Lingkaran Cahaya

Lingkaran cahaya saya yang pertama adalah ketika saya baru tercatat sebagai siswi kelas satu SMP. Pada hari Jum’at seusai sekolah, di pintu kelas sudah hadir sesosok wajah manis yang kemudian mengajak saya dan teman-teman putri di kelas saya untuk duduk bersama…

… dan membentuk lingkaran cahaya.

Sang pembawa cahaya ini kami panggil dengan sebutan ‘Teteh’. Seorang mahasiswi yang menyatakan dirinya sebagai alumni SMP kami, dan kembali untuk mengajak kami bersama meraih cahaya. Setiap minggu ia selalu hadir dengan senyuman, dengan makanan yang siap dihidangkan, dengan kisah untuk diceritakan, dengan ilmu untuk dipelajari.

Setelah ia menjabat tangan kami satu-persatu, kami mulai duduk melingkar. Pada mulanya selalu ia yang memberikan cahaya kepada kami, melalui untaian kata-kata indah yang mengalir dari bibirnya. Kemudian ia mulai mengajarkan bahwa kami pun bisa menjadi pemberi cahaya. Dengan mencurahkan perasaan kami, dengan bersama mengkaji hikmah dari setiap hal yang kami bahas setiap kali.

Jika saya mencoba mengingat beberapa tahun ke belakang, yang membuat saya merasa nyaman dalam lingkaran cahaya adalah sebentuk ketulusan yang ditawarkannya. Kehangatan saat duduk melingkar bersama, gelak tawa saat berbagi cerita, celetukan-celetukan, dan tentunya… kepedulian yang terasa nyata.

Sejak saat itu, saya jatuh hati pada lingkaran cahaya. Lingkaran yang terbentuk secara ‘informal’ sepulang sekolah, dengan seorang mentor yang mendorong kami untuk banyak berbagi ilmu, kisah, dan menjadi lebih baik bersama. Maka setiap Jum’at sepulang sekolah adalah saat yang selalu saya rindukan. Senyum manis dan sapa salam sang Teteh adalah pemandangan yang saya nantikan. Saat melingkari empat meja yang dikumpulkan menjadi satu—terkadang berdesakan hingga lutut kami saling bertemu—lalu bersama melantunkan ayat suci dari Al-Qur’an adalah pengalaman yang tidak tergantikan.

.

ketika duduk melingkar

dan memandang wajah-wajah keimanan

ah, takbisa cegah benakku melayang

: padamu, padanya, pada mereka, pada kalian.

.

.

Tiga tahun setelahnya. Seperti seragam saya yang telah berganti, maka sekolah saya pun berganti menjadi jenjang yang lebih tinggi. Saat melangkahkan kaki pertama kalinya di SMAN terbaik di kota kelahiran saya ini, benak saya bertanya-tanya.

Akankah di sini saya kembali menemukan lingkaran cahaya?

Sangat rindu rasanya melingkar dan berbagi cahaya lagi, mengingat lingkaran sebelumnya telah terhenti karena SMA yang berbeda-beda dari personelnya. Sang pemberi cahaya, Teteh Mentor kami, saat itu pun sudah jarang dapat ditemui.

Dan pertanyaan saya pun kembali terjawab, saat lagi-lagi sepulang sekolah di hari Jum’at saya temukan sesosok berjilbab lebar yang sudah tersenyum manis di depan kelas saya. Seraut wajah baru, namun sorot mata dan gestur tubuhnya menawarkan ketulusan yang sama.

“Teteeeeh!” refleks saya menyapa dan menghampirinya.

Ia tersenyum dan menjabat tangan saya, hangat. “Kelas X-9, bukan?” tanyanya. Saya mengangguk membenarkan.

“Mentoring, yuk?” tawarnya sejurus kemudian.

Maka saya mengajaknya masuk ke dalam kelas. Membiarkan sang Teteh memperkenalkan dirinya, lalu bertemu dengan teman-teman sekelas saya yang baru. Dan hari itu, walaupun dengan personel dan Teteh yang berbeda dari sebelumnya, saya kembali menemukannya. Lingkaran cahaya.

.

padamu yang menyambutku dengan senyum kehangatan

padanya yang menggebu-gebu mengulas firman sang Ar-Rahman

pada kalian yang taklelah dalam hujan amanah

pada mereka yang memberikan segala daya upaya…

.

.

Lingkaran cahaya adalah tempat saya berlabuh semasa SMA. Setelah lelah berkutat selama seminggu dengan aktivitas akademik dan organisasi yang padat, duduk melingkar bersama dan berbagi adalah istirahat yang sangat menyenangkan.

Melalui lingkaran ini, kami diingatkan untuk selalu peduli. Kondisi lingkaran memang tidak selalu ceria. Ada kalanya kami merenung bersama, menangis, dan saling menghibur saat mendengar kabar kurang baik dari salah satu personel lingkaran. Pun saat mendengar kabar dan kisah-kisah yang disampaikan…

Melalui lingkaran ini, kami diajarkan untuk selalu bersyukur, selalu ikhlas dalam apapun yang kami lakukan. Memaknai kehidupan dan setiap peristiwa dari sudut pandang yang berbeda, mengkaji pelajaran dalam setiap keping kejadian. Dan yang terpenting, menjadi bagian dari lingkaran cahaya ini membuat kami merasa kaya. Kaya akan kedekatan yang semakin intens dengan Sang Pencipta…

.

ketika duduk melingkar

dan mendengarkan uraian tentang keikhlasan

ah, tak bisa cegah memoriku berdilatasi

menghadirkan segenap wajah

berbalut jilbab beraneka warna,

dengan blus, rok, atau gamis senada

.

.

Sengaja saya mencoba lebih dekat dengan para pemberi cahaya. Mengetahui kehidupan mereka lebih jauh, mempertanyakan alasan mereka untuk repot-repot hadir setiap minggu di sela kesibukan kuliah—bahkan kerja—yang tentunya tidaklah mudah.

Dan jawabannya membuat saya tertegun dengan mata memanas.

Simpel saja, cinta. Rasa cinta yang berurat-berakar pada jalan kebaikan… pada lingkaran cahaya… itulah yang menuntun mereka untuk kembali.

Saya pun telah jatuh cinta sedemikian dalam pada lingkaran cahaya. Maka saya bertekad untuk kembali. Seperti mereka,

…menjadi pemberi cahaya.

.

.

.

.

Langkah kaki membawa saya menuju pintu kelas yang terbuka lebar. Seulas senyum termanis sudah saya persiapkan. Bismillah.

“Assalamu’alaikum…” sapa saya sejurus kemudian. Dan sosok-sosok berbalut putih abu-abu itu pun berbalik, sumringah.

“Waalaikumussalam, Teteeeeh!” jawab mereka riang. Tak lama, terdengar suara meja dan kursi digeser. Sekejap, lingkaran itu pun terbentuk.

Saya tersenyum, memandang binar-binar antusias di wajah mentee-mentee saya. Binar yang senantiasa mendorong saya untuk hadir dan berbagi cahaya setiap minggunya.

“Yak, kita buka mentoring minggu ini dengan membaca basmalah…”

.

.

.

ketika duduk melingkar

dan bersama mengkaji kebenaran

tulus dari lubuk hati terdalam, terucap sebuah doa:

duhai, wanita-wanita bersahaja

yang tak pernah lelah bergerak tuk gapai ridha-NYA!

semoga kita dapat bersua,

dan duduk melingkar di surga…

.

.

.

menulis ini dengan senyum terkembang,

.bulanbiru. SMANSA 2009. ARL IPB’46

salah satu personel dari jutaan lingkaran cahaya…

Generasi Rabbani, dalam Lantunan Syukur Pada-NYA

dalam rangka PEGAS 2011

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim/14:7)

Sepenggal ayat di atas tidaklah asing, bahkan jika seseorang mengingat pelajaran Agama Islam yang didapatnya semenjak duduk di bangku sekolah dasar, mungkin ayat ini—minimal artinya—telah ia hapal di luar kepala. Jika dihubungkan, maka seharusnya seiring hapal, konteks ayat ini pun telah diingat di luar kepala.

Mengenai apa?

Jawabannya adalah syukur. Ya, Allah SWT telah dengan jelas menegaskan dalam surat Ibrahim ayat 7 bahwa jika kita bersyukur, maka nikmat akan ditambahkan, dan jika kita ingkar, maka azab Allah SWT sangatlah pedih. Surat Ibrahim ayat 7 hanyalah satu dari keseluruhan kutipan mengenai syukur yang bertebaran di sepanjang Al-Qur’an. Bersama dengan kata syukur, bisanya terangkai kata ‘nikmat’, menandakan sebuah hal yang harus kita syukuri.

Secara terminologi, syukur berasal dari bahasa Arab, ‘syukron’ dengan arti terima kasih. Beberapa ulama lain berpendapat bahwa syukur berasal dari kata ‘syukara’ yang berarti membuka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, syukur memiliki dua makna, yaitu berterima kasih kepada Allah SWT, dan merasa lega atau senang. Adapun benang merah dari keseluruhan pengertian tersebut adalah bahwa syukur mengungkapkan atau membuka sebuah ucapan atau perasaan terima kasih atas kemudahan atau nikmat yang telah diberikan.

Kepada siapa harus bersyukur? Jawabannya tentulah jelas, insya Allah telah sama-sama terpahamkan bahwa tak ada yang lebih hebat dari Allah SWT dan segala KeMahaKuasaannya. Maka, tidaklah sepatutnya ada pihak yang lebih layak dihaturkan terima kasih daripada Sang Khaliq. Sebab jika Ia tidak berkehendak, maka bukan hanya tidak berjalan dengan baik, bahkan keseluruhan diri dan hidup kita pun tidak akan pernah ada. ‘Kun fayakun!’ Jadi, maka jadilah! Bukankah selama ini kita hidup dan berjalan sesuai dengan titah dan kehendak-Nya?

Metode untuk bersyukur pun tak terhingga banyaknya. Yang paling ringan adalah mengucapkan alhamdulillahirabbil’alamin atas semua nikmat dan kemudahan yang telah Allah SWT berikan dalam hidup kita. Selanjutnya, yang tidak boleh terlupa, tentunya dengan mengiringi ucapan syukur itu dengan perbuatan yang selaras. Mudah untuk dikatakan namun dapat menjadi sulit untuk dilakukan: melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Atau bahasa lebih ringkasnya adalah menjalani hidup sesuai dengan tuntunan-Nya.

Adalah sebuah fakta yang diakui bersama bahwa remaja, pemuda, keseluruhan generasi muda, adalah iron stock yang akan menentukan masa depan dunia. Kelakuan dan pandangan remaja dan pemuda saat ini akan mencerminkan bagaimana mentalnya kelak, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi saat mereka akan menjadi ‘pengendali’ dunia. Berhasil atau tidaknya dunia melalui krisis yang menimpanya kelak akan bergantung pada seteguh apa remaja dan pemuda saat ini dalam menjalankan kesehariannya.

Jika kita melebarkan sudut pandang dan melihat kenyataan pada ummat Islam saat ini, mungkin kita akan melihat sesuatu yang cukup miris. Mengapa? Karena fakta yang cukup umum terlihat adalah semakin banyaknya generasi muda yang jauh dari Islam. Generasi muda Islam mulai terlihat seperti sabda Rasulullah saw, yaitu seperti buih di lautan. Mereka banyak, namun mudah untuk dikalahkan, apalagi dihilangkan.

Apa yang menjadi penyebab hal tersebut? Jawabannya tak lain karena generasi muda saat ini cenderung memiliki keterkaitan batin yang kurang dengan dien-nya, dengan Sang Pencipta. Jangankan untuk selalu mengucapkan terima kasih pada Sang Khaliq atas segala kemurahannya, bahkan mereka belum mampu untuk mendayagunakan semua nikmat yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntutan Islam. Hal inilah yang menyebabkan generasi muda Islam lemah, dan menjadi sasaran ghowzul fikr oleh pihak-pihak yang senantiasa memusuhi dan ingin menghancurkan Islam.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kita tidak seharusnya menilai sebuah komunitas dengan memukul rata, karena di balik keboborokan akhlaq remaja dan pemuda saat ini, masih dapat ditemukan mereka yang berusaha teguh dalam menjalankan keyakinannya. Mereka yang memiliki ikatan kuat dengan Rabb-nya. Mereka yang merupakan secercah cahaya yang akan menerangi masa depan kelak, sang Generasi Rabbani.

Generasi Rabbani ini, seperti yang dikutip dalam Surat Al-Maidah ayat 54, merupakan kaum yang dicintai dan mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, keras terhadap orang kafir, berjihad di jalan Allah, tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Poin penting pertama yang dapati digarisbawahi adalah bahwa Generasi Rabbani ini dicintai oleh Allah, dan mereka pun mencintai-Nya.

Bagaimanakah menjadikan rasa cinta dalam kedua pihak (antara Sang Khaliq dan makhluk-Nya) ini menjadi sama kuat dan bergelora?

Jawabannya dapat kita kembalikan pada definisi bagaimana seharusnya manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah. Lebih dekat lagi, beribadah adalah kebutuhan sang makhluk, karena melalui ibadahnya lah ia dapat mengomunikasikan sebuah terima kasih yang tak berhingga pada Sang Khaliq. Maka dapat disimpulkan, Generasi Rabbani adalah mereka yang pandai bersyukur.

Syukur, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bermakna mengungkapkan rasa terima kasih tak berhingga pada sang Ilah, pada Allah. Lautan syukur, lantunan terima kasih inilah yang digelorakan oleh sang Generasi Rabbani dalam setiap detik kehidupannya, melalui setiap tarikan napasnya, dan mengejawantah dalam seluruh kesehariannya. Syukur itu terlihat dari bagaimana ia bersifat, bagaimana ia berkata, bagaimana ia berbuat. Syukur adalah landasan kontribusinya, menggerakkan hari-harinya. Maka ia tak lagi memandang sebuah amalan sebagai sesuatu yang remeh temeh, tidak lagi memahami kehidupan sebagai hanya sejumput nikmat yang sudah sepatutnya ia terima.

Maka seorang Generasi Rabbani, akan menjalani keseluruhan hidupnya dalam ketaatan tak berbilang hanya kepada-Nya, sebagai wujud rasa terima kasih tak berhingga atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

.

Generasi Rabbani, dalam lantunan syukur kepada-Nya. Dunia Islam tengah menanti kebangkitannya… dan dapatkah kita menjadi bagian darinya?

[membingkai memori] Selalu Terpatri

membuka mata

atas waktu, tuk bernapas kembali.

membias mentari mengintip dari jendela

——atas kesempatan, tuk rasakan cahaya pagi.

mengawali langkah pertama

———atas kemurahan, tuk kembali awali hari.

 

pada-MU, selalu teringat. Seharusnya.

 

bercengkrama dengan teman sejawat

atas perizinan, tuk miliki teman senasib sepenanggungan.

bercandaria dengan sahabat

——atas pemberian, tuk mereka yang berharga tak tergantikan.

berjalan bersama dengan sosok terdekat

———atas pengertian, tuk belahan jiwa, menggenggam arungi kehidupan.

 

pada-MU, takkan terlupa. Semoga.

 

—setiap tetes darah yang mengaliri nadi setiap pandang yang menyejukkan hati suara-suara yang terdengar hiasi hari aroma yang terhantar menyenangkan diri langkah yang terayun kian pasti kejutan-kejutan yang menghiasi pencarian ini semua nikmat semua kemurahan semua kebaikan semua petunjuk yang selalu mengarahkanku dalam setiap perjalanan hidup ini…

.

.

.

pada-Mu, selalu terpatri.

syukurku

.

.

Selamanya.

.

.

.

.

[semoga tak hanya dalam puisi saja]