Integrated Training 2010

Malam itu.

Adik-adikku, tahukah kalian? Saya juga menangis.

Kami juga menangis.

Kami juga merasa.

.

.

Sebab memang begitulah…

Siapa bilang dakwah itu mudah?

Siapa bilang surga itu murah?

.

Maka nikmatilah… reguklah kemanisan ukhuwah itu, dan jaga ia.

Jaga saudara-saudaramu agar selalu berjalan di jalan yang sama, menuju cahaya kebaikan itu…

.

.

IT 2010.

Tak hanya buatmu, dik. Bagi saya juga.

IT WORKS.

.

.

.

di manapun, semoga kita terus berjalan di jalan yang sama…


Tentang Menangis

Seiring berjalannya waktu, tentunya ada banyak hal yang berubah dari diri seorang manusia. Seiring dengan bertambahnya usia dan berkurangnya waktu di dunia, tentunya ada manusia yang mengalami peningkatan; dan ada pula manusia yang mengalami penurunan.

Manusia itu makhluk yang dinamis, apakah kamu setuju? Setiap manusia, selama masa hidupnya, akan terus mengalami pengembangan… ataupun penyusutan. Semua itu tergantung pada bagaimana sang manusia mau menjalani kehidupannya.

Mengenai diriku sendiri…
Yah, sejujurnya aku tidak begitu tahu apakah aku sudah jauh berkembang, atau jauh menyusut, atau berkembang dan menyusut, dan sebagainya. Tapi yang penting, tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik itu harus selalu ada. Dan diusahakan. Sebab memang pada hakikatnya manusia hanya berhak dan berkewajiban untuk berusaha dan bertawakkal; Allah-lah yang berkuasa menentukan hasilnya.

Tapi satu hal yang lambat laun semakin kusadari; bahwa semakin ke sini aku semakin mudah menangis. Pada bulan-bulan belakangan ini, kusadari aku semakin mudah menitikkan air mata. Karena banyak hal, tentu. Aku menangis ketika aku merasa sedih. Ketika kesal. Ketika bingung. Ketika kecewa. Ketika marah. Ketika menyesal. Ketika terharu. Ketika melihat orang lain menangis.

Bahkan ketika menangis; aku sendiri bingung mengapa aku harus menangis.

Cengeng, ya?

Dan hal itu semakin menjadi-jadi; setelah beberapa bulan sebelumnya aku mengalami kondisi yang tanpa tangis, alias terlalu bingung sampai-sampai tidak bisa menangis.

Membandingkan dengan kondisi sebelumnya, tentunya aku sangat bersyukur karena Allah masih memberiku air mata…
Karena tidak bisa menangis itu adalah kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Ketika dadamu sangat sakit; ketika ingin menutup mata; ketika ingin berlari; keberadaan air mata bisa menjadi solusi untuk meluahkan semuanya.

Air mata adalah bahasa universal.

Mungkin kamu tidak setuju. Yah, tidak apa-apa.

Terkadang, aku sangat kesal pada diriku sendiri jika aku sudah mulai menangis. Karena menangis itu seperti simbol dari sebuah kekalahan. Egoku menahanku untuk tidak menitikkan air mata; namun dadaku yang sesak dan mataku yang memanas tidak bisa diajak kompromi.

Yah, semakin ke sini, aku semakin cengeng. Hal-hal sekecil apapun sepertinya bisa membuatku menangis…

Namun menangis dapat melembutkan hati. Karena Insya Allah, dalam setiap tetes air mata yang mengalir, ia menjernihkan hati dan pikiranku, serta mengandung tekad untuk berusaha menjadi lebih baik lagi…

Tapi tetap saja; terlalu banyak menangis sepertinya kurang baik. Mungkin aku harus berusaha untuk menemukan peluahan emosi yang lebih positif daripada sekedar menitikkan air mata. Dan tentunya terus berusaha memenej emosiku sendiri.

Manusia adalah makhluk yang dinamis. Selalu berubah. Insya Allah ke arah yang lebih baik.

Jadi… bantu aku ya, kawan? ^_^

Betapa Allah Sayang Padaku…

Betapa Allah masih rela memberikan kasihNya kepadaku…
Padahal tlah terlalu banyak perintahNya yang kuabaikan

Betapa Allah masih memberikan karuniaNya kepadaku…
Padahal tlah terlalu tak terhitung dosa dan kesalahan yang aku lakukan

Betapa Allah masih mau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku…
Padahal tlah terlalu sering kulupakan Dia dalam keseharianku

Betapa Allah masih menutupi semua kekurangan dan kesalahanku…
Padahal tlah terlalu sering kulanggar apa yang Kau gariskan tanpa merasa malu padaMu

Betapa Allah sayang padaku…
Dan betapa tidak tahu malunya aku, dengan semua yang telah kulakukan

Betapa Allah sayang padaku…
Dan betapa bodohnya aku, tidak menyadari fakta itu

Betapa Allah sayang padaku…
Dan karena itulah aku harus berusaha untuk membalasNya,
Menyampaikan rasa syukurku yang tak terhingga,
Dengan berusaha untuk menjalankan apa yang telah Ia gariskan kepadaku,
Dengan berusaha untuk memenuhi perintah dan menjauhi laranganNya,
Dengan berusaha…
Mengabdi dengan pengabdian yang seutuhnya.

————————————-

Sudah membacakah kata-kata di atas? Kali ini, aku ingin menyampaikan sebuah perenungan. Baik untukku, untukmu, untuknya, dan untuk kita semua.

Ya, betapa Allah sangat menyayangi kita…

Namun, betapa ironisnya, ketika kita benar-benar tidak menyadariNya…

Masih inget dengan emotionless periode yang kutulis di post-ku yang sebelumnya? Yah, yang namanya manusia, pasti emang ada masanya di saat kadar-kadar keimanan itu meningkat, atau menurun.

Yang ironis, seringnya, sewaktu kadar keimanan kita semakin rendah, kita bener2 menyalahkan dunia atas apa yang kita rasain. Bahkan, pada stadium yang sangat parah, kita bisa jadi menyalahkan Allah, karena menganggapNya sangat tidak adil.

Namun pernahkah kamu sadari, kalau Ia selalu ada? Ia tidak pernah menolakmu, Ia tidak pernah megecewakanmu, dan berapakalipun kau pergi dariNya, tanganNya akan selalu terbuka lebar saat kau datang lagi ke dalam pelukanNya…

waaldhdhuhaa
[93:1] Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
waallayli idzaa sajaa
[93:2] dan demi malam apabila telah sunyi,
maa wadda’aka rabbuka wamaa qalaa
[93:3] Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada  (pula) benci kepadamu,
walal-aakhiratu khayrun laka mina al-uulaa
[93:4] dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu  dari permulaan.
walasawfa yu’thiika rabbuka fatardaa
[93:5] Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan  karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.
alam yajidka yatiiman faaawaa
[93:6] Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang  yatim, lalu Dia melindungimu.
wawajadaka daallan fahadaa
[93:7] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang  bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
wawajadaka ‘aa-ilan fa-aghnaa
[93:8] Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang  kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

(QS Ad-Dhuha/93:1-8)  sumber: www.dudung.net

Indah, ya? Itulah janji Allah, dan janji Allah itu pasti…
Karena itu, mengapa kita masih berpaling?

Ada sebuah nasyid dari Raihan, sebenarnya udah nggak asing lagi, tapi nasyid ini bener2 bikin aku yang sedang dalam emotionless periode nangis waktu mendengarnya…

Mengemis Kasih (Raihan)

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati
Kepada manusia yang alpa jua buta
Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah
Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah

Semalam sudah sampai ke penghujungnya
Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa yang mengiris hati

Tuhan, dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmatMu mengalir luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmatMu di bumi

Tuhan, walau taubat sering ku mungkir
Tapi pengampunanMu tak pernah bertepi
Bila selangkah ku rapat padaMu
Seribu langkah Kau rapat padaku…

……………………………..

Betapa Allah Sayang Padaku…