Lingkaran Cahaya

Lingkaran cahaya saya yang pertama adalah ketika saya baru tercatat sebagai siswi kelas satu SMP. Pada hari Jum’at seusai sekolah, di pintu kelas sudah hadir sesosok wajah manis yang kemudian mengajak saya dan teman-teman putri di kelas saya untuk duduk bersama…

… dan membentuk lingkaran cahaya.

Sang pembawa cahaya ini kami panggil dengan sebutan ‘Teteh’. Seorang mahasiswi yang menyatakan dirinya sebagai alumni SMP kami, dan kembali untuk mengajak kami bersama meraih cahaya. Setiap minggu ia selalu hadir dengan senyuman, dengan makanan yang siap dihidangkan, dengan kisah untuk diceritakan, dengan ilmu untuk dipelajari.

Setelah ia menjabat tangan kami satu-persatu, kami mulai duduk melingkar. Pada mulanya selalu ia yang memberikan cahaya kepada kami, melalui untaian kata-kata indah yang mengalir dari bibirnya. Kemudian ia mulai mengajarkan bahwa kami pun bisa menjadi pemberi cahaya. Dengan mencurahkan perasaan kami, dengan bersama mengkaji hikmah dari setiap hal yang kami bahas setiap kali.

Jika saya mencoba mengingat beberapa tahun ke belakang, yang membuat saya merasa nyaman dalam lingkaran cahaya adalah sebentuk ketulusan yang ditawarkannya. Kehangatan saat duduk melingkar bersama, gelak tawa saat berbagi cerita, celetukan-celetukan, dan tentunya… kepedulian yang terasa nyata.

Sejak saat itu, saya jatuh hati pada lingkaran cahaya. Lingkaran yang terbentuk secara ‘informal’ sepulang sekolah, dengan seorang mentor yang mendorong kami untuk banyak berbagi ilmu, kisah, dan menjadi lebih baik bersama. Maka setiap Jum’at sepulang sekolah adalah saat yang selalu saya rindukan. Senyum manis dan sapa salam sang Teteh adalah pemandangan yang saya nantikan. Saat melingkari empat meja yang dikumpulkan menjadi satu—terkadang berdesakan hingga lutut kami saling bertemu—lalu bersama melantunkan ayat suci dari Al-Qur’an adalah pengalaman yang tidak tergantikan.

.

ketika duduk melingkar

dan memandang wajah-wajah keimanan

ah, takbisa cegah benakku melayang

: padamu, padanya, pada mereka, pada kalian.

.

.

Tiga tahun setelahnya. Seperti seragam saya yang telah berganti, maka sekolah saya pun berganti menjadi jenjang yang lebih tinggi. Saat melangkahkan kaki pertama kalinya di SMAN terbaik di kota kelahiran saya ini, benak saya bertanya-tanya.

Akankah di sini saya kembali menemukan lingkaran cahaya?

Sangat rindu rasanya melingkar dan berbagi cahaya lagi, mengingat lingkaran sebelumnya telah terhenti karena SMA yang berbeda-beda dari personelnya. Sang pemberi cahaya, Teteh Mentor kami, saat itu pun sudah jarang dapat ditemui.

Dan pertanyaan saya pun kembali terjawab, saat lagi-lagi sepulang sekolah di hari Jum’at saya temukan sesosok berjilbab lebar yang sudah tersenyum manis di depan kelas saya. Seraut wajah baru, namun sorot mata dan gestur tubuhnya menawarkan ketulusan yang sama.

“Teteeeeh!” refleks saya menyapa dan menghampirinya.

Ia tersenyum dan menjabat tangan saya, hangat. “Kelas X-9, bukan?” tanyanya. Saya mengangguk membenarkan.

“Mentoring, yuk?” tawarnya sejurus kemudian.

Maka saya mengajaknya masuk ke dalam kelas. Membiarkan sang Teteh memperkenalkan dirinya, lalu bertemu dengan teman-teman sekelas saya yang baru. Dan hari itu, walaupun dengan personel dan Teteh yang berbeda dari sebelumnya, saya kembali menemukannya. Lingkaran cahaya.

.

padamu yang menyambutku dengan senyum kehangatan

padanya yang menggebu-gebu mengulas firman sang Ar-Rahman

pada kalian yang taklelah dalam hujan amanah

pada mereka yang memberikan segala daya upaya…

.

.

Lingkaran cahaya adalah tempat saya berlabuh semasa SMA. Setelah lelah berkutat selama seminggu dengan aktivitas akademik dan organisasi yang padat, duduk melingkar bersama dan berbagi adalah istirahat yang sangat menyenangkan.

Melalui lingkaran ini, kami diingatkan untuk selalu peduli. Kondisi lingkaran memang tidak selalu ceria. Ada kalanya kami merenung bersama, menangis, dan saling menghibur saat mendengar kabar kurang baik dari salah satu personel lingkaran. Pun saat mendengar kabar dan kisah-kisah yang disampaikan…

Melalui lingkaran ini, kami diajarkan untuk selalu bersyukur, selalu ikhlas dalam apapun yang kami lakukan. Memaknai kehidupan dan setiap peristiwa dari sudut pandang yang berbeda, mengkaji pelajaran dalam setiap keping kejadian. Dan yang terpenting, menjadi bagian dari lingkaran cahaya ini membuat kami merasa kaya. Kaya akan kedekatan yang semakin intens dengan Sang Pencipta…

.

ketika duduk melingkar

dan mendengarkan uraian tentang keikhlasan

ah, tak bisa cegah memoriku berdilatasi

menghadirkan segenap wajah

berbalut jilbab beraneka warna,

dengan blus, rok, atau gamis senada

.

.

Sengaja saya mencoba lebih dekat dengan para pemberi cahaya. Mengetahui kehidupan mereka lebih jauh, mempertanyakan alasan mereka untuk repot-repot hadir setiap minggu di sela kesibukan kuliah—bahkan kerja—yang tentunya tidaklah mudah.

Dan jawabannya membuat saya tertegun dengan mata memanas.

Simpel saja, cinta. Rasa cinta yang berurat-berakar pada jalan kebaikan… pada lingkaran cahaya… itulah yang menuntun mereka untuk kembali.

Saya pun telah jatuh cinta sedemikian dalam pada lingkaran cahaya. Maka saya bertekad untuk kembali. Seperti mereka,

…menjadi pemberi cahaya.

.

.

.

.

Langkah kaki membawa saya menuju pintu kelas yang terbuka lebar. Seulas senyum termanis sudah saya persiapkan. Bismillah.

“Assalamu’alaikum…” sapa saya sejurus kemudian. Dan sosok-sosok berbalut putih abu-abu itu pun berbalik, sumringah.

“Waalaikumussalam, Teteeeeh!” jawab mereka riang. Tak lama, terdengar suara meja dan kursi digeser. Sekejap, lingkaran itu pun terbentuk.

Saya tersenyum, memandang binar-binar antusias di wajah mentee-mentee saya. Binar yang senantiasa mendorong saya untuk hadir dan berbagi cahaya setiap minggunya.

“Yak, kita buka mentoring minggu ini dengan membaca basmalah…”

.

.

.

ketika duduk melingkar

dan bersama mengkaji kebenaran

tulus dari lubuk hati terdalam, terucap sebuah doa:

duhai, wanita-wanita bersahaja

yang tak pernah lelah bergerak tuk gapai ridha-NYA!

semoga kita dapat bersua,

dan duduk melingkar di surga…

.

.

.

menulis ini dengan senyum terkembang,

.bulanbiru. SMANSA 2009. ARL IPB’46

salah satu personel dari jutaan lingkaran cahaya…

Aku dan Perjalanan Waktu [in memoriam of Classic Architecture]

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Ah, hari sudah semakin larut, dan rasanya mataku pun semakin berat. Tapi… kabar bahwa gerhana akan terjadi dua setengah jam lagi cukup membuatku bersemangat untuk tetap terjaga.

Aku menatap layar laptopku… lalu beralih pada tumpukan kertas slide di sebelah kananku. Tak kuasa menahan kuapan.

Meneguk Coolin-ku yang mulai mendingin, akhirnya aku mengambil slide terdekat dan mulai membaca. Yunani… Kuil… Amphi… theatre…

Dan tanpa kusadari, kedua mataku mulai mengatup.

Tenggelam dalam gelap…

 .

 —

 …langit biru, awan putih

 Terbentang indah… lukisan Yang Kuasa…

 Ku melayang, di udara

 Terbang dengan balon udaraku…

 

 .

Aku tersentak bangun, berjengit saat merasakan sinar matahari menerpaku. Setelah sejenak mengerjap-ngerjapkan mata, pandanganku pun mulai terbiasa. Berganti dengan kebingungan yang nyata.

Ini… di mana?

Sebuah situasi yang asing! Aku terbaring di atas lantai batu besar, di tengah sebuah ruangan yang penuh dengan tiang-tiang tinggi berulir. Tak pernah kulihat bangunan ini sebelumnya..

Perlahan aku bangkit dan mulai mengedarkan pandangan ke sekitar. Bangunan ini berbentuk persegi panjang, dan materialnya dari batu-batu besar yang terpahat dengan apik. Ketika berjalan ke arah luar, kusadari bangunan ini dikelilingi oleh tiang-tiang tinggi yang cukup rapat… Secara keseluruhan, bangunan ini tinggi sekali! Aku berasa mengerdil.

Ketika tiba di depannya, barulah aku ternganga. Ternyata… di depanku berdiri dengan megah sebuah kuil yang konon hanya bisa kulihat dalam foto… yang konon memakan waktu puluhan tahun pembangunannya, dan merupakan lambang kemegahan pada zamannya…

Kuil Parthenon!

Aku terperanjat, lalu berdecak kagum. Sepertinya entah bagaimana Sang Waktu telah memutarbalikkan jam pasirnya sehingga aku kembali ke zaman 3000 SM, ketika awal masa Arsitektur Klasik di Yunani

Indahnya… lihatlah betapa jelasnya kolom dan entablature berorde Dorik tersebut! Tanpa base, berdiri dengan megah… dan ternyata memang benar! Sebagian kolomnya pun berorde Ionik… sangat jelas bentuk shell pada capital kolomnya, dengan entablature yang berhias gaya dentils

Belum puas mataku menjelajah, kurasakan sebuah tepukan di pundak.

“Hey, Nak,” sapa sebuah suara berat membuatku menoleh, dan mataku bertumbukan dengan raut wajah ramah seorang lelaki tua. Kutaksir, usianya sekitar 50 tahun-an. “Kamu pasti peserta tur, kan? Rombongan sudah hendak berangkat, ayo cepat!” ujarnya.

Masih agak bingung, aku mengikuti langkah Pak Tua itu kembali ke rombongan, dan kendaraan kami pun mulai melaju. Merapikan jilbabku yang tertiup angin, mataku tak bisa lepas dari pemandangan-pemandangan yang sangat menakjubkan.

Kuil Apollo… lihatlah motif daun achantus pada capital kolom-nya, cantik sekali… dan Amphitheatre yang megah di lereng bukit…

Tiba-tiba, angin kencang berhembus. Seluruh peserta tur merapatkan pakaiannya. Aku memejamkan mata, merasakan angin menampar pipiku, dan seolah aku tersedot putaran waktu…

 —

 .

Kembali aku mengerjapkan mata. Sekarang aku di mana, ya? Menoleh ke kanan dan kiri, aku menyadari sekitarku bukan lagi peserta tur, melainkan aku tengah duduk di seberang sebuah gedung besar yang seperti Kuil Yunani… namun terlihat bulatan kubah di tengahnya.

Apakah… otakku dengan cepat berusaha memutarbalikkan teori. Benar! Ini adalah Kuil Pantheon! Bagaimana mungkin aku tidak mengenali ciri arsitektur Yunani yang dipadu dengan dome itu? Cantiknya…

Tanpa kusadari, aku melangkah mundur-mundur untuk melihat lebih jelas hingga terasa menabrak seseorang. Aku langsung berbalik dengan tergesa dan menyerukan maaf. Sebuah tawa merdu membuatku menegakkan kepala, dan mataku beradu pandangan dengan mata cokelat seorang gadis berambut ombak.

“Tidak apa-apa, aku juga nggak merhatiin kalau kamu ada di situ, maaf yaa…” ujarnya sambil tersenyum manis.

Mau tidak mau, aku ikut melengkungkan bibir.

“Eh, ini di Roma, ya?” ucapku kemudian. Gadis itu menganggukkan kepalanya, terlihat agak sedikit bingung.

“Memang kamu bukan berasal dari sini, ya?” tanyanya balik. “Hm… pantas rasanya aku tidak pernah melihatmu…”

Aku mengedikkan kepala. “Yah, aku terlempar dalam kuasa-NYA mengendalikan waktu hingga sampai di sini… Aku berasal dari sebuah negeri yang jauuh sekali…” ucapku menggantung. Lagi-lagi ia tertawa renyah mendengar jawabanku.

“Baiklah… kami biasa menerima tamu, kok,” senyumnya memperlihatkan sederetan gigi putih yang tertata rapi. “Selamat datang di Roma, semoga betah ya…” sambungnya sejurus kemudian. Kulihat, kedua tangannya mengapit lembar-lembar seperti perkamen dalam film Harry Potter, dan perkamen tersebut tergurat sketsa-sketsa dari tinta hitam.

“Kamu senang menggambar?” tanyaku. Ia memeluk tumpukan perkamennya yang mengangguk malu. Rambut ikalnya turut bergerak seiring kepalanya yang mengangguk-angguk. “Boleh nggak aku lihat?” lanjutku memberanikan diri.

Gadis itu –yang kemudian kusadari aku lupa menanyakan namanya—, mengangguk dan mengajakku duduk. Ia menunjukkan sketsa sebuah gedung megah yang segera kukenali. “Ini.. Basilika? Mmm… gedung  pengadilan, ya?” tanyaku. Ia mengangguk. “Di kanan kiri-nya ada ceruk gitu buat tempat duduknya pejabat pengadilan…” lanjutku.

“Wah, kamu tahu banyak, ya?” ujarnya heran. Aku memberikannya sebuah cengiran pasrah. Apa boleh buat, rasanya dari kemarin mainannya beginian melulu dah…

Kemudian ia beranjak ke sketsa selanjutnya. “Yang ini Thermae,” ucapnya menerangkan. “Thermae ini mewah banget loh… merupakan tempat pemandian umum air panas. Yang aku gambar ini Therme Caracolla, bentuknya simetris. Cantik banget, ya?” lanjutnya sambil tersenyum. Aku mengangguk-angguk.

Kemudian ia beranjak ke sketsa yang paling besar, membuka lipatan perkamennya. Aku terkagum-kagum melihat goresan tinta yang menarik struktur sebuah konstruksi pelengkung yang sangat besar dan megah. Terlihat detil trap-trap kursi penonton…

Amphitheatre…” celetukku, menahan napas kagum. Gadis di sebelahku menoleh dan tersenyum. Semburat merah kembali muncul di pipinya.

“Mm… lusa nanti… aku akan menari di sana…” ucapnya malu-malu. “Maukah…”

…namun belum sempat kudengar lanjutannya, WHUSSSSH! Kembali angin berhembus kencang. Gadis itu menjerit kecil saat rambutnya, pakaiannya, dan kertasnya berkibar-kibar. Ia mengarahkan kedua tangannya menutupi wajahnya untuk menghindari debu yang beterbangan.

Sekali lagi, aku merasa tertarik pusaran waktu…

.

Seiring pusaran angin yang mereda, kusadari kembali sekelilingku berganti.  Kali ini, baru menoleh ke atas pun, aku berdecak kagum akan ketinggian atap bangunan tempatku berada, sangat… sangat tinggi dan dilengkapi oleh flying buttress, kolom-kolom melayang… nave arcade, nave tifarium, dan nave clerestory yang indah bukan buatan…

Selamat datang… bisikku pada diriku sendiri. Di Arsitektur Gothic, puncak dari kemegahan Arsitektur Klasik.

Perlahan aku berdiri dan mulai melangkah. Kapel tempatku ‘terdampar’ itu kosong… sehingga derap kakiku memantul-mantul hingga naik ke atap yang tinggi. Tanpa sadar aku begidik sendiri. Beginilah Gothic, lambang kemewahan dan keindahan…

Bulu romaku berdiri. Aku tidak suka di sini. Indah, agung, memang. Tapi… dingin…

Kupercepat langkahku, dan gema derapnya pun semakin cepat. Sebelum aku tiba di pintu, akhirnya kuputuskan untuk berbalik, dan aku melihatnya.

Jendela mawar. Berdiri dengan sangat anggun dalam mosaik warna memabukkan di ujung dinding sana… dan dibawahnya terdapat tulisan berukir. Kapel Reims.

Rasanya tak bisa lepas pandanganku dari keindahan jendela mawar itu, namun suara gema langkah kaki lain mengejutkanku. Ada orang lain!

Aku segera berbalik dan membuka pintu keluar…

.

…dan pemandangan di luar mengejutkanku.

Di depanku terbentang tanah yang luas… dengan rumput kehijauan yang terpangkas rapi dan sebidang jalan yang membaginya menjadi dua sama rata. Dari kejauhan, kulihat sebuah bangunan besar berwarna cokelat, dengan banyak jendela-jendela dan tekstur berbeda di setiap lantainya.

Mungkinkah… Palazzo Pitti, Florence? Tanyaku pada diriku sendiri.

Saat berbalik, aku melihat bahwa Kapel Reims sudah menghilang, berganti pandangan luas tak terbatas ke lahan hijau di belakang. Sebuah pemahaman langsung merasuk di otakku.

Ya, Renaissance. Kelahiran kembali… pencerahan setelah sekian lama, akhirnya tidak lagi hidup dalam keterpasungan sebuah benteng…

Kutajamkan pandangan, dan kulihat jelas. Ciri horizontal itu… alur-alur yang berderet melebar itu… dan kesimetrisan yang sederhana itu… Hatiku langsung menghangat pada suasananya, tidak dingin beku gemetaran seperti saat sebelumnya.

Aku ingin ke sana! Tekadku dalam hati. Maka aku mulai berlari melintasi jalan panjang, namun bangunan itu tidak kunjung mendekat juga. Luas sekali…. Napasku mulai tersengal, namun aku menolak berhenti.

Aku terus mengayunkan langkah tanpa menyadari sebongkah batu berada di jalurku. Dan diiringi sebuah bunyi yang keras, aku terantuk dan terjerembab…

 —

.

Aku terbangun kaget. Di depanku masih layar laptopku, kini menghitam namun berkedip-kedip pertanda ia masih menyala. Dan di tangan kananku masih tergenggam slide, terbuka acak-acakan dan telah sampai pada gambar hitam-putih dari masa Renaissance: Palazzo Pitti di Kota Florence.

Pukul 03.45. Di luar sana, rembulan malu-malu tertutup semburat merah, ia tengah sepenuhnya bersembunyi dalam umbra matahari.

Menghela napas, aku berusaha mengingat-ingat mimpiku barusan.

Tersenyum sendiri.

Lalu kembali meraih slide-ku ketika menyadari…

.

.

Aku masih harus belajar.

.

.

.

Oh sungguh senangnya lintasi bumi

Oh indahnya dunia…

.

.

.

.

((ditulis dalam rangka mencari cara menarik mengulang bab 1 PSA. Maaf kalau aneh, dan kalau ada informasi yang salah, mohon dibenerin yaa… pure mengaduk-aduk isi slide dengan imajinasi pribadi :p. Pengennya sih buat untuk semua bab… tapi capek, euy. Jadi yang ini aja yaa.

oh, dan lagu ‘Balon Udaraku’ itu punyanya Sherina.

Happy UAS, tetap jujur, dan semoga sukses :))

A Banquet

——————–

FRUITS BASKET STORY: A BANQUET

——————–

Once a long time ago, there was a man. For as long as he could remember he had always always been by himself. If he climbed down the mountain, he knew that he would meet people, but chose to be by himself. Having the strength of a thousands men. Having the lives of a thousands men. That man having thousands memories. He knew that he was different from other people.

This man was afraid of other people. He was afraid of getting hurt. While he had so many powers, he was afraid of this self that he knew was so different from the world. And so to him.

A Cat come one day. This was a sudden encounter with another visiting him. The Cat bowed his head and said,

“I have been following you for some time. You have a most unusual aura, I can’t help but be drawn to you. I realize I am but a stray cat, but won’t you please let me stay by your side?”

“Please, ‘God.’”

Since then, as he said, The Cat never left the man’s side. He never left for a moment and that made ‘God’ so very happy that a thought came to him.

Perhaps, I can get along with them if it was a being other than human. If it is with beings who have similar experiences, then we can have a fun banquet…

And so, ‘God’ wrote out many invitations.

In return, twelve animals arrived to see ‘God’. Following that, the thirteen animals and ‘God’ had a banquet each night in the moonlight. Singing and dancing, and laughing with each other. At the banquet for the first time, ‘God’ laughed out loud. Even the moon watched quietly, over the beings who did not look human.

However, after some time, The Cat collapsed. His life has come to its end, and there was nothing they could do. Everyone of them cied. Everyone of them realized. Eventually, everyone would die. No matter how fun it was, the banquet would end. Eventually. No matter how much you love them.

Then ‘God’ cast one spell. He drew a circle in the water with his finger. He had The Cat take a sip of water. Then he turned to everyone else and said,

Let us make our friendship last for eternity. Even when we die, let us be bound by our friendship for eternity. No matter how many times we die, no matter how many times we are reborn, again, in the same way, no matter how many times, let us have another banquet. Everyone getting along for all time. Let us be in eternal bliss…

Everyone nodded in agreement and The Rat took the first sip. Then was The Ox, The Tiger, then The Rabbit. In their turn, the water was divided equally. At the end, when the last drop was gone, The Cat began to gasp.

‘God’, ‘God’, why did you make me drink that? ‘God’, I do not want eternity. I do not want eternal bliss…

Those were unthinkable words to say. To ‘God’ and all the other animals, it was rejecting words. Everyone was sad to hear them, and they all turned against The Cat.

Even so, The Cat said,

‘God’, ‘God’, even though you are frightened, let us accept that all things end. Even though it is sad, let us accept that life ends.

‘God’, even though it was just for a short time, I was happy being by your side.
If I were to die, to reborn, and meet you again, the next time, rather in the moonlight, I want to see you smile in the sunlight.
The next time I meet you, I want to see you laughing surrounded with people…

And for the last time, The Cat raised his tail and died peacefully.

But none of the animals cared about The Cat anymore. Because everyone felt they had been betrayed by The Cat.

After that, one by one, they all died. In the end, The Dragon died last, and so ‘God’ was alone once more.

And eventually, even the day came that ‘God’ died too. However, he was not afraid because his promise to everyone supported him.

Again.

We will have a banquet again. Once again. Many times, always unchanging.
No matter how alone I am right now.

On the other side of that promise everyone is waiting for me…

——
Now this is a story from a time long ago.
It is the first memory everyone has forgotten.
The first promise.
The first promise, since when did it become a ‘curse’?
Since when did it become a ‘burden’?

When everyone was happy, and struggled to part.

Love, should have been there.
Time has gone by, people have changed.
And it became something that has made people suffer.

I’m sorry, I am very sorry.

But, there is something I want to say to you for trying to keep the promise.
Although it is not the promise that was originally made,
To all those who kept it,
What I most, most want to say to you is
Thank you.
Thank you.

The far far story,
The very first memory that everyone forgot.
The story of when the cat’s words came true,
was much,
much,
much,
later.

— Fruit Basket vol.22
Natsuki Takaya

Kisah Seorang Pengembara Bodoh

Kisah ini sebenarnya kutemukan termuat di salah satu volume dari Fruits Basket, cuma aku lupa detail persis volume berapa, dan juga detail ceritanya. Jadi kutulis cerita ini sejauh ingatanku mengenainya… Tidak apa-apa, kan?

———————————————–

Kisah Seorang Pengembara Bodoh


Zaman dahulu kala, seorang pengembara yang bodoh memulai perjalanannya. Berpakaian lengkap, bermantel dan bertopi untuk mengusir dingin serta membawa tas yang berisi bekal makanan, ia menuju ke desa terdekat.

Sesampainya di desa, ia bertemu seorang nenek. Nenek itu mencoba menipu sang pengembara. Ia menghapiri snag pengembara, berpura-pura lemas dan berkata, “Aku kelaparan, bisakah kamu memberikan bekalmu kepadaku?”

Sang pengembara bodoh tersenyum dan memberikan bekalnya pada sang nenek, tanpa menyadari bahwa ia telah ditipu. Sang nenek pun berterimakasih lalu bergegas pergi, tak lupa hatinya mengejek sang pengembara yang telah dengan bodohnya memberikan bekalnya.

Ia melanjutkan perjalanan, dan bertemu dengan orang-orang lain di desa tersebut. Karena begitu lugu, ia tidak menyadari bahwa setiap orang yang ditemuinya itu menipunya dan memintanya untuk memberikan apapun yang ia punya. Satu persatu benda-benda yang melekat di tubuhnya ia berikan pada penduduk desa yang meminta, hingga akhirnya sang pengembara itu tidak lagi mengenakan sehelai benangpun.

Karena merasa malu dengan dirinya yang tidak mengenakan apa-apa, sang pengembara memutuskan untuk pergi ke dalam hutan lebat. Di dalam hutan itu ternyata hiduplah setan-setan jahat yang gemar menipu dan memakan tubuh manusia.

Seorang setan perempuan mendatangi sang pengembara dan berkata padanya, “Anakku jatuh sakit dan bisa sembuh jika memakan kaki manusia. Maukah kamu memberikan kakimu kepadaku?”

Maka lagi-lagi sang pengembara hanya tersenyum dan memberikan sebelah kakinya pada setan tersebut. Setan itu segera mengambil sebelah kaki sang pengembara, lalu menghilang ke kedalaman hutan.

Ketika sang pengembara melanjutkan perjalanannya, ia bertemu dengan setan-setan lain yang juga mencoba menipunya dengan meminta bagian-bagian tubuhnya. Namun sang pengembara lugu itu hanya tersenyum dan memberikan semua yang diminta.

Kakinya, tangannya, dan badannya akhirnya habis dimakan oleh setan-setan itu. Ketika hanya tinggal kepalanya, sang pengembara tidak mampu lagi melanjutkan perjalanannya. Lalu datanglah seorang setan lagi, dengan niat jahat hendak menelan kepala sang pengembara. Ia mendekati sang pengembara dan berkata,

“Aku membutuhkan kepala manusia, maukah kamu memberikannya?” katanya.

“Namun sebelum itu, aku akan memberimu hadiah.”

“Apa?” tanya sang pengembara.

Sang setan tersenyum licik, lalu mengulurkan sesuatu pada sang pengembara.

Selembar kertas kecil, bertuliskan,

‘BODOH’.

Seketika mata sang pengembara berkaca-kaca.

“Terima kasih… terima kasih…” bisiknya, air mengalir dari kedua matanya.

“Baru kali ini ada yang memberikanku hadiah… terima kasih… terima kasih…”

-

-

-

———————————————–

Apakah yang terlintas di pikiranmu setelah membaca cerita di atas?

Feel free give response ^_^

Cerita Cinta

Hmm…

Tergelitik untuk sekedar menulis sedikit tentang hal ini…
Kemarin, aku beres-beres laci dan data-data yang tersebar. Wow, tebalnya kertas-kertas yang terkumpul itu… selama 2 tahun di SMANSA, dia mencapai lebih dari 30 cm… kayaknya setengah meter ada deh. Mulai dari kertas-kertas tugas sekolah, kertas-kertas KIR, dan so pasti yang paling banyak adalah kertas-kertas DKM. Peroker, format LPJ, surat, database, absensi, catatan rapat, dansebagainya danseterusnya. Wah, numpuk. Misahinnya aja makan waktu banyak banget…

Trus apa hubungannya dengan cinta?

Emm… maaf kalau jadi rada OOT (out of topic). Pas lagi beres-beres, aku tergelitik karena diantara kertas-kertas yang berantakan itu aku menemukan beberapa halaman novelnya Mbak Dian Yasmina Fajri, yang tentang Si Kembar Yasmin Muhammadi dan Yusuf Muhammad itu lho, yang judulnya ‘Tiga Ribu Tanda Tangan’. Itu novel lama… kalau sekarang udah nggak nemu kali ya, yang jual. Novel itu juga udah nggak utuh lagi, udah tersisa tinggal halaman-halaman saja…

Trus iseng kubaca.

Bagian yang kubaca, kebetulan menceritakan tentang usaha teman-teman Yasmin untuk menarik anak-anak baru di ROHIS… sepotong usaha. Soalnya halaman lanjutannya nggak ada, hehe.

trus ada juga bagian waktu festival sekolah Teladan… bagian yang aku sedih banget bacanya, waktu ada tawuran dan berakibat Emir, the most ikhwan-nya angkatan si kembar jadi korban dan berpulang…

Membaca sedikit novel itu, otakku langsung berputar mereview keseluruhan cerita yang ada di sana, lalu membandingkannya dengan cerita-cerita yang belakangan ini kubaca.

Aku menemukan persamaan… dan perbedaan.

Sama-sama cerita cinta; namun dalam kadar yang berbeda.

Belakangan ini aku sedang sering ‘nongkrong’ di fanfiction.net dan membaca berbagai macam cerita yang terupload di sana, pun ceritaku sendiri. Dapat ditarik satu benang untuk menghubungkan semuanya; semuanya adalah cerita cinta.

Novelnya Mbak DYF itu juga cerita cinta.

Bedanya… cerita cinta yang belakangan ini kubaca, sekalipun dengan bahasa yang sangat indah, dia cuma cerita cinta yang, maaf, tidak bermakna sangat dalam, karena hanya dibahas mengenai rasa yang ada diantara pria dan wanita. Bagus siih…

Sedang Tiga Ribu Tandatangan ini… bagiku lebih mengisi jiwa. Ia cerita cinta, tentang cinta seorang hamba kepada Rabb-nya, yang dikemas denga bahasa sederhana. Namun tetap lebih mengena, lebih mendekatkan diri pada sang Pencipta.

Membaca novel ini membuat aku malu. Yah, tokoh-tokoh di sini memiliki setting yang kurang lebih sama denganku… yaitu SMA. Sama-smaa ROHIS. Namun lihatlah, kehidupan mereka terlihat jauh lebih bermakna…

Hidup setiap manusia adalah cerita cinta. Namun dalam kadar seperti apa, tergantung bagaimana kamu mau menjalaninya… Apakah hanya kadar biasa, atau kadar super karena berisi cerita cinta kalian dengan Sang Pencipta…

————

P.S. No offense buat para author FFn yang membaca ini… still likes your story, guys. Keep writing! ^_^

Well, jujur aku jadi bingung, sebenarnya entry ini tentang apa ya?