Ketika Duduk Melingkar

ketika duduk melingkar

dan memandang wajah-wajah keimanan

ah, takbisa cegah benakku melayang

: padamu, padanya, pada mereka, pada kalian.

 

padamu yang menyambutku dengan senyum kehangatan

padanya yang menggebu-gebu mengulas firman sang Ar-Rahman

pada kalian yang taklelah dalam hujan amanah

pada mereka yang memberikan segala daya upaya…

 

ketika duduk melingkar

dan mendengarkan uraian tentang keikhlasan

ah, tak bisa cegah memoriku berdilatasi

menghadirkan segenap wajah

berbalut jilbab beraneka warna,

dengan blus, rok, atau gamis senada

 

wanita-wanita itu…

dia ibuku. dia kakakku. dia adikku.

dia bibiku. dia nenekku.

dia sahabatku. dia saudaraku.

dia muslimah yang kutemui di suatu pagi.

dia muslimah yang kubaca namanya, kulihat wajahnya

walau mungkin ku taktahu siapa,

namun satu hal yang menyamakannya:

ketulusan,

berbalut tawakkal, hanya pada-NYA..

 

ketika duduk melingkar

dan bersama mengkaji kebenaran

tulus dari lubuk hati terdalam, terucap sebuah doa:

 

duhai, wanita-wanita bersahaja

yang tak pernah lelah bergerak tuk gapai ridha-NYA!

 

semoga kita dapat bersua,

dan duduk melingkar di surga…

 

 

 

 

 

 

– 21 Mei 2011, Lab IT Faperta

Aku mencintai kalian karena Allah :’)

Wanita Itu…

Sejuk gemericik air di padang gersang
Basah terasa aliri pipa yang kering
hangat sentuhannya damai terasa
Berkahi langkah kita di spanjang hayatnya

Kasih sayangnya sehangat mentari pagi
Belaian tangannya selembut kain sutera
Senyum manisnya hiburkan hati nan luka
Pandang matanya tajamkan hati nan suci

Wahai kawan siapakah dia?

Dia adalah wanita paling berjasa
Sejak kita lahir kedunia dan melanglang alam fana
Tiada tandingan pujinya dalam hidup kita
Yang melahirkan kita
menyusui dan membesarkan kita
Pertaruhkan jiwa raga membela kita semua

Dia adalah ibunda dan selalu mendoakan kita
Dalam keadaan lapang suka ataupun duka

Tutur katanya adalah harapan doa
Nasehat yang berguna sepanjang masa
Keredhoannya adalah ridho Illahi
Kemurkaannya adalah murka Illahi

“Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya
ibunya telah mengandungnya
dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah
menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu. “
(QS Lukman ayat 14)

Marilah kita bersama mengasihinya
Selagi Alloh izinkan bersama kita
Bila Alloh telah memanggil ibunda
Sertakan doa selalu bagi dirinya

Semoga Alloh lapangkan alam kuburnya
Dan menyinari selalu dengan cahyanya
Memberkahi ibunda dengan  rahmat-Nya
Dan melapangkan jalannya menuju syurga…

(Siapakah Dia, Suara Persaudaraan)

… tak banyak kata yang bisa terucap, sebab lidah ini sungguh kelu jika sudah berbicara menyangkut sosokmu yang sangatamat berarti dalam hidupku …

panjatkan sepucuk doa, semoga Allah senantiasa menjagamu dan membalas semua kebaikanmu… sebab olehku, takkan terbalas hingga ujung waktu…

Happy Mother’s Day 2009.

Please, Mom. Forgive me.

Sepucuk Surat Cinta

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Rabb semesta alam yang selalu memberikan nikmatNya kepada semua makhlukNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercirah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang beriman yang senantiasa menegakkan kalimatullah hingga akhir zaman. Amin.

Ibu,

Kutulis surat ini beserta dengan segenap kekagumanku kepadamu. Bersama segenap rasa sayang dan rasa bersalah yang tak bisa kuungkapkan. Bersama dengan segenap rasa yang tak terluahkan.

Ibu,

Sejujurnya lidahku selalu kelu kalau sudah berbicara menyangkut namamu. Entah mengapa? Tapi yang pasti aku tahu, rasa kelu itu bukan dikarenakan ketidakbanggaanku kepadamu, tidak. Engkau adalah sosok yang sangat aku kagumi.

Tapi mungkin kekeluan itu lebih dikarenakan kefrustasianku yang hingga kini tidak pernah bisa membalas jasa-jasamu. Lebih disebabkan rasa malu karena hingga kini aku belum bisa menjadi sosok yang berarti. Lebih disebabkan kesedihan karena hingga kini, aku belum pernah membuatmu bangga…

Ibu,

Kutulis surat ini dengan sebentuk rasa maaf yang menggumpal-gumpal di sudut hatiku. Rasa yang semakin bertambah tatkala aku menyadari bahwa aku melakukan kesalahan kepadamu, Ibu, berulang kali, berkali-kali, namun setiap saat masih kutemui binar cinta dalam kedua bola matamu. Namun setiap saat masih kutemukan sentuhan kasih sayang dari kedua belah tanganmu.

Bagaimana engkau bisa begitu sabar, Ibu?

Aku tahu, bukan hanya sekali aku membantah perkataanmu. Aku tahu, bukan hanya sekali aku meninggikan suaraku, refleks mengejek dan tidak mengindahkan nasihatmu. Aku tahu, bukan hanya sekali kulakukan perbuatan yang menyebabkan dirimu menghela napas berat, yang menyebabkan drimu–mungkin–bahkan sampai tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk ‘menertibkan’ diriku.

Terkadang semuanya terasa sangat tidak masuk akal. Jika aku berada di posisi engkau sekarang, Ibu, mungkin aku sudah terlalu bosan dengan segala tingkah laku anakku, mungkin aku sudah balas memaki-makinya, atau mungkin aku malah sudah meninggalkannya.

Tetapi hati sebening apa, Ibu, selapang apa danau kemaafkan yang engkau miliki?

Terkadang, aku sampai berdecak kagum sendiri. Subhanallah, betapa Maka Suci Engkau, ya Allah, betapa Maha Kuasanya Engkau, Allah, Rabb semesta alam yang telah menciptakan sesosok wanita yang begitu mulia, yang dengan hati putihnya yang senantiasa memaafkan, senantiasa memberikan rengkuhan penuh kehangatan…

Terima kasih atas kesabaranmu, Ibu…

Setiap hari aku tahu engkau sangat lelah. Jika aku, pulang sekolah dan sangat lelah, aku bisa tidak berpikir apa-apa, langsung berbaring dan tidur semalaman. Namun tidak dengan dirimu, Ibu. Aku tahu engkau jauh lebih lelah, namun tidak pernah kutemukan keegoisanmu. Justru dalam kondisi lelah itu engkau masih tetap melaksanakan pekerjaan rutinmu, engkau masih tetap mengurusi kami sekeluarga.

Ketika aku terbangun di malam hari, bukan hanya sekaloi kutemukan tubuh lelahmu masih terjaga. Bukan hanya sekali kutemukan di tengah kantukmu, engkau tetap berusaha untuk terjaga demi menyelesaikan amanah-amanah yang dibebankan kepadamu.

Ketika hari libur, saat aku bersantai di rumah, bukan hanya sekali kusadari bahwa engkau masih sibuk dengan paper-papermu, menyelesaikan amanahmu. Jika tidak, maka engkau akan menghabiskan waktumu, mencurahkan segenap perhatianmu kepada ayah dan kepada kami, anak-anakmu.

Ibu,

Kutulis sepucuk surat ini dengan rasa syukur yang tidak terhingga. Bersyukur kepadaNya, atas kehadiran seorang malaikat di muka bumi ini, seorang malaikat yang memiliki kasih sayang yang tidak terhingga, seorang malaikat, yang kusebut Ibu…

Dan juga beserta segenap rasa terima kasih yang tidak terhingga kepasamu; pelita hatiku. Atas kasih sayangmu, atas perhatianmu, atas pengorbananmu, atas jasa-jasamu, atas segalanya…

Sapai aku kehabisan kata, bagaimana aku dapat membalas jasamu, Ibu?

Ibu, idolaku…

Engkaulah sosok pertama yang kuteladani, dan hingga kini masih tetap menjadi sosok pertama yang sangat mempengaruhi kehidupanku. Melalui sentuhan kasihmu aku belajar. Melalui dirimu aku mengerti…

Tentu saja, sudah kewajaran jika seorang manusia memiliki idola. Dan tentu saja, sudah seharusnya setiap muslim dan muslimah mengidolakan junjungan kita, Rasulullah saw. Beliau adalah manusia paling mulia yang pernah ada di muka bumi. Kekasih Allah, pembawa risalahNya, yang dengan kelebutan kata-kata serta perilakunya mampu menundukkan seisi dunia…

Namun selain beliau yang sangat mulia, dengan bangga kuakui, engkaulah idolaku, Ibu…

Aku ingin mencontoh kesabaranmu. Aku ingin mencontoh keteguhanmu. Aku ingin menjadi sepertimu, bahkan lebih baik darimu…

Tolong bimbing aku, Ibu…

Dan terakhir, akan kututup sepucuk surat sederhana ini dengan sebentuk doa. Sebentuk doa yang dengan sepenuh hati kupanjatkan kepada Rabbu, sebentuk doa yang mungkin bisa kujadikan hadiah kepadamu, dalam upaya tak berujungku untuk membalas segala jasamu…

Hanya sederhana. Aku meminta kepadaMu, Ya Allah, untuk senantiasa menjaga Ibu. Senantiasa memberikan yang terbaik baginya. Senantiasa membalas segala kebaikan-kebaikannya. Senantiasa memberikan kebahagiaan baginya, di dunia kini dan di akhirat kelak. Melindunginya dari api neraka, dan menyiapkan tempat terindah baginya di surga…

Ya Allah, aku memang bukan pujangga. Bahkan merangkaikan kata doapun terkadang menjadi terlalu sulit untuk terlaksana. Namun Engkau Maha Mengetahui, Ya Allah. Engkau Maha Mengetahui segala rasa dan harapan yang mengkristal d hatiku.

Kabulkanlah doaku, Rabbi…

Dan kepada Ibunda,

Sepucuk surat ini sebenarnya belum mampu mewakili apa yang ingin kusampaikan. Namun aku berusaha… dan aku percaya engkau mengerti. Mohon maaf jika ada kata-kataku yang kurang berkenan. Mohon maaf jika selama ini aku selalu menyusahkan, mohon maaf atas segala kesalahanku…

Dan terima kasih atas segalanya, Ibunda. Semoga Allah senantiasa merahmatimu, dan semoga Allah membalas segala jasamu dengn berlipatganda…

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bogor, 22 Desember 2007
Dengan segenap cinta,

Putrimu.

—————————————-
haa… cape nulisnya. XD
—————————————-

HAPPY MOTHER’S DAY!!