Kuas

Aku selalu membawa kuasku
Ke mana pun aku pergi,
Kalau-kalau aku perlu menutupi
Agar tak terlihat diriku yang asli.
Aku sangat takut memperlihatkan diriku,
Takut dengan apa yang akan kau perbuat–takut
Kau akan tertawa atau mengejekku.
Aku takut kehilangan dirimu.

Aku ingin melepaskan semua lapisan catku
Menunjukkan diriku yang asli dan nyata,
Tapi aku ingin kau mencoba mengerti,
Aku perlu kau menerima apa yang kau lihat.
Jadi, kalau kau bersabar dan menutup mata,
Akan kutinggalkan semua lapisanku perlahan.
Tolonglah mengerti betapa sakitnya
Membiarkan diriku yang asli terlihat.

Sekarang semua lapisanku sudah terlepas.
Aku merasa telanjang dan kedinginan,
Dan kalau kau masih mencintaiku apa adanya,
Kau adalah temanku, semurni emas.

Tapi, aku perlu menyimpan kuasku,
Dan memegangnya dalam tanganku,
Aku ingin kuas itu siap kupakai
Kalau-kalau ada yang tak mengerti.
Jadi, lindungilah aku, kawan
Dan terima kasih atas ketulusan kasihmu,
Tapi, biarkanlah aku menyimpan kuasku
Sampai aku juga mencintai diriku.

–Chicken Soup for the Teenage Soul,
Betty B. Youngs.

.

.

.

.

untuk yang tertemukan.

yah… seperti itulah.

.

.

maaf, dan terima kasih atas pengertiannya.

[membingkai memori] Suatu Saat Nanti, Harap Kami

satu tusukan jarum;
satu tubuh menegang;
satu nyawa meregang.

dan langit kembali muntahkan tangis penyesalan
atas jiwa yang melayang
sia-sia, tanpa makna.

satu butir pil kuningputih;
satu wajah menyeringai pedih;
satu aroma kematian menguar merintih.

dan bumi kembali goncangkan isak kesedihan
atas raga yang terpuruk tak berdaya
kelabukan masa depan bangsa.

berjuta mata memerah saga
berjuta tangan terkepal di dada
berjuta kaki terhentak geram merasa
perlu!
ada usaha, ada karya ada nyata
tak hanya omongkosong belaka
tuk coba hentikan semua.

maka satu pena diangkat.
maka satu mikrofon dinyalakan.
maka satu kalimat digulirkan.
maka satu ide dilontarkan.
maka satu fakta diputuskan.
maka satu rumah rehabilitasi dibangunlah,
maka satu pencegahan serius diporsikan,
dan satu asa perubahan mulai meledak menemukan muaranya.

awalnya
lalu: berjuta.

berjuta pena terangkat, mikrofon menyala,
kalimat bergulir, ide terlontar,
fakta terputus, rehabilitasi terbangun,
pencegahan terporsi,
dan berjuta asa perubahan…
berlarian bebas menemukan muaranya.

hingga akhirnya
… suatu saat nanti,
harap kami

: tak ada tusukan jarum tak lagi pil kuningputih
tak ada tubuh menegang tak lagi wajah menyeringai pedih,
tak ada ada nyawa meregang tak lagi menguar aroma kematian di udara

.
.
.
… dan dunia tak lagi berduka
menyongsong masa depannya.

[membingkai memori] Selalu Terpatri

membuka mata

atas waktu, tuk bernapas kembali.

membias mentari mengintip dari jendela

——atas kesempatan, tuk rasakan cahaya pagi.

mengawali langkah pertama

———atas kemurahan, tuk kembali awali hari.

 

pada-MU, selalu teringat. Seharusnya.

 

bercengkrama dengan teman sejawat

atas perizinan, tuk miliki teman senasib sepenanggungan.

bercandaria dengan sahabat

——atas pemberian, tuk mereka yang berharga tak tergantikan.

berjalan bersama dengan sosok terdekat

———atas pengertian, tuk belahan jiwa, menggenggam arungi kehidupan.

 

pada-MU, takkan terlupa. Semoga.

 

—setiap tetes darah yang mengaliri nadi setiap pandang yang menyejukkan hati suara-suara yang terdengar hiasi hari aroma yang terhantar menyenangkan diri langkah yang terayun kian pasti kejutan-kejutan yang menghiasi pencarian ini semua nikmat semua kemurahan semua kebaikan semua petunjuk yang selalu mengarahkanku dalam setiap perjalanan hidup ini…

.

.

.

pada-Mu, selalu terpatri.

syukurku

.

.

Selamanya.

.

.

.

.

[semoga tak hanya dalam puisi saja]

Doa [kepada pemeluk teguh]

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh

CahayaMu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tak bisa berpaling

karya Chairil Anwar
—————–

entah, tiba-tiba teringat puisi indah ini.
Tuhan… aku tidak bisa berpaling dariMu…

.

.

.

lama tidak menulis.

hey, hatiku,

apa kabarmu?