Generasi Rabbani, dalam Lantunan Syukur Pada-NYA

dalam rangka PEGAS 2011

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim/14:7)

Sepenggal ayat di atas tidaklah asing, bahkan jika seseorang mengingat pelajaran Agama Islam yang didapatnya semenjak duduk di bangku sekolah dasar, mungkin ayat ini—minimal artinya—telah ia hapal di luar kepala. Jika dihubungkan, maka seharusnya seiring hapal, konteks ayat ini pun telah diingat di luar kepala.

Mengenai apa?

Jawabannya adalah syukur. Ya, Allah SWT telah dengan jelas menegaskan dalam surat Ibrahim ayat 7 bahwa jika kita bersyukur, maka nikmat akan ditambahkan, dan jika kita ingkar, maka azab Allah SWT sangatlah pedih. Surat Ibrahim ayat 7 hanyalah satu dari keseluruhan kutipan mengenai syukur yang bertebaran di sepanjang Al-Qur’an. Bersama dengan kata syukur, bisanya terangkai kata ‘nikmat’, menandakan sebuah hal yang harus kita syukuri.

Secara terminologi, syukur berasal dari bahasa Arab, ‘syukron’ dengan arti terima kasih. Beberapa ulama lain berpendapat bahwa syukur berasal dari kata ‘syukara’ yang berarti membuka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri, syukur memiliki dua makna, yaitu berterima kasih kepada Allah SWT, dan merasa lega atau senang. Adapun benang merah dari keseluruhan pengertian tersebut adalah bahwa syukur mengungkapkan atau membuka sebuah ucapan atau perasaan terima kasih atas kemudahan atau nikmat yang telah diberikan.

Kepada siapa harus bersyukur? Jawabannya tentulah jelas, insya Allah telah sama-sama terpahamkan bahwa tak ada yang lebih hebat dari Allah SWT dan segala KeMahaKuasaannya. Maka, tidaklah sepatutnya ada pihak yang lebih layak dihaturkan terima kasih daripada Sang Khaliq. Sebab jika Ia tidak berkehendak, maka bukan hanya tidak berjalan dengan baik, bahkan keseluruhan diri dan hidup kita pun tidak akan pernah ada. ‘Kun fayakun!’ Jadi, maka jadilah! Bukankah selama ini kita hidup dan berjalan sesuai dengan titah dan kehendak-Nya?

Metode untuk bersyukur pun tak terhingga banyaknya. Yang paling ringan adalah mengucapkan alhamdulillahirabbil’alamin atas semua nikmat dan kemudahan yang telah Allah SWT berikan dalam hidup kita. Selanjutnya, yang tidak boleh terlupa, tentunya dengan mengiringi ucapan syukur itu dengan perbuatan yang selaras. Mudah untuk dikatakan namun dapat menjadi sulit untuk dilakukan: melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Atau bahasa lebih ringkasnya adalah menjalani hidup sesuai dengan tuntunan-Nya.

Adalah sebuah fakta yang diakui bersama bahwa remaja, pemuda, keseluruhan generasi muda, adalah iron stock yang akan menentukan masa depan dunia. Kelakuan dan pandangan remaja dan pemuda saat ini akan mencerminkan bagaimana mentalnya kelak, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi saat mereka akan menjadi ‘pengendali’ dunia. Berhasil atau tidaknya dunia melalui krisis yang menimpanya kelak akan bergantung pada seteguh apa remaja dan pemuda saat ini dalam menjalankan kesehariannya.

Jika kita melebarkan sudut pandang dan melihat kenyataan pada ummat Islam saat ini, mungkin kita akan melihat sesuatu yang cukup miris. Mengapa? Karena fakta yang cukup umum terlihat adalah semakin banyaknya generasi muda yang jauh dari Islam. Generasi muda Islam mulai terlihat seperti sabda Rasulullah saw, yaitu seperti buih di lautan. Mereka banyak, namun mudah untuk dikalahkan, apalagi dihilangkan.

Apa yang menjadi penyebab hal tersebut? Jawabannya tak lain karena generasi muda saat ini cenderung memiliki keterkaitan batin yang kurang dengan dien-nya, dengan Sang Pencipta. Jangankan untuk selalu mengucapkan terima kasih pada Sang Khaliq atas segala kemurahannya, bahkan mereka belum mampu untuk mendayagunakan semua nikmat yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntutan Islam. Hal inilah yang menyebabkan generasi muda Islam lemah, dan menjadi sasaran ghowzul fikr oleh pihak-pihak yang senantiasa memusuhi dan ingin menghancurkan Islam.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kita tidak seharusnya menilai sebuah komunitas dengan memukul rata, karena di balik keboborokan akhlaq remaja dan pemuda saat ini, masih dapat ditemukan mereka yang berusaha teguh dalam menjalankan keyakinannya. Mereka yang memiliki ikatan kuat dengan Rabb-nya. Mereka yang merupakan secercah cahaya yang akan menerangi masa depan kelak, sang Generasi Rabbani.

Generasi Rabbani ini, seperti yang dikutip dalam Surat Al-Maidah ayat 54, merupakan kaum yang dicintai dan mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, keras terhadap orang kafir, berjihad di jalan Allah, tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Poin penting pertama yang dapati digarisbawahi adalah bahwa Generasi Rabbani ini dicintai oleh Allah, dan mereka pun mencintai-Nya.

Bagaimanakah menjadikan rasa cinta dalam kedua pihak (antara Sang Khaliq dan makhluk-Nya) ini menjadi sama kuat dan bergelora?

Jawabannya dapat kita kembalikan pada definisi bagaimana seharusnya manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah. Lebih dekat lagi, beribadah adalah kebutuhan sang makhluk, karena melalui ibadahnya lah ia dapat mengomunikasikan sebuah terima kasih yang tak berhingga pada Sang Khaliq. Maka dapat disimpulkan, Generasi Rabbani adalah mereka yang pandai bersyukur.

Syukur, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bermakna mengungkapkan rasa terima kasih tak berhingga pada sang Ilah, pada Allah. Lautan syukur, lantunan terima kasih inilah yang digelorakan oleh sang Generasi Rabbani dalam setiap detik kehidupannya, melalui setiap tarikan napasnya, dan mengejawantah dalam seluruh kesehariannya. Syukur itu terlihat dari bagaimana ia bersifat, bagaimana ia berkata, bagaimana ia berbuat. Syukur adalah landasan kontribusinya, menggerakkan hari-harinya. Maka ia tak lagi memandang sebuah amalan sebagai sesuatu yang remeh temeh, tidak lagi memahami kehidupan sebagai hanya sejumput nikmat yang sudah sepatutnya ia terima.

Maka seorang Generasi Rabbani, akan menjalani keseluruhan hidupnya dalam ketaatan tak berbilang hanya kepada-Nya, sebagai wujud rasa terima kasih tak berhingga atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

.

Generasi Rabbani, dalam lantunan syukur kepada-Nya. Dunia Islam tengah menanti kebangkitannya… dan dapatkah kita menjadi bagian darinya?

(dan lagi-lagi kita akan bicara) Tentang Cinta

bosan?

hehe, jangan menghela napas duluan begitu, dong. memang, lima huruf ini seolah-olah benar-benar berputarputar dalam topik semua orang di sekitar kita, kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja.

tapi menurut saya itu wajar, mengingat memang cinta yang menjadi pondasi hidup kita. akui saja, jika bukan karena cinta-NYA pada kita, hamba-NYA yang hina ini, mana mungkin IA mau memberikan sekian banyak anugerah yang tak terhitung dalam hidup kita?

masalahnya adalah… sebagai seorang hamba, sudah benarkah cinta kita?

atau selama ini cinta kita hanya definisi sempit belaka?

..

..

materi ini saya dapatkan waktu asistensi PAI, bersumber dari salah satu buku karangan Burhan Sodiq, berjudul ‘Ya Allah, Aku Jatuh Cinta! (mengelola cinta tanpa harus terkena dosa)

*btw, hihi, judul bukunya provokatif banget yah.”

.

jadi.. menurut Ibnul Qoyyim,

.

PERINGKAT CINTA

.

1. Tatayyum

berarti cinta hanya kepada Allah SWT. cinta ini harus menempati peringkat paling atas, peringkat paling pertama. tidak bisa ditawar, karena memang hanya DI-lah Rabb kita, tempat kita menggantungkan segalanya. sangat amat tidak diperkenankan untuk mencintai yang utama selain-NYA…

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah/2:165)

.

2. ‘Isyk

berarti cinta kepada junjungan kita, Rasulullah saw. cinta ini menempati peringkat kedua setelah cinta kita kepada Sang Khaliq, dan memang hak Resulullah untuk mendapatkannya…. cinta itu termasuk di dalamnya sikap hormat, patuh, ingin membela, tetapi tidak menuhankannya. posisi Rasulullah adalah sebagai tauladan, sebagai role model bagi seluruh kaum muslimin dalam menjalani kesehariannya.

.

3. Syauq

cinta seorang mukmin kepada mukmin lainnya dengan ikatan yang bersifat lahiriyah, sebagai contohnya antara suami-istri, orang tua dan anak, kakak dan adik, dan sebagainya. inilah wujud cinta kita pada keluarga kita, menempati urutan ketiga.

.

4. Shababah

berarti cinta sesama muslim yang darinya melahirkan ukhuwah islamiyah… cinta ini murni pada sesama muslim dari tali Islam. untuk menjalankan cinta ini, tentunya dibutuhkan kesabaran untuk menerima segala perbedaan, mengingat beragamnya kaum muslimin yang berjalan bersama-sama dengan kita…

.

5. ‘Ithf

rasa ini diberi nama simpati. ia ditujukan bagi siapa saja, muslim ataupun bukan, ia ditujukan bagi seluruh manusia. simpati adalah rasa yang mencuat tatkala melihat sesama manusia tertimpa musibah atau diuji.. dan simpati inilah yang mendasari dakwah kita, simpati pada seuruh manusia dan ingin semuanya dapat merasakan indahnya cahaya-NYA.

.

6. Cinta kepada Harta Benda

ini merupakan wujud cinta yang paling rendah dan sederhana.. sebab kadar cintanya hanyalah terbatas pada usage atau daya guna harta benda tersebut. sepatutnya, kita gunakan rasa cinta ini untuk meraih cinta yang utama di atas, tidak berlebihan apalagi mendahului prioritas pertama.

.

.

Lantas, bolehkah kita jatuh cinta?

boleh tentunya… cinta adalah manusiawi, sangat fitrah bagi semua manusia. hanya saja, jagalah cinta itu hingga ia tetap berada pada koridor yang tepat hingga kita sampai di muara yang halal untuk meluahkannya, di mana meluahkan cinta berarti ibadah, dan dapat semakin mendekatkan diri kita pada rahmat dan ampunan-NYA…

.

.

“Barangsiapa jatuh cinta, lalu menyembunyikan cintanya, menahan diri, bersabar lalu meninggal dunia maka ia mati syahid.”

.

.

.

dan pertanyaannya…

.

sudah sesuaikah peringkat cinta kita?

Akhwat – dan Ikhwan Sejati..

Akhwat Sejati

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari kecantikan parasnya…

Tetapi dari kecantikan hati yang ada dibaliknya…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari bentuk tubuh yang mempesona…

Tetapi dari sejauh mana dia berhasil menutup tubuhnya…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari begitu banyaknya dia melakukan kebaikan…

Tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan itu…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya…

Tetapi dari apa yang sering mulutnya bicarakan…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari keahliannya berbicara…

Tetapi dari bagaimana caranya berbicara….

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian…

Tetapi dari sejauh mana dia mempertahankan kehormatannya…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang dijalan…

Tetapi dari kekhawatiran dirinya yang membuat orang tergoda…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari seberapa banyak dan besar ujian yang dijalani…

Tetapi dari sejauh mana dia menghadapi ujian dengan kesabaran…

@};-Akhwat Sejati… Bukan dilihat dari sifat supelnya bergaul…

Tetapi dari sejauh mana dia menjaga kehormatannya dalam bergaul…

@};-Akhwat Sejati… adalah akhwat yang mampu menjaga izzah-nya…

 

sudah membacanya dari lama, tapi tetap tersindir juga.. heu.

semoga saya –dan teman-teman akhwat yang lain– dapat menjadi akhwat sejati itu…

 

..

..

kalau ikhwan?

ada..

“Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari badannya yang kekar,
tetapi dari kasih sayangnya pada orang lain di sekitarnya.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat kerja,
tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
tetapi dari hati yang berada di baliknya itu.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja,
tetapi dilihat dari komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan,
tetapi dari tabahnya ia menjalani liku-liku kehidupan.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya ia membaca Al Qur’aan
tetapi dari istiqomahnya dalam melaksanakan apa yang ia baca.

–dari terjemahan bebas: Deshinta Arrova Dewi, MaPi no I th. III Jan 2000–

 

bagaimana? tersindir jugakah?

semoga bisa jadi ikhwan sejati juga ya… :)

Manajemen Komunikasi (Materinya)

Fakta: 70% dari kehidupan manusia adalah komunikasi.

Komunikasi Efektif
1. Pemberi dan penerima pesan berpandangan sama
2. Pemberi dan penerima pesan dapat membuka percakapan selanjutnya
3. Pemberi dan penerima pesan saling mengerti dan memahami
4. Suasana saat berkomunikasi hangat dan akrab

Pentingnya Berkomunikasi
1. Dapat menyampaikan materi
2. Dapat menyalurkan emosi
3. Dapat menimbulkan rasa percaya diri
4. Akan menimbulkan perasaan dihargai

Cara Berkomunikasi Efektif
1. Pahami kondisi emosi diri sendiri saat hendak berkomunikasi
2. Pahami kondisi orang lain (target bicara)
3. Jangan menyela atau memotong pembicaraan

Hambatan Komunikasi Efektif
1. Komunikasi gaya komandan
2. Komunikasi gaya penceramah
3. Komunikasi gaya sok tahu
4. Komunikasi gaya hakim
5. Komunikasi gaya nyindir
6. Komunikasi gaya pemeriksa
7. Komunikasi gaya penghibur

Penting dalam Berkomunikasi –> empati

Hasil Komunikasi Efektif
1. Dapat menjalin hubungan baik dengan lawan komunikasi
2. Dipercaya oleh lawan komunikasi
3. Orang yang berkomunikasi akan lebih terbuka
4. Dapat dipahami oleh lawan komunikasi
5. Terbiasa untuk tidak berbicara dengan gaya bahasa yang dibenci
6. Menimbulkan dan menunjukkan kepedulian
7. Awal dari sebuah kerja sama yang baik

——————————-

So, sudahkah kita belajar untuk berkomunikasi secara efektif?
n_n

Tentang Jilbab

Jilbab

Mereka berdiri disana dengan celana pendeknya, sangat pendek, super pendek
Yang mereka anggap sebagai model terkini
Sedangkan aku disini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Mereka berdiri disana dengan lautan make up di wajahnya
Yang mereka percayai sebagai kebebasan berekspresi
Sedangkan aku disini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Mereka masih berdiri disana dengan rambut basah oleh gel berwarna warni
Penuh dengan unsur kimia yang mereka anggap sebagai kemurnian jiwa
Sedangkan aku disini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Mereka berdiri disana dengan berdua, sangat dekat dengan kekasihnya
Yang membuat mereka sanggup memberikan segalanya
Sedangkan aku disini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Dan mereka berdiri disana asyik berbicara untuk membeli celana pendek model terbaru,
Pewarna rambut yang paling trendi, bahkan cara mendapatkan pacar baru
Yang mereka anggap sebagai memahami keindahan Tuhan dan ekspresi cinta
Sedangkan aku disini berdiri tegak dan bangga dengan jilbabku

Karena jilbabku inilah pelindungku, kekasihku, kesetiaanku, kemurnianku,
kecantikanku, dan alatku untuk terus mengingat Allah
Saat aku meletakkan jilbab di atas kepalaku
Aku tahu segala kesesatan yang dibawa oleh setan akan dilenyapkan
Jilbab bukan sekedar pelengkap penampilan
Jilbab juga bukan tameng untuk menutupi kekurangan
Jilbab adalah suatu bentuk pengabdian dan cerminan seorang wanita
Untuk menyamarkan keindahan raganya serta pengamalan dari apa yang ia pelajari
Ya Allah…
Semoga aku bisa menjaga keikhlasannya…

——————

got from somewhere… err.. the truth is, my friend gives me this text ^_^