Lingkaran Cahaya

Lingkaran cahaya saya yang pertama adalah ketika saya baru tercatat sebagai siswi kelas satu SMP. Pada hari Jum’at seusai sekolah, di pintu kelas sudah hadir sesosok wajah manis yang kemudian mengajak saya dan teman-teman putri di kelas saya untuk duduk bersama…

… dan membentuk lingkaran cahaya.

Sang pembawa cahaya ini kami panggil dengan sebutan ‘Teteh’. Seorang mahasiswi yang menyatakan dirinya sebagai alumni SMP kami, dan kembali untuk mengajak kami bersama meraih cahaya. Setiap minggu ia selalu hadir dengan senyuman, dengan makanan yang siap dihidangkan, dengan kisah untuk diceritakan, dengan ilmu untuk dipelajari.

Setelah ia menjabat tangan kami satu-persatu, kami mulai duduk melingkar. Pada mulanya selalu ia yang memberikan cahaya kepada kami, melalui untaian kata-kata indah yang mengalir dari bibirnya. Kemudian ia mulai mengajarkan bahwa kami pun bisa menjadi pemberi cahaya. Dengan mencurahkan perasaan kami, dengan bersama mengkaji hikmah dari setiap hal yang kami bahas setiap kali.

Jika saya mencoba mengingat beberapa tahun ke belakang, yang membuat saya merasa nyaman dalam lingkaran cahaya adalah sebentuk ketulusan yang ditawarkannya. Kehangatan saat duduk melingkar bersama, gelak tawa saat berbagi cerita, celetukan-celetukan, dan tentunya… kepedulian yang terasa nyata.

Sejak saat itu, saya jatuh hati pada lingkaran cahaya. Lingkaran yang terbentuk secara ‘informal’ sepulang sekolah, dengan seorang mentor yang mendorong kami untuk banyak berbagi ilmu, kisah, dan menjadi lebih baik bersama. Maka setiap Jum’at sepulang sekolah adalah saat yang selalu saya rindukan. Senyum manis dan sapa salam sang Teteh adalah pemandangan yang saya nantikan. Saat melingkari empat meja yang dikumpulkan menjadi satu—terkadang berdesakan hingga lutut kami saling bertemu—lalu bersama melantunkan ayat suci dari Al-Qur’an adalah pengalaman yang tidak tergantikan.

.

ketika duduk melingkar

dan memandang wajah-wajah keimanan

ah, takbisa cegah benakku melayang

: padamu, padanya, pada mereka, pada kalian.

.

.

Tiga tahun setelahnya. Seperti seragam saya yang telah berganti, maka sekolah saya pun berganti menjadi jenjang yang lebih tinggi. Saat melangkahkan kaki pertama kalinya di SMAN terbaik di kota kelahiran saya ini, benak saya bertanya-tanya.

Akankah di sini saya kembali menemukan lingkaran cahaya?

Sangat rindu rasanya melingkar dan berbagi cahaya lagi, mengingat lingkaran sebelumnya telah terhenti karena SMA yang berbeda-beda dari personelnya. Sang pemberi cahaya, Teteh Mentor kami, saat itu pun sudah jarang dapat ditemui.

Dan pertanyaan saya pun kembali terjawab, saat lagi-lagi sepulang sekolah di hari Jum’at saya temukan sesosok berjilbab lebar yang sudah tersenyum manis di depan kelas saya. Seraut wajah baru, namun sorot mata dan gestur tubuhnya menawarkan ketulusan yang sama.

“Teteeeeh!” refleks saya menyapa dan menghampirinya.

Ia tersenyum dan menjabat tangan saya, hangat. “Kelas X-9, bukan?” tanyanya. Saya mengangguk membenarkan.

“Mentoring, yuk?” tawarnya sejurus kemudian.

Maka saya mengajaknya masuk ke dalam kelas. Membiarkan sang Teteh memperkenalkan dirinya, lalu bertemu dengan teman-teman sekelas saya yang baru. Dan hari itu, walaupun dengan personel dan Teteh yang berbeda dari sebelumnya, saya kembali menemukannya. Lingkaran cahaya.

.

padamu yang menyambutku dengan senyum kehangatan

padanya yang menggebu-gebu mengulas firman sang Ar-Rahman

pada kalian yang taklelah dalam hujan amanah

pada mereka yang memberikan segala daya upaya…

.

.

Lingkaran cahaya adalah tempat saya berlabuh semasa SMA. Setelah lelah berkutat selama seminggu dengan aktivitas akademik dan organisasi yang padat, duduk melingkar bersama dan berbagi adalah istirahat yang sangat menyenangkan.

Melalui lingkaran ini, kami diingatkan untuk selalu peduli. Kondisi lingkaran memang tidak selalu ceria. Ada kalanya kami merenung bersama, menangis, dan saling menghibur saat mendengar kabar kurang baik dari salah satu personel lingkaran. Pun saat mendengar kabar dan kisah-kisah yang disampaikan…

Melalui lingkaran ini, kami diajarkan untuk selalu bersyukur, selalu ikhlas dalam apapun yang kami lakukan. Memaknai kehidupan dan setiap peristiwa dari sudut pandang yang berbeda, mengkaji pelajaran dalam setiap keping kejadian. Dan yang terpenting, menjadi bagian dari lingkaran cahaya ini membuat kami merasa kaya. Kaya akan kedekatan yang semakin intens dengan Sang Pencipta…

.

ketika duduk melingkar

dan mendengarkan uraian tentang keikhlasan

ah, tak bisa cegah memoriku berdilatasi

menghadirkan segenap wajah

berbalut jilbab beraneka warna,

dengan blus, rok, atau gamis senada

.

.

Sengaja saya mencoba lebih dekat dengan para pemberi cahaya. Mengetahui kehidupan mereka lebih jauh, mempertanyakan alasan mereka untuk repot-repot hadir setiap minggu di sela kesibukan kuliah—bahkan kerja—yang tentunya tidaklah mudah.

Dan jawabannya membuat saya tertegun dengan mata memanas.

Simpel saja, cinta. Rasa cinta yang berurat-berakar pada jalan kebaikan… pada lingkaran cahaya… itulah yang menuntun mereka untuk kembali.

Saya pun telah jatuh cinta sedemikian dalam pada lingkaran cahaya. Maka saya bertekad untuk kembali. Seperti mereka,

…menjadi pemberi cahaya.

.

.

.

.

Langkah kaki membawa saya menuju pintu kelas yang terbuka lebar. Seulas senyum termanis sudah saya persiapkan. Bismillah.

“Assalamu’alaikum…” sapa saya sejurus kemudian. Dan sosok-sosok berbalut putih abu-abu itu pun berbalik, sumringah.

“Waalaikumussalam, Teteeeeh!” jawab mereka riang. Tak lama, terdengar suara meja dan kursi digeser. Sekejap, lingkaran itu pun terbentuk.

Saya tersenyum, memandang binar-binar antusias di wajah mentee-mentee saya. Binar yang senantiasa mendorong saya untuk hadir dan berbagi cahaya setiap minggunya.

“Yak, kita buka mentoring minggu ini dengan membaca basmalah…”

.

.

.

ketika duduk melingkar

dan bersama mengkaji kebenaran

tulus dari lubuk hati terdalam, terucap sebuah doa:

duhai, wanita-wanita bersahaja

yang tak pernah lelah bergerak tuk gapai ridha-NYA!

semoga kita dapat bersua,

dan duduk melingkar di surga…

.

.

.

menulis ini dengan senyum terkembang,

.bulanbiru. SMANSA 2009. ARL IPB’46

salah satu personel dari jutaan lingkaran cahaya…

[membingkai memori] Dua, Tiga–Juta Masa Depan Bangsa

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga

Dua, tiga masa depan bangsa yang berbeda

.

Di sisi satu,

Anakanak berlarian riang tanpa duka

: pagi hari ayahbunda kerja; sebelum pergi cium lembut kening mereka

Jalanan merata, walau macet terkadang namun tak apa

Pergi ke sekolah riang belajar makan bekal main bersama teman

Tatkala malam, nyalakan kotak persegi tengok dunia:

juta berita bahagia terpampang di sana

ayahbunda pulang, makan bersama, lalu tidur nyenyak

selimut hangat membalut, mimpi indah menyambut.

.

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga

Dua, tiga masa depan bangsa yang berbeda

.

Di sisi dua,

Anakanak berlarian riang tanpa duka

: pagi hari ayahbunda kerja; tak cium sebab pergi sebelum mata bahkan membuka

Jalanan macet, klakson berbunyi di manamana

Ke sekolah walau terpaksa jajan-jajan berantem dengan teman

Tatkala malam, nyalakan kotak persegi tengok dunia:

berita duka berita bahagia seliweran takkeruan di sana

tapi malam ini ayahbunda tak pulang, makan malam dingin, tidur gelisah

untung masih ada selimut, jadi mimpi masih terjumput.

.

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga

Dua, tiga masa depan bangsa yang berbeda

.

Di sisi tiga,

Anakanak berlarian berusaha riang walau duka

: pagi hari tak ada yang kerja sebab tak ada orangtua

Jalanan kumuh, tapak kaki menapak tanah panas tanpa alasnya

Tak sekolah, tapi nongkrong di jalan di pasar dimana saja

boro-boro tengok berita, kotak persegipun tak ada

: ah, tapi paling cuma duka bertumpahan di sana

Malam merayap badan terhempas lelah. Yah,

bisa makan saja Alhamdulillah. Tidur?

beratap langit beralas bumi, bisa nyenyak saja sudah anugerah.

.

Pejamkan mata; apa yang kau lihat?

Dua, tiga—ah, Lebih!

ada jutaan masa depan bangsa yang berbeda

Ya, ada jutaan masa depan berbeda

Membayang menunggu saat menyata

Masa depan siapa?

Di mana?

Kapan?

Mengapa?

Bagaimana?

.

.

.

Ah.

Sebuah retorika yang kan kau tahu sendiri jawabannya

.

.

.

.

–in memoriam of IPB Art Contest 2010. dibuat dengan terburuburu di kamar nomor 76 gedung A1, larilari ke warnet di Bara untuk ngeprint, dan alhamdulillah tidak percuma =)

[membingkai memori] Membaca Perekonomian Kita

Membaca rupiah kita

mengeja melihatnya mencekik leher rakyat jelata.

Membaca rupiah kita

mendengarnya dihamburkan elit-elit negara.

 

Membaca peta pembangunan kita

menonton si miskin terlunta-lunta.

Membaca peta pembangunan kita

menyaksikan si kaya terlena hartanya kian berlipatganda.

 

Membaca perekonomian kita

sesak gumpal di dada.

Kita bersama di bawah satu bendera!

Kita bersama wariskan gemilang sebelumnya!

Tapi mengapa?

Tapi mengapa sedemikian mengerucutnya beda

antara kita?

 

Membaca pasar kita

menemukan petani mengais rupiah demi ladang kecilnya.

Membaca pasar kita

Menyadari pengusaha kian kaya kian meroket asetasetnya.

 

Membaca perekonomian kita,

… jeri saksikan kenyataan yang ada.

maka lewat guratan kata yang mungkin tak sarat makna tapi aku coba tuangkan sebuah cerita

tentang si anak kecil yang tak punya mainan apaapa jadinya ia cuma bisa duduk bengong di rumahnya saja tentang orang tuanya yang tak punya kerja jadi cuma bisa belai anaknya sambil tahan lapar dahaga tentang si pemuda yang digebuki karena curi roti buat makan paginya tentang si pengusaha kaya yang santaisantai miliaran rupiah tapi buruhnya kerja berat cuma berapa perak jadinya tentang si gadis yang jadi tki di negara tetangga babakbelur digebuki majikannya tentang si artis yang nikah cerai jadi ramai berita mediamassa jalanjalan bulan madu ke luar negeri tentang si ibu yang bunuh anaknya karena takpunya uang buat beli susu mereka tentang mahasiswa yang takluluslulus karena menyambi bekerja tentang orangorang yang kianhari kian putusasa karena hargaharga yang kian mencekik napas mereka

… mungkin pahit, tapi sadarilah

fakta.

Membaca perekonomian kita

tapi takmungkin tergugu saja.

 

Kitalah putra bangsa, maka bangkitlah!

Sebab negeri ini tunggu, harap karya

demi Indonesia yang lebihbaik dari sebelumnya

 

… sebab harapan itu masih ada.

.

.

.

miftahul jannah, a44090024, keluarga 1 [mandiri]

.

.

.

in memoriam of MPKMB 46. Puisi yang biasa saja, sebenarnya, namun alhamdulillah diberikan kesempatan untuk membacakannya di depan 3000 mahasiswa baru di kampus rakyat itu, di depan Generasi Emas Cemerlang 46..

Aku dan Perjalanan Waktu [in memoriam of Classic Architecture]

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Ah, hari sudah semakin larut, dan rasanya mataku pun semakin berat. Tapi… kabar bahwa gerhana akan terjadi dua setengah jam lagi cukup membuatku bersemangat untuk tetap terjaga.

Aku menatap layar laptopku… lalu beralih pada tumpukan kertas slide di sebelah kananku. Tak kuasa menahan kuapan.

Meneguk Coolin-ku yang mulai mendingin, akhirnya aku mengambil slide terdekat dan mulai membaca. Yunani… Kuil… Amphi… theatre…

Dan tanpa kusadari, kedua mataku mulai mengatup.

Tenggelam dalam gelap…

 .

 —

 …langit biru, awan putih

 Terbentang indah… lukisan Yang Kuasa…

 Ku melayang, di udara

 Terbang dengan balon udaraku…

 

 .

Aku tersentak bangun, berjengit saat merasakan sinar matahari menerpaku. Setelah sejenak mengerjap-ngerjapkan mata, pandanganku pun mulai terbiasa. Berganti dengan kebingungan yang nyata.

Ini… di mana?

Sebuah situasi yang asing! Aku terbaring di atas lantai batu besar, di tengah sebuah ruangan yang penuh dengan tiang-tiang tinggi berulir. Tak pernah kulihat bangunan ini sebelumnya..

Perlahan aku bangkit dan mulai mengedarkan pandangan ke sekitar. Bangunan ini berbentuk persegi panjang, dan materialnya dari batu-batu besar yang terpahat dengan apik. Ketika berjalan ke arah luar, kusadari bangunan ini dikelilingi oleh tiang-tiang tinggi yang cukup rapat… Secara keseluruhan, bangunan ini tinggi sekali! Aku berasa mengerdil.

Ketika tiba di depannya, barulah aku ternganga. Ternyata… di depanku berdiri dengan megah sebuah kuil yang konon hanya bisa kulihat dalam foto… yang konon memakan waktu puluhan tahun pembangunannya, dan merupakan lambang kemegahan pada zamannya…

Kuil Parthenon!

Aku terperanjat, lalu berdecak kagum. Sepertinya entah bagaimana Sang Waktu telah memutarbalikkan jam pasirnya sehingga aku kembali ke zaman 3000 SM, ketika awal masa Arsitektur Klasik di Yunani

Indahnya… lihatlah betapa jelasnya kolom dan entablature berorde Dorik tersebut! Tanpa base, berdiri dengan megah… dan ternyata memang benar! Sebagian kolomnya pun berorde Ionik… sangat jelas bentuk shell pada capital kolomnya, dengan entablature yang berhias gaya dentils

Belum puas mataku menjelajah, kurasakan sebuah tepukan di pundak.

“Hey, Nak,” sapa sebuah suara berat membuatku menoleh, dan mataku bertumbukan dengan raut wajah ramah seorang lelaki tua. Kutaksir, usianya sekitar 50 tahun-an. “Kamu pasti peserta tur, kan? Rombongan sudah hendak berangkat, ayo cepat!” ujarnya.

Masih agak bingung, aku mengikuti langkah Pak Tua itu kembali ke rombongan, dan kendaraan kami pun mulai melaju. Merapikan jilbabku yang tertiup angin, mataku tak bisa lepas dari pemandangan-pemandangan yang sangat menakjubkan.

Kuil Apollo… lihatlah motif daun achantus pada capital kolom-nya, cantik sekali… dan Amphitheatre yang megah di lereng bukit…

Tiba-tiba, angin kencang berhembus. Seluruh peserta tur merapatkan pakaiannya. Aku memejamkan mata, merasakan angin menampar pipiku, dan seolah aku tersedot putaran waktu…

 —

 .

Kembali aku mengerjapkan mata. Sekarang aku di mana, ya? Menoleh ke kanan dan kiri, aku menyadari sekitarku bukan lagi peserta tur, melainkan aku tengah duduk di seberang sebuah gedung besar yang seperti Kuil Yunani… namun terlihat bulatan kubah di tengahnya.

Apakah… otakku dengan cepat berusaha memutarbalikkan teori. Benar! Ini adalah Kuil Pantheon! Bagaimana mungkin aku tidak mengenali ciri arsitektur Yunani yang dipadu dengan dome itu? Cantiknya…

Tanpa kusadari, aku melangkah mundur-mundur untuk melihat lebih jelas hingga terasa menabrak seseorang. Aku langsung berbalik dengan tergesa dan menyerukan maaf. Sebuah tawa merdu membuatku menegakkan kepala, dan mataku beradu pandangan dengan mata cokelat seorang gadis berambut ombak.

“Tidak apa-apa, aku juga nggak merhatiin kalau kamu ada di situ, maaf yaa…” ujarnya sambil tersenyum manis.

Mau tidak mau, aku ikut melengkungkan bibir.

“Eh, ini di Roma, ya?” ucapku kemudian. Gadis itu menganggukkan kepalanya, terlihat agak sedikit bingung.

“Memang kamu bukan berasal dari sini, ya?” tanyanya balik. “Hm… pantas rasanya aku tidak pernah melihatmu…”

Aku mengedikkan kepala. “Yah, aku terlempar dalam kuasa-NYA mengendalikan waktu hingga sampai di sini… Aku berasal dari sebuah negeri yang jauuh sekali…” ucapku menggantung. Lagi-lagi ia tertawa renyah mendengar jawabanku.

“Baiklah… kami biasa menerima tamu, kok,” senyumnya memperlihatkan sederetan gigi putih yang tertata rapi. “Selamat datang di Roma, semoga betah ya…” sambungnya sejurus kemudian. Kulihat, kedua tangannya mengapit lembar-lembar seperti perkamen dalam film Harry Potter, dan perkamen tersebut tergurat sketsa-sketsa dari tinta hitam.

“Kamu senang menggambar?” tanyaku. Ia memeluk tumpukan perkamennya yang mengangguk malu. Rambut ikalnya turut bergerak seiring kepalanya yang mengangguk-angguk. “Boleh nggak aku lihat?” lanjutku memberanikan diri.

Gadis itu –yang kemudian kusadari aku lupa menanyakan namanya—, mengangguk dan mengajakku duduk. Ia menunjukkan sketsa sebuah gedung megah yang segera kukenali. “Ini.. Basilika? Mmm… gedung  pengadilan, ya?” tanyaku. Ia mengangguk. “Di kanan kiri-nya ada ceruk gitu buat tempat duduknya pejabat pengadilan…” lanjutku.

“Wah, kamu tahu banyak, ya?” ujarnya heran. Aku memberikannya sebuah cengiran pasrah. Apa boleh buat, rasanya dari kemarin mainannya beginian melulu dah…

Kemudian ia beranjak ke sketsa selanjutnya. “Yang ini Thermae,” ucapnya menerangkan. “Thermae ini mewah banget loh… merupakan tempat pemandian umum air panas. Yang aku gambar ini Therme Caracolla, bentuknya simetris. Cantik banget, ya?” lanjutnya sambil tersenyum. Aku mengangguk-angguk.

Kemudian ia beranjak ke sketsa yang paling besar, membuka lipatan perkamennya. Aku terkagum-kagum melihat goresan tinta yang menarik struktur sebuah konstruksi pelengkung yang sangat besar dan megah. Terlihat detil trap-trap kursi penonton…

Amphitheatre…” celetukku, menahan napas kagum. Gadis di sebelahku menoleh dan tersenyum. Semburat merah kembali muncul di pipinya.

“Mm… lusa nanti… aku akan menari di sana…” ucapnya malu-malu. “Maukah…”

…namun belum sempat kudengar lanjutannya, WHUSSSSH! Kembali angin berhembus kencang. Gadis itu menjerit kecil saat rambutnya, pakaiannya, dan kertasnya berkibar-kibar. Ia mengarahkan kedua tangannya menutupi wajahnya untuk menghindari debu yang beterbangan.

Sekali lagi, aku merasa tertarik pusaran waktu…

.

Seiring pusaran angin yang mereda, kusadari kembali sekelilingku berganti.  Kali ini, baru menoleh ke atas pun, aku berdecak kagum akan ketinggian atap bangunan tempatku berada, sangat… sangat tinggi dan dilengkapi oleh flying buttress, kolom-kolom melayang… nave arcade, nave tifarium, dan nave clerestory yang indah bukan buatan…

Selamat datang… bisikku pada diriku sendiri. Di Arsitektur Gothic, puncak dari kemegahan Arsitektur Klasik.

Perlahan aku berdiri dan mulai melangkah. Kapel tempatku ‘terdampar’ itu kosong… sehingga derap kakiku memantul-mantul hingga naik ke atap yang tinggi. Tanpa sadar aku begidik sendiri. Beginilah Gothic, lambang kemewahan dan keindahan…

Bulu romaku berdiri. Aku tidak suka di sini. Indah, agung, memang. Tapi… dingin…

Kupercepat langkahku, dan gema derapnya pun semakin cepat. Sebelum aku tiba di pintu, akhirnya kuputuskan untuk berbalik, dan aku melihatnya.

Jendela mawar. Berdiri dengan sangat anggun dalam mosaik warna memabukkan di ujung dinding sana… dan dibawahnya terdapat tulisan berukir. Kapel Reims.

Rasanya tak bisa lepas pandanganku dari keindahan jendela mawar itu, namun suara gema langkah kaki lain mengejutkanku. Ada orang lain!

Aku segera berbalik dan membuka pintu keluar…

.

…dan pemandangan di luar mengejutkanku.

Di depanku terbentang tanah yang luas… dengan rumput kehijauan yang terpangkas rapi dan sebidang jalan yang membaginya menjadi dua sama rata. Dari kejauhan, kulihat sebuah bangunan besar berwarna cokelat, dengan banyak jendela-jendela dan tekstur berbeda di setiap lantainya.

Mungkinkah… Palazzo Pitti, Florence? Tanyaku pada diriku sendiri.

Saat berbalik, aku melihat bahwa Kapel Reims sudah menghilang, berganti pandangan luas tak terbatas ke lahan hijau di belakang. Sebuah pemahaman langsung merasuk di otakku.

Ya, Renaissance. Kelahiran kembali… pencerahan setelah sekian lama, akhirnya tidak lagi hidup dalam keterpasungan sebuah benteng…

Kutajamkan pandangan, dan kulihat jelas. Ciri horizontal itu… alur-alur yang berderet melebar itu… dan kesimetrisan yang sederhana itu… Hatiku langsung menghangat pada suasananya, tidak dingin beku gemetaran seperti saat sebelumnya.

Aku ingin ke sana! Tekadku dalam hati. Maka aku mulai berlari melintasi jalan panjang, namun bangunan itu tidak kunjung mendekat juga. Luas sekali…. Napasku mulai tersengal, namun aku menolak berhenti.

Aku terus mengayunkan langkah tanpa menyadari sebongkah batu berada di jalurku. Dan diiringi sebuah bunyi yang keras, aku terantuk dan terjerembab…

 —

.

Aku terbangun kaget. Di depanku masih layar laptopku, kini menghitam namun berkedip-kedip pertanda ia masih menyala. Dan di tangan kananku masih tergenggam slide, terbuka acak-acakan dan telah sampai pada gambar hitam-putih dari masa Renaissance: Palazzo Pitti di Kota Florence.

Pukul 03.45. Di luar sana, rembulan malu-malu tertutup semburat merah, ia tengah sepenuhnya bersembunyi dalam umbra matahari.

Menghela napas, aku berusaha mengingat-ingat mimpiku barusan.

Tersenyum sendiri.

Lalu kembali meraih slide-ku ketika menyadari…

.

.

Aku masih harus belajar.

.

.

.

Oh sungguh senangnya lintasi bumi

Oh indahnya dunia…

.

.

.

.

((ditulis dalam rangka mencari cara menarik mengulang bab 1 PSA. Maaf kalau aneh, dan kalau ada informasi yang salah, mohon dibenerin yaa… pure mengaduk-aduk isi slide dengan imajinasi pribadi :p. Pengennya sih buat untuk semua bab… tapi capek, euy. Jadi yang ini aja yaa.

oh, dan lagu ‘Balon Udaraku’ itu punyanya Sherina.

Happy UAS, tetap jujur, dan semoga sukses :))

Ketika Duduk Melingkar

ketika duduk melingkar

dan memandang wajah-wajah keimanan

ah, takbisa cegah benakku melayang

: padamu, padanya, pada mereka, pada kalian.

 

padamu yang menyambutku dengan senyum kehangatan

padanya yang menggebu-gebu mengulas firman sang Ar-Rahman

pada kalian yang taklelah dalam hujan amanah

pada mereka yang memberikan segala daya upaya…

 

ketika duduk melingkar

dan mendengarkan uraian tentang keikhlasan

ah, tak bisa cegah memoriku berdilatasi

menghadirkan segenap wajah

berbalut jilbab beraneka warna,

dengan blus, rok, atau gamis senada

 

wanita-wanita itu…

dia ibuku. dia kakakku. dia adikku.

dia bibiku. dia nenekku.

dia sahabatku. dia saudaraku.

dia muslimah yang kutemui di suatu pagi.

dia muslimah yang kubaca namanya, kulihat wajahnya

walau mungkin ku taktahu siapa,

namun satu hal yang menyamakannya:

ketulusan,

berbalut tawakkal, hanya pada-NYA..

 

ketika duduk melingkar

dan bersama mengkaji kebenaran

tulus dari lubuk hati terdalam, terucap sebuah doa:

 

duhai, wanita-wanita bersahaja

yang tak pernah lelah bergerak tuk gapai ridha-NYA!

 

semoga kita dapat bersua,

dan duduk melingkar di surga…

 

 

 

 

 

 

– 21 Mei 2011, Lab IT Faperta

Aku mencintai kalian karena Allah :’)