[membingkai memori] Suatu Saat Nanti, Harap Kami

satu tusukan jarum;
satu tubuh menegang;
satu nyawa meregang.

dan langit kembali muntahkan tangis penyesalan
atas jiwa yang melayang
sia-sia, tanpa makna.

satu butir pil kuningputih;
satu wajah menyeringai pedih;
satu aroma kematian menguar merintih.

dan bumi kembali goncangkan isak kesedihan
atas raga yang terpuruk tak berdaya
kelabukan masa depan bangsa.

berjuta mata memerah saga
berjuta tangan terkepal di dada
berjuta kaki terhentak geram merasa
perlu!
ada usaha, ada karya ada nyata
tak hanya omongkosong belaka
tuk coba hentikan semua.

maka satu pena diangkat.
maka satu mikrofon dinyalakan.
maka satu kalimat digulirkan.
maka satu ide dilontarkan.
maka satu fakta diputuskan.
maka satu rumah rehabilitasi dibangunlah,
maka satu pencegahan serius diporsikan,
dan satu asa perubahan mulai meledak menemukan muaranya.

awalnya
lalu: berjuta.

berjuta pena terangkat, mikrofon menyala,
kalimat bergulir, ide terlontar,
fakta terputus, rehabilitasi terbangun,
pencegahan terporsi,
dan berjuta asa perubahan…
berlarian bebas menemukan muaranya.

hingga akhirnya
… suatu saat nanti,
harap kami

: tak ada tusukan jarum tak lagi pil kuningputih
tak ada tubuh menegang tak lagi wajah menyeringai pedih,
tak ada ada nyawa meregang tak lagi menguar aroma kematian di udara

.
.
.
… dan dunia tak lagi berduka
menyongsong masa depannya.

[membingkai memori] Selalu Terpatri

membuka mata

atas waktu, tuk bernapas kembali.

membias mentari mengintip dari jendela

——atas kesempatan, tuk rasakan cahaya pagi.

mengawali langkah pertama

———atas kemurahan, tuk kembali awali hari.

 

pada-MU, selalu teringat. Seharusnya.

 

bercengkrama dengan teman sejawat

atas perizinan, tuk miliki teman senasib sepenanggungan.

bercandaria dengan sahabat

——atas pemberian, tuk mereka yang berharga tak tergantikan.

berjalan bersama dengan sosok terdekat

———atas pengertian, tuk belahan jiwa, menggenggam arungi kehidupan.

 

pada-MU, takkan terlupa. Semoga.

 

—setiap tetes darah yang mengaliri nadi setiap pandang yang menyejukkan hati suara-suara yang terdengar hiasi hari aroma yang terhantar menyenangkan diri langkah yang terayun kian pasti kejutan-kejutan yang menghiasi pencarian ini semua nikmat semua kemurahan semua kebaikan semua petunjuk yang selalu mengarahkanku dalam setiap perjalanan hidup ini…

.

.

.

pada-Mu, selalu terpatri.

syukurku

.

.

Selamanya.

.

.

.

.

[semoga tak hanya dalam puisi saja]

[membingkai memori] Dua, Tiga–Juta Masa Depan Bangsa

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga

Dua, tiga masa depan bangsa yang berbeda

.

Di sisi satu,

Anakanak berlarian riang tanpa duka

: pagi hari ayahbunda kerja; sebelum pergi cium lembut kening mereka

Jalanan merata, walau macet terkadang namun tak apa

Pergi ke sekolah riang belajar makan bekal main bersama teman

Tatkala malam, nyalakan kotak persegi tengok dunia:

juta berita bahagia terpampang di sana

ayahbunda pulang, makan bersama, lalu tidur nyenyak

selimut hangat membalut, mimpi indah menyambut.

.

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga

Dua, tiga masa depan bangsa yang berbeda

.

Di sisi dua,

Anakanak berlarian riang tanpa duka

: pagi hari ayahbunda kerja; tak cium sebab pergi sebelum mata bahkan membuka

Jalanan macet, klakson berbunyi di manamana

Ke sekolah walau terpaksa jajan-jajan berantem dengan teman

Tatkala malam, nyalakan kotak persegi tengok dunia:

berita duka berita bahagia seliweran takkeruan di sana

tapi malam ini ayahbunda tak pulang, makan malam dingin, tidur gelisah

untung masih ada selimut, jadi mimpi masih terjumput.

.

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga

Dua, tiga masa depan bangsa yang berbeda

.

Di sisi tiga,

Anakanak berlarian berusaha riang walau duka

: pagi hari tak ada yang kerja sebab tak ada orangtua

Jalanan kumuh, tapak kaki menapak tanah panas tanpa alasnya

Tak sekolah, tapi nongkrong di jalan di pasar dimana saja

boro-boro tengok berita, kotak persegipun tak ada

: ah, tapi paling cuma duka bertumpahan di sana

Malam merayap badan terhempas lelah. Yah,

bisa makan saja Alhamdulillah. Tidur?

beratap langit beralas bumi, bisa nyenyak saja sudah anugerah.

.

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga—ah, Lebih!

ada jutaan masa depan bangsa yang berbeda

Ya, ada jutaan masa depan berbeda

Membayang menunggu saat menyata

Masa depan siapa?

Di mana?

Kapan?

Mengapa?

Bagaimana?

.

.

.

Ah.

Sebuah retorika yang kan kau tahu sendiri jawabannya

.

.

.

.

–in memoriam of IPB Art Contest 2010. dibuat dengan terburuburu di kamar nomor 76 gedung A1, larilari ke warnet di Bara untuk ngeprint, dan alhamdulillah tidak percuma =)

[membingkai memori] Membaca Perekonomian Kita

Membaca rupiah kita

mengeja melihatnya mencekik leher rakyat jelata.

Membaca rupiah kita

mendengarnya dihamburkan elit-elit negara.

 

Membaca peta pembangunan kita

menonton si miskin terlunta-lunta.

Membaca peta pembangunan kita

menyaksikan si kaya terlena hartanya kian berlipatganda.

 

Membaca perekonomian kita

sesak gumpal di dada.

Kita bersama di bawah satu bendera!

Kita bersama wariskan gemilang sebelumnya!

Tapi mengapa?

Tapi mengapa sedemikian mengerucutnya beda

antara kita?

 

Membaca pasar kita

menemukan petani mengais rupiah demi ladang kecilnya.

Membaca pasar kita

Menyadari pengusaha kian kaya kian meroket asetasetnya.

 

Membaca perekonomian kita,

… jeri saksikan kenyataan yang ada.

maka lewat guratan kata yang mungkin tak sarat makna tapi aku coba tuangkan sebuah cerita

tentang si anak kecil yang tak punya mainan apaapa jadinya ia cuma bisa duduk bengong di rumahnya saja tentang orang tuanya yang tak punya kerja jadi cuma bisa belai anaknya sambil tahan lapar dahaga tentang si pemuda yang digebuki karena curi roti buat makan paginya tentang si pengusaha kaya yang santaisantai miliaran rupiah tapi buruhnya kerja berat cuma berapa perak jadinya tentang si gadis yang jadi tki di negara tetangga babakbelur digebuki majikannya tentang si artis yang nikah cerai jadi ramai berita mediamassa jalanjalan bulan madu ke luar negeri tentang si ibu yang bunuh anaknya karena takpunya uang buat beli susu mereka tentang mahasiswa yang takluluslulus karena menyambi bekerja tentang orangorang yang kianhari kian putusasa karena hargaharga yang kian mencekik napas mereka

… mungkin pahit, tapi sadarilah

fakta.

Membaca perekonomian kita

tapi takmungkin tergugu saja.

 

Kitalah putra bangsa, maka bangkitlah!

Sebab negeri ini tunggu, harap karya

demi Indonesia yang lebihbaik dari sebelumnya

 

… sebab harapan itu masih ada.

.

.

.

miftahul jannah, a44090024, keluarga 1 [mandiri]

.

.

.

in memoriam of MPKMB 46. Puisi yang biasa saja, sebenarnya, namun alhamdulillah diberikan kesempatan untuk membacakannya di depan 3000 mahasiswa baru di kampus rakyat itu, di depan Generasi Emas Cemerlang 46..