [Faghfirlii, Rabbi...]

“Mendayu suara meniti angkasa
Alunan takbir mengulit pagi
Insan tersenyum tanda gembira
Lebaran mulia menjelma lagi, hari ini…

Di hari lebaran mulia ini
Jangan pula membuat dosa
Begitulah hakikatnya hari raya
Bergembira tanpa melupakanNya, ALLAH yang Esa…

Indah suasana dalam senyuman
Seluruh alam turut raikan
Mengucapkan syukur pada Tuhan atas nikmat yang datang
LimpahanNya…

Ikhlaskan hati, mohon kemaafan,
Leburlah dosa di tapak tangan
Lupakan segala silap dan salah…
Insan bersatu membina ummat…”


—lupa judulnya, [ada yang tahu?] voc. raihan dkk,,

————–

Rabbi?
Satu lagi RamadhanMu telah pergi…
dan satu lagi SyawalMu datang menanti…
Hari Kemenangan itu,
saat ia disambut dengan sukacita,
saat asmaMu membubung tinggi mengudara
di dunia…

Tapi Rabbi,
ada getar di sini…
ada ketakutan,
takut, aku menjadi orang yang merugi

((–atau memang sudah termasuk begitu?–))

Aku tidak ingin berburuk sangka padaMu…
namun aku tidak cukup punya keyakinan akan amalanku…
Sekalipun di Bulan Sucimu, namun kurasa
Shalatku masih tak siaga
Tilawahku masih seadanya
Amalan sunnahku masih nyaris tiada

… Lantas Rabbi,
pantaskah aku mengharap,
ampunanMu?

Bukannya kuragukan MahaPengasih dan MahaPenyayangMu..
namun aku merasa terlalu tidak berharga
tidak pantas rasanya memohon padaMu…

tapi Rabbi,
jika tidak padaMu,
ke mana harus kularikan dukaku?

….
Ya Allah,
tolong maafkan aku,
jika tak pantas dengan egoisku ini aku meminta,
tapi sungguh aku membutuhkanMu…

Faghfirlii, Rabbi…

Ya Allah,
maafkan, ampuni, jika aku lancang mengharap..
Namun aku ingin, Ya Allah, ingin bertemu RamadhanMu lagi…
agar bisa lebih belajar memperbaiki diri
lagi,
lagi,
dan lagi…

————————-

Eid Mubarak,
taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum,
minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin

gomenasai for all mistakes…

————————

ya Allah… mohon izinkan jumpa RamadhanMu lagi…